Gus Dur: Dialog dan Lelucon

Gus Dur: Dialog dan Lelucon

Selama puluhan tahun, orang-orang teringat tulisan Gus Dur di majalah, koran, dan buku. Gus Dur itu tulisan. Sekian orang kadang mengingat Gus Dut melalui foto-foto. Ingatan terpenting merujuk 1999. Orang-orang melihat foto Gus Dur mengenakan jas sebagai Presiden RI. Busana itu tampak “membebani”, membuat gerak Gus Dur terbatas. Foto paling teringat berkaitan dengan masa keberakhiran Gus Dur (2001) di Istana Kepresidenan justru menampilkan pakaian sederhana. Gus Dur bercelana pendek.   

Kita tergoda melihat lagi foto Gus Dur dalam penampilan resmi. Di majalah Tempo, 10 April 2000, kita melihat sampul depan menampilkan foto Gus Dur dan Megawati. Foto itu tampak biasa. Orang bakal tercengang bila mencermati foto tokoh berbusana jas di tangga Istana Kepresidenan. Jumlah tokoh berdiri itu belasan. Kecermatan melihat foto “resmi” bakal menghasilkan kejutan. Semua lelaki di foto itu (berwajah) Gus Dur. Dua perempuan dalam tampilan berbeda itu Megawati. Penggarap sampul menggoda: Gus Dur dalam pelbagai peran untuk mengurusi Indonesia. Judul dicantumkan di sampul majalah turut memberi penjelasan meski tak lengkap: “Kabinet Ekonomi Sejuta Gus Dur.” 

Kita mengingat foto sejenak saja, berlanjut membaca beragam berita mengenai Gus Dur dalam kesulitan-kesulitan saat menjadi Presiden RI. Redaksi menerangkan: “Ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diangkat menjadi presiden, ia mendapat tiga ancaman serius sebagai warisan dari pemerintah sebelumnya. Itulah perilah 3 D: distintegrasi bangsa, dominasi militer, dan defisit anggaran.” Gus Dur dalam situasi berat. 

Gus Dur wajib memikirkan pelbagai masalah dan menentukan kebijakan. Cara berbahasa Gus Dur sudah bikin keributan. Ia malah mendapat serangan dan ejekan. Gus Dur mahir omong tapi sering menimbulkan debat dalam kekuasaan. Kebijakan dibuat Gus Dur makin bikin publik pusing dan geleng-geleng kepala. Presiden RI sedang membuat “kebingunan” nasional.

Pada saat orang-orang sulit memahami Gus Dur, pihak Tempo mengadakan bujukan agar kaum bingung membaca tulisan-tulisan (lama) Gus Dur. Dulu, ia rajin menulis kolom di majalah Tempo. Gus Dur sebagai Presiden RI ditanggapi dengan penerbitan kumpulan kolom dijadikan buku berjudul Melawan Melalui Lelucon. Buku bisa menjadi pedoman mengerti Gus Dur saat berkuasa. 

Di majalah Tempo, ada tawaran: “Tak perlu bertemu langsung dengan Gus Dur untuk mengerti cara berpikirnya. Cukup dengan membaca kumpulan kolom Gus Dur.” Buku bisa diperoleh secara gratis bila orang membeli empat edisi majalah Tempo. Logika sederhana: membeli empat majalah mendapat hadiah satu buku. Tempo mengerti “kebingungan nasional”. Buku diharapkan sedikit mengurangi keributan gara-gara omongan-omongan Gus Dur. 

Buku itu seolah “membenarkan” Gus Dur suka membuat lelucon. Pada babak awal berkuasa, Gus Dur dituduh bikin onar. Ia berucap: “DPR sulit dibedakan dengan taman kanak-kanak.” Gus Dur bercanda tapi reaksi dari elite politik di legislatif berlebihan, disokong oleh musuh-musuh Gus Dur. Pihak marah dan kecewa menganggap Gus Dur melakukan pelecehan lembaga DPR. Pihak berani mesem menilai Gus Dur sedang memberi kritik “lucu” kepada DPR. Konon, Gus Dur mengartikan omongan itu sekadar lelucon. 

