Dari “Ibu” ke Semestakung: D. Zawawi Imron dan Jalan Sunyi Peradaban

Dari “Ibu” ke Semestakung: D. Zawawi Imron dan Jalan Sunyi Peradaban

Menyigi Jejak Sunyi dari Madura
Di balik suara lirih seorang penyair, seringkali tersimpan gema peradaban. Salah satu suara itu datang dari Pulau Garam, Madura, melalui sosok D. Zawawi Imron. Ia bukan hanya penyair yang menulis puisi, tetapi seorang santri yang menghidupi syair sebagai laku hidup.

Kehadirannya dalam kesusastraan Indonesia tidak bersandar pada gebyar promosi, tetapi pada kedalaman makna dan kesederhanaan bahasa. Dalam dunia yang semakin gaduh oleh opini dan sensasi, Zawawi meniti jalan sunyi: jalan kebudayaan, jalan spiritualitas, jalan pengabdian.

Puisi Ibu adalah pintu yang mengantarkan nama Zawawi Imron ke jantung pembaca Indonesia. Ditulis saat usianya sekitar dua puluh tahun, puisi itu menjadi semacam doa dan pengakuan yang abadi. Hampir tak ada generasi yang tak mengenalnya, dari ruang kelas sekolah hingga mimbar kesusastraan. Ia bukan hanya puisi tentang kasih sayang seorang ibu, melainkan semacam syahadat puitik tentang cinta, pengorbanan, dan asal-usul manusia. Ibu adalah teks spiritual yang merangkul pembaca dari berbagai latar, dari anak-anak hingga kaum ibu, dari santri hingga penyair.

Namun, karya Zawawi tak berhenti di sana. Puisi itu hanya gerbang menuju dunia yang lebih luas: dunia nilai-nilai sufistik, etos santri, dan keyakinan akan keterhubungan manusia dengan semesta. Konsep semestakung—semesta mendukung—yang ia populerkan bukan sekadar motivasi, tetapi sintesis dari pengalaman spiritual dan kebudayaan.

Esai ini hendak menyigi jejak-jejak itu: dari puisi “Ibu”, menuju visi semestakung, hingga laku hidup Zawawi Imron sebagai penjaga jalan sunyi peradaban.

Pintu Puisi: Ibu sebagai Doa dan Kesaksian
Puisi Ibu ditulis D. Zawawi Imron pada tahun 1966, saat usianya sekitar dua puluh tahun. Ia baru saja mengalami pergolakan batin: sebuah kerinduan yang meruncing kepada ibunya di Madura, di tengah perantauan dan proses penemuan jati diri sebagai penyair muda. Peristiwa batin itu bukan sekadar rindu biologis, tetapi rindu eksistensial; kerinduan kepada asal-usul, tempat berpulang, dan makna hidup yang tak mudah dijelaskan dengan kata-kata biasa. Maka ia menulis puisi, sebagai jalan pulang batiniah yang lirih dan tulus.

Secara bentuk, puisi ini menggunakan teknik enjambemen, baris-barisnya tidak terhenti pada satuan kalimat, tetapi mengalir bebas dan lentur, sebagaimana air mata dan kenangan. Diksinya sangat alami, bahkan nyaris tanpa metafora yang rumit. Namun justru di situlah letak kekuatannya: kesederhanaan menjadi kendaraan spiritual, dan bahasa sehari-hari berubah menjadi doa. Setiap bait terasa seperti fragmen pengakuan, pengharapan, dan pengabdian. Ia menulis dengan perasaan suci, dan itulah yang sampai kepada pembaca.

"Ibu”, dalam puisi ini, bukan hanya tokoh biologis. Ia menjelma sebagai simbol rahmah (kasih sayang ilahiah), sebagai gua pertapaan, sebagai samudera kehidupan, bahkan sebagai pahlawan. Ibu adalah perantara antara langit dan bumi—sebagaimana tergambar dalam bait: “Ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi / aku mengangguk meskipun kurang mengerti.” Simbolisasi ini menempatkan ibu sebagai sosok kosmis: penjelmaan cinta Tuhan yang paling dekat dan nyata dalam hidup manusia. Melalui ibunya, Zawawi belajar mengenal Tuhan.

Lebih jauh, puisi “Ibu” merupakan epistemologi kultural. Ia bukan sekadar ekspresi emosi, tetapi tata cara memahami dunia. Nilai-nilai kebaikan, pengorbanan, dan keikhlasan tidak diajarkan melalui doktrin, tetapi melalui pengalaman. Zawawi menyusun sistem nilai berdasarkan pengalaman batin yang bersumber dari kasih seorang ibu, dan dari sanalah tumbuh spiritualitas yang berpijak pada tanah, tubuh, dan air mata. Dengan puisi ini, ia menunjukkan bahwa puitika bisa menjadi jalan untuk menampung kearifan lokal yang spiritual, bukan sekadar estetika.

Semestakung: Visi yang Telah Ada Sejak Mula
Istilah semestakung, singkatan dari “semesta mendukung”, kian hari semakin populer sebagai slogan motivasi. Namun bagi D. Zawawi Imron, makna semestakung bukanlah sekadar pepatah penggugah semangat atau jargon pelatihan. Ia adalah pandangan hidup, keyakinan batin bahwa alam raya bukan benda mati yang pasif, melainkan entitas hidup yang bersuara dan bisa menjadi sahabat rohani.

Jika manusia hidup selaras, tidak congkak terhadap bumi, tidak lupa asal-usul, dan menyatu dalam irama kehidupan yang suci, maka seluruh semesta akan hadir sebagai pendukung diam-diam: menjadi angin yang menyejukkan, matahari yang menghangatkan, bahkan hujan yang menyembuhkan luka batin.

Konsep ini erat dengan ajaran-ajaran sufistik yang akrab bagi Zawawi sejak kecil. Ia hidup dalam tradisi pesantren, tapi juga menyatu dengan tanah, laut, dan debur angin Madura. Dari situ ia menyerap nilai-nilai seperti tawakal (berserah diri sepenuh hati), ikhlas (melepaskan pamrih), dan fana (lenyapnya ego dalam kebesaran Ilahi). Dalam visi semestakung, manusia bukan pusat segalanya, melainkan bagian dari jejaring agung kehidupan. Maka hidup bukan soal menaklukkan dunia, melainkan menyelaraskan diri dengan dzikir semesta.

Puisi-puisi Zawawi menyuarakan pandangan ini dengan cara yang tenang namun menghunjam. Dalam sajak-sajaknya, alam bukan sekadar latar, melainkan mitra spiritual. Laut bisa bicara, angin bisa menegur, dan batu bisa mengandung hikmah. Ia tidak menulis tentang pemandangan, tetapi mengajak pembaca untuk mendengarkan suara dalam pohon dan debu. Hal ini tampak dalam puisinya Indonesia Tanah Sajadah yang bumi Indonesia dihadirkan bukan hanya sebagai tanah air, tetapi sebagai hamparan sujud tempat manusia menundukkan diri secara spiritual: tanah yang mengajak manusia kembali kepada kesadaran asal dan kehambaan.

Gaya bahasa Zawawi tidak pernah menggertak atau menggurui. Ia menulis dengan kelembutan yang lahir dari kepercayaan bahwa kata-kata tidak harus berteriak untuk didengar. Kesederhanaan itu menjadi pintu masuk menuju kesadaran batin yang lebih dalam, dan dari sanalah pembaca mulai menyadari: bahwa yang paling sunyi sering kali adalah yang paling jujur.

Jalan Budaya dan Sastra Santri
D. Zawawi Imron lahir dari rahim kultur pesantren, suatu ruang spiritual dan kultural yang sering dianggap sunyi dalam peta besar kesusastraan Indonesia modern. Namun dari sunyi itulah, suara Zawawi menjelma gema yang menembus batas-batas lokalitas. Puisinya tak hanya menggema di mimbar-mimbar kampus atau forum-forum nasional, tetapi juga menembus batas internasional: dibacakan di panggung budaya Eropa, Asia, hingga Amerika. Ia membuktikan bahwa kesusastraan yang lahir dari bilik-bilik santri dan langgar-langgar kecil tak pernah benar-benar kecil; ia hanya menunggu waktu untuk diakui sebagai pilar sejati peradaban.

Salah satu kekuatan utama Kiai Zawawi Imron adalah kemampuannya menjembatani dua dunia: bahasa religius-santri dengan ranah sastra profan yang sekuler. Ia tidak menggurui, tapi menyulam nilai-nilai ketauhidan dalam diksi-diksi puitik yang komunikatif. Melalui sajak-sajaknya, Zawawi menunjukkan bahwa spiritualitas tidak harus dibungkus dogma, melainkan bisa diungkapkan melalui kelembutan metafora dan irama yang merasuk. Bahasa langit yang ia pakai tetap membumi; dan justru karena itu, ia menjangkau hati yang lebih luas, lintas iman dan latar sosial.

