Arina.id ~ Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli meninggal dunia di usia ke-69 tahun. Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat, 10 Desember 1954, ini menghembuskan napas terakhir ketika dalam perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Selasa (2/1/2024) malam.
Kabar duku itu disampaikan staf Rizal, Tri Wibowo Santoso. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah berpulang, bapak/kakek/mertua kami, Rizal Ramli pada tanggal 2 Januari 2024 pukul 19.30 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo," katanya melalui pesan WhatsApp.
Tokoh pergerakan mahasiswa Indonesia era tahun 1977/78 ini merupakan pakar ekonomi dan tokoh perubahan yang pernah mengisi sejumlah jabatan penting di pemerintahan. Terakhir, Rizal Ramli menjabat Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman RI menggantikan Indroyono Soesilo pada 12 Agustus 2015.
Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Rizal Ramli menjabat Menko Bidang Perekonomian, dan Menteri Keuangan pada era Kabinet Persatuan Nasional. Sebelumnya, ia pernah menjabat Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog).
Ketua PBNU non-aktif, Savic Alielha menilai Rizal Ramli adalah sosok yang setia dengan aktivis pergerakan. Bahkan tak jarang memberikan bantuan kepada sesama aktivis yang lebih muda.
“Sebagai seorang pribadi, Mas Rizal adalah sosok yang peduli sama teman-teman pergerakan. Banyak teman yang pernah dia bantu, termasuk aku,” ujar Savic melalui laman media sosialnya.
Savic menuturkan, Rizal telah terlibat sebagai aktivis sejak muda. Ia pernah dipenjarakan Presiden Soeharto dan terlibat dalam beberapa gerakan, termasuk turut dalam demonstrasi besar-besaran menolak investasi asing.
“Meski demikian ia menyelesaikan studinya hingga doktor bidang ekonomi,” lanjut Savic.
Rizal mengenyam pendikan dasar (SD) hingga menengah atas (SMA) di Kota Bogor, Jawa Barat. Setelah itu melanjukan pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Rizal Ramli aktif di berbagai organisasi kampus. Antara lain sebagai President Student English Forum (SEF) ITB, Wakil Ketua Dewan Mahasiswa ITB. Karena seringnya mengkritisi kebijakan rezim Orde Baru, ia pernah dipenjara pada 1978.
Rizal Ramli memutuskan pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan. Ia pun mendapat gelar ekonomi dari Universitas Boston pada 1990.
“Pengetahuannya soal ekonomi dan keberaniannya membuat ia cukup dekat dengan Gus Dur dan dijadikan menteri. Ia selalu vokal, sehingga sering bentrok dengan banyak pihak,” kata Savic.
Savic mencontohkan, ketika Rizal Ramli ditunjuk sebagai komisaris utama Semen Gresik zaman pemerintahan Yudhoyono ia masih sering mengkritik kebijakan SBY, dan saat jadi menteri Jokowi ia juga tak jarang mengkritik sesama pejabat Jokowi.
“Pada jaman SBY, setelah tidak lagi berposisi sebagai Komut Semen Gresik, ia dianggap mendukung demo-demo menentang SBY. Ia beberapa kali dipanggil oleh Mabes Polri, tapi tidak sampai ditahan. Aku salah satu orang yang dapet ‘surat cinta’ dari Mabes Polri sebagai saksi,” kenang Savic.
Di era Pemerintahan Jokowi, kata Savic, ia juga salah satu pengkritik terkeras Jokowi. Beberapa kali terlibat dalam perseteruan terbuka dengan Luhut Binsar Pandjaitan.
“Namun keduanya tetap berteman baik, sebagai sesama orang yang cukup dekat dengan Gus Dur. Bahkan ada cerita saat masih jadi menteri Jokowi ia juga pernah ‘ribut’ sama wapres JK dalam sebuah rapat,” beber Savic.
“Itulah Mas Rizal. Tak bisa diam atas apa yang ia anggap keliru. Meski aku sering tidak setuju dengan cara pandangnya dari dulu dan sering men-challenge perspektifnya, tapi Mas Rizal orang yang cukup terbuka terhadap perbedaan. Apa pun, Indonesia butuh orang-orang seperti Rizal Ramli,” pungkas Savic.
Editor: Muhammad Zunus