Pihak Tempo (Interaktif) ingin mengetahui kebenaran sikap publik terhadap omongan Gus Dur. Jajak pendapat diadakan saat keributan membesar. Hasil terbaca dalam majalah Tempo, 5 Desember 1999: “68,2% menjawab tidak melecehkan, 28,8 persen menjawab melecehkan, dan 3 persen menjawab tidak tahu.” Gus Dur belum selesai dengan lelucon-lelucon. Ia memang Presiden RI tapi lelucon telah mandarah-daging meski mudah menimbulkan dampak-dampak buruk. 

Kita mundur dulu: 1998. Pada tahun paling mendebarkan, Gus Dur mengurangi lelucon tapi melakukan tindakan-tindakan berani dan besar untuk Indonesia. Ia menjadi tokoh (paling) rajin mengadakan dialog demi persatuan Indonesia setelah kejatuhan rezim Orde Baru. 

Di majalah D&R, 26 Desember 1998, kita membaca kesibukan Gus Dur datang ke pelbagai tempat menemui tokoh-tokoh: “Ketika orang cuma omong soal kerukunan, kesatuan, dan persatuan nasional, ia berbuat. Dan, karena itu, Gus Dur pun siap ‘dihukum’. Ia siap dicaci maki, dihina, diapakan saja sebagai orang tak berprinsip, oportunis, pengkhianat, dan lain-lain.” Gus Dur bertemu dengan para tokoh berseberangan sikap politik. Keinginan Gus Dur: Indonesia tak pecah atau makin amburadul. 

Peran berisiko itu wajib dikenang sebelum Gus Dur menjadi Presiden RI. Masa lalu itu masih terbaca: “Gus Dur bertemu Benny Moerdani dan Soeharto untuk menggagas dialog nasional tapi pemerintah sinis.” Pada situasi pelik, BJ Habibie sebagai Presiden RI mendapati ulah politik Gus Dur atas nama Indonesia. Kita wajib mengingat hari bersejarah saat Gus Dur menemui Benny Moerdani dan Soeharto: 19 Desember 1998.

Pada akhir 1998, Gus Dur menilai bakal ada kemungkinan revolusi di Indonesia. Istilah besar dan beredar memang reformasi. Gus Dur memahami reformasi belum jelas. Situasi buruk mengakibatkan pelbagai pihak mulai membesarkan gairah revolusi. Gus Dur pun memilih dialog nasional untuk mencegah revolusi biasa menimbulkan darah dan balas-dendam. “Dialog tak ada, revolusi sosial,” kata Gus Dur.

Di majalah D&R, 19 Desember 1998, kita membaca jawaban Gus Dur saat diwawancarai wartawan mengenai misi mengadakan safari politik menemui para tokoh: “Tujuan akhir saya simpel sekali. Negara ini sedang berjalan dan dengan sendirinya akan menuju kepada revolusi sosial. Menghindari hal itu perlu dialog. Perlu rekonsiliasi. Artinya, kalau dialog ini tak ada, akan terjadi revolusi sosial. Orang lain boleh bilang pendapat saya ini terlalu didramatisasi segala macam, tapi memang itulah kenyataannya.” Kita mengartikan peran Gus Dur pada bulan-bulan paling menegangkan itu “melebihi” peran Presiden RI.  

1998 berlalu, Gus Dur telah berperan besar dalam gairah dan lelah agar Indonesia tegak dan bersatu. Pada 1999, situasi tetap sulit. Gus Dur “malah” menjadi Presiden RI. Ia terus menginginkan Indonesia damai akibat malapetaka 1998. Kita mengenang masa sulit itu melalui perkataan Gus Mus. Kalimat-kalimat Gus Mus dikutip dalam majalah D&R, 25 Oktober 1999: 

“Itu harus dihadapi, itu risiko orang memperjuangkan keyakinan untuk bangsa. Komitmen Gus Dur dan para kiai itu yang pertama adalah untuk Indonesia. Apa pun untuk Indonesia. Bersedia mengorbankan apa saja untuk keutuhan Indonesia.”

Gus Dur menjadi Presiden RI terus mengadakan dialog-dialog. Ia pun sempat memberi lelucon meski ditanggapi beragam oleh elite politik dan publik. 1998 dan 1999 mengingatkan kita tentang dialog dan lelucon. Gus Dur tetap tokoh sulit dipahami saat mengharapkan Indonesia bersatu dan mulia. Begitu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
logo