Zawawi bersahabat dekat dengan para tokoh Nahdlatul Ulama seperti Gus Dur, dan sekaligus menjalin komunikasi intens dengan para sastrawan nasional dari berbagai latar ideologis. Namun yang menarik, dalam segala lintasan pergaulannya, ia tak pernah meninggalkan akar Maduranya. Bahasa Madura baginya bukan sekadar alat, tapi jiwa. Banyak puisinya menggunakan kosakata lokal sebagai penanda identitas, semacam tonggak budaya yang tidak ingin dicabut dari tanahnya.

Melalui perjalanan dan karya Zawawi, kita bisa membaca bahwa sastra santri bukanlah milik pinggiran. Ia adalah bentuk kearifan yang telah terbukti tahan terhadap zaman, menyimpan ingatan, menjaga nilai, dan menyalakan pelita ruhani di tengah kegelapan zaman.

Puncak Pengakuan: Dari Sunyi ke Panggung Apresiasi Nasional
Zawawi Imron tidak menulis untuk tenar. Ia menyusun kata sebagaimana orang menyusun doa, dalam kesunyian yang sabar. Namun justru karena kesetiaan terhadap jalan sunyi itulah, puisinya menembus ruang-ruang paling tinggi, bukan karena dipaksakan, melainkan karena pantas dirayakan.

Tahun 2018, dalam Kongres Kebudayaan Indonesia, Presiden Joko Widodo menyerahkan langsung penghargaan kepada empat tokoh penting: dua budayawan dan dua sastrawan. Di antara mereka adalah Putu Wijaya dan D. Zawawi Imron. Peristiwa ini menandai pengakuan negara atas sumbangsih besar keduanya bagi kebudayaan nasional. Zawawi hadir bukan dengan gemerlap, tetapi dengan keteduhan kata dan senyum yang bersahaja.

Lima tahun kemudian, Zawawi kembali menjadi sorotan publik saat ia menerima Penghargaan Achmad Bakrie ke-20 Tahun 2024 dalam bidang Seni dan Budaya (Sastra). Penghargaan ini diberikan bersama empat tokoh inspiratif lainnya: Jusuf Wanandi (Pemikiran Sosial), Afriyanti Sumboja (Sains dan Teknologi), dr. Harapan (Kesehatan), dan Grandprix Thomryes (Ilmuwan Muda). Acara penghargaan ini menjadi ruang reflektif bahwa karya yang jujur dan bernapas panjang akan tetap bernilai, bahkan lintas generasi. Hadir pula mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai simbol apresiasi dari kalangan negarawan.

Zawawi tidak banyak bicara. Pidatonya tetap dalam irama khasnya: lembut, jujur, dan menggugah. Ia hanya menegaskan bahwa menulis adalah bagian dari ibadah. Simbolisme dari Madura ke Istana, dari pantai Sumenep ke pentas budaya nasional, bukanlah soal pencapaian duniawi, tetapi gema dari ketulusan yang telah lama ditanam.

Inilah pembuktian paling sunyi dari semestakung, semesta yang mendukung bukan karena pamrih, tetapi karena kata-kata yang jujur akan menemukan jalannya sendiri.

Penutup: Sastra sebagai Jalan Iman dan Cahaya
D. Zawawi Imron membuktikan bahwa sastra bukan hanya urusan estetika, tetapi juga laku etika dan jalan spiritualitas.
.....
kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan,
namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
.....

Puisinya lahir bukan dari ambisi, melainkan dari laku batin yang tekun, dari hati yang mencari kebenaran dan kejujuran. Di tangannya, kata-kata menjadi jembatan antara dunia lahir dan batin, antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhannya.

Dari puisi legendaris Ibu hingga pidato lembutnya saat menerima penghargaan, Zawawi konsisten menempatkan sastra sebagai cermin jiwa dan alat penyucian batin. Konsep semestakung bahwa semesta mendukung niat yang jujur—tidak hanya menjadi visi, tetapi juga kesaksian hidup yang telah ia jalani dengan sabar.

Warisan Kiai Zawawi Imron bukan hanya kumpulan puisi, melainkan keyakinan bahwa menulis adalah bentuk ibadah; bahwa menyusun bait adalah cara untuk mengenal diri, memahami semesta, dan mendekat kepada Tuhan. Dalam sunyi, ia menanam kata-kata. Dalam cahaya, puisinya akan terus tumbuh—menerangi siapa pun yang mencintai keheningan dan kebenaran.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.


Editor: Kendi Setiawan
logo