Meneladani KH Ahmad Djazuli: Istiqomah Ngaji Meski Sudah Jadi Kiai

Meneladani KH Ahmad Djazuli: Istiqomah Ngaji Meski Sudah Jadi Kiai

Arina.id - Pesantren Al-Falah Ploso adalah pesantren yang menurut catatan arsip didirikan oleh KH Ahmad Djazuli Usman dan dihadiri oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asyari pada 1 Januari 1925. Ini berarti pesantren Ploso telah berusia 1 Abad, usia yang tidak muda namun keramat.

Selama 100 tahun lamanya, pesantren yang terletak di dekat kali Brantas ini telah membuktikan betapa besar kontribusi dan perjuangannya menjaga lentera ta'lim wat ta'allum yang merupakan mandat langsung dari Hadratus Syekh KH. Hasyim Asyari kepada KH. Ahmad Djazuli Usman.

Berbekal keilmuan yang didapatkan dari KH. Zainuddin Mojosari Nganjuk, KH. Ahmad Soleh Gondanglegi Nganjuk, KH. Dimyati Tremas Pacitan, Pondok Sono, Syaikhana Kholil Bangkalan, Hadratus Syekh Hasyim Asyari dan beberapa ulama lainnya, KH. Ahmad Djazuli berhasil mencetak ulama-ulama tangguh seperti KH. Abdurrahman Khudori Tegalrejo, KH. Fuad Hasyim Buntet, KH. Dahnan Trenggalek, dan lain-lain.

Tidak hanya itu, KH. Ahmad Djazuli juga sukses mendidik putra-putri beliau menjadi pecinta ilmu, pecinta ngaji kitab kuning, kutubutturats seperti KH. Ahmad Zainuddin Djazuli, KH. Nurul Huda Djazuli, Gus Miek, KH. Fuad Mun'im Djazuli, KH. Munif Djazuli, dan Nyai Lailatul Badriyah Djazuli. 

Tentu itu semua tidak terlepas dari berkah doa restu para guru beliau dan komitmen kuat untuk mendedikasikan hidupnya untuk ta'lim wat ta'llum hingga akhir hayat. Singkatnya, mengutip pernyataan KH. Ma'ruf Amin, pesantren Al-Falah Ploso yang didirikan KH. Ahmad Djazuli adalah "Pabrik Pencetak Kiai".

Dalam tradisi pesantren salaf terdapat istilah 'ngaji kitab' yang artinya adalah belajar kitab kuning dengan sistem sorogan dan bandongan. Ngaji model seperti ini dalam pesantren salaf diakui sangat efektif karena ada unsur mulazamah atau keikutsertaan secara kontinyu antara guru dan murid.

Salah satu bukti betapa mendalam kecintaan KH. Ahmad Djazuli terhadap 'ngaji' kitab' dapat ditemukan dalam catatan beliau, tepatnya dalam kitab Isaghuji, sebuah kitab yang membahas tentang ilmu logika atau mantiq karya Imam Atsiruddin Al-Abhari.

Mengutip pendapat Syekh Zakaria Al-Anshari, kitab Isaghuji, merupakan bahasa Yunani yang bermakna kulliyatul khamsah atau istilah lima kategori dalam ilmu mantiq: jinis, nau’, fasl, khassah dan aradh am.

Ilmu mantiq dalam rumpun keilmuan pesantren menempati ilmu kelas berat dan hanya orang tertentu yang dapat menguasainya, termasuk KH. Ahmad Djazuli. Bahkan beliau mencatat telah ngaji kitab Isaghuji dua kali. 

Pertama kepada KH. Hasyim Asyari. Berikut catatan beliau:

الحج احمد جزولي بن عثمان بن سهل فلاسا من ولاية القديري ، كتاب ايساغوجي عاهوس داتڠ كياهي هاشم تبو ايرع جنباع في رمضان سنة ١٣٤٤ هجرية

Artinya: "Haji Ahmad Djazuli bin Usman bin Sahal Ploso dari wilayah Kediri. Kitab Isaghuji ngaji kepada Kiai Hasyim Tebuireng Jombang di bulan Ramadhan tahun 1344 H/1925 M."

Sedangkan ngaji kitab Isaghuji yang kedua kalinya kepada Kiai Masyhud Tremas:

تعلمت ثانيا في رمضان سنة ١٣٤٦ في حضرة شيخنا مشهود في الجامع الترمسي

Artinya: "Saya belajar (kitab Isaghuji) kedua kalinya di bulan Ramadhan tahun 1346 H/ 1927 M di hadapan guru saya, KH. Masyhud fil jami' Al-Turmusi."

Kecintaan ngaji kitab ini kemudian beliau wajibkan kepada putra-putrinya, santri-santrinya sehingga tradisi pengajian kitab kuning di pesantren Al-Falah Ploso tetap terjaga dengan baik sampai saat ini.

Dengan demikian, dua informasi penting ini menunjukkan betapa mendalam kecintaan KH. Ahmad Djazuli terhadap ngaji kitab. Meskipun beliau sudah mendirikan pesantren, menjadi kiai, namun semangatnya untuk ngaji kitab kepada para kiainya tetap tak pernah padam dan menjadi teladan bagi semua. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo