Hidup Hala Abu Mustafa terasa membosankan. Seperti yang lainnya, selama penyerangan Israel ke wilayah Gaza, Palestina, hari-hari bocah 10 tahun itu dihabiskan untuk mengisi galon air dan mengumpulkan ranting untuk dijadikan kayu bakar. “Kemudian Ibu Israa menemukan kami. Dia membawa kami ke sini untuk belajar," katanya.
Tempat belajar yang disebut Hala hanyalah berupa tenda sekadarnya. Israa Abu Mustafa, perempuan berusia 29 tahun bernasib sama seperti penduduk Khan Younis lainnya. Rumahnya hancur akibat serangan udara pasukan Israel.
Namun reruntuhan itu seolah memanggilnya untuk berbuat sesuatu untuk anak-anak di sana. Di antara reruntuhan yang tersisa, dia membuat sekat untuk anak-anak membuka kembali buku-buku pelajaran. Tiada rotan akar pun jadi.
Dengan segenap usaha, menurut Israa, mereka tetap harus melanjutkan sekolah. Meski dengan seadanya. Keadaan tenda itu juga jauh berbeda dengan ruang kelas sebelum peluru dan bom berjatuhan di sana. Di kelas tenda ini sama sekali tidak ada meja, juga kursi. Anak-anak itu hanya bisa menulis di lantai.
Sekolah dadakannya adalah salah satu dari sedikit pilihan yang tersisa bagi anak-anak di Gaza yang digempur serangan Israel. Keinginan Israa -- yang tak mau kematian dan kehancuran merampas pendidikan anak-anak, beroleh hasil yang menyenangkan. Perlahan, anak-anak yang datang ke tendanya terus bertambah.
Dimulai dengan 35 anak, jumlah muridnya terus bertambah. Secara bertahap, pada awal September 2024 silam, meningkat menjadi 70 orang. Mereka terdiri dari anak-anak usia prasekolah hingga siswa kelas enam, berusia 11-12 tahun. Tiap pagi, Israa menyambut kedatangan siswanya.
Dalam keterbatasan itu, para murid pun riang. Mereka seperti menemukan kegembiraan yang hilang. Kondisi di Gaza sungguh ironis. Di saat anak-anak di seluruh dunia menantikan liburan akhir pekan atau libur panjang, mereka malah berharap bisa segera kembali ke sekolah.
Sekolah mereka hancur. Kalau pun selamat dari gempuran bom, kebanyakan gedung sekolah di Gaza berubah menjadi tempat pengungsian. Dari berbagai foto yang terserak, terlihat kelas-kelas itu dipenuhi kasur lipat, baju-baju yang digantung, dan juga peralatan memasak.
Dalam catatan Kementerian Pendidikan Palestina, sejak serangan Israel - 7 Oktober tahun lalu sedikitnya 10.490 murid dan mahasiswa di sana tewas. Sedangkan, pengajar di sana – guru dan dosen, setidaknya lebih dari 500 orang dinyatakan gugur. Mereka yang selamat, yakni sekitar 625.000 anak usia sekolah. Namun mereka tetap kehilangan sekolah – yang pernah menjadi rumah kedua.
Dengan sumber daya yang terbatas, Israa mengajar pelajaran dasar termasuk pelajaran agama. "Apa yang diinginkan anak-anak? Mereka berhak belajar di lingkungan yang aman tanpa diliputi ketakutan," katanya.
***
Israa bukanlah satu-satunya yang tergerak untuk memberikan pendidikan pada anak-anak di sana. Di tempat lain, seperti yang dilaporkan Middle East Monitor, sekelompok anak muda yang menamakan dirinya Institut Pendidikan Iqra, mendirikan sekolah untuk anak-anak. Mereka mendirikan sekolah berupa tenda di kamp pengungsian. Dengan begitu, muridnya itu tidak perlu menempuh jarak yang jauh untuk bersekolah.
Salah seorang guru, Dina Nayef, menjelaskan inisiatif ini bisa mengatasi masalah warga Palestina yang tinggal di kamp-kamp pengungsian. "Dengan tinggal di kamp pengungsian pendidikan mereka pun terhenti. Pendidikan mereka turun drastis," jelasnya. “Perang telah merampas hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan.”
Tak berbeda dengan sekolah darurat lainnya, kelas yang dibangun para pemuda itu hanya dipisahkan oleh rangka kayu. Akibatnya kelas itu tidak bisa menampung anak-anak yang lebih besar. “Kami berharap dapat menyediakan kelas untuk kelas 3-5. Kami ingin mendapatkan ruang yang lebih besar sehingga bisa menampung lebih banyak lagi murid,” kata Nayef.
Namun kegiatan kelas tenda ini bisa juga tak berlangsung lama. Kegiatan ini terhenti saat serangan datang. Mereka pun harus berpindah ke tempat lain. Peristiwa seperti ini yang dialami pengajar lainnya, yakni Asma Mustafa. Guru bahasa Inggris yang memenangi penghargaan internasional terpaksa harus mengungsi.
Hingga Februari lalu, Asma tiga kali mengungsi. Dia terpaksa meninggalkan rumahnya di utara Gaza dan mencari perlindungan ke bagian selatan. Di sana, dia menetap di ruang perpustakaan sebuah sekolah.
Bak menemukan harta karun, dia pun mengambil buku-buku yang ada di sana. Selanjutnya, nalurinya sebagai guru menuntunnya untuk mengumpulkan anak-anak di sana. “Saya mulai membacakan buku untuk anak-anak saya sendiri dan kerabat saya terlebih dahulu,” katanya seperti yang disampaikan pada Middle East Eye.
Dia pun membuka kelas bahasa Inggris untuk anak-anak. Setiap sorenya, ruangan perpustakaan itu dibuka untuk anak-anak pengungsi. Cara belajarnya unik. Asma – yang sudah 16 trahun menjadi guru bahasa Inggris, membacakan sebuah buku lalu mendiskusinya dengan mereka.
“Saya juga mencoba mengajari mereka beberapa kosakata bahasa Inggris,” katanya. “Kelas ini memberi mereka sedikit rasa rutinitas.”
***
Namun kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak itu hanya berlangsung dua bulan. Bom berjatuhan di sana. Tak ada cerita lain kecuali mereka meninggalkan kamp penampungan itu. Juga perpustakaan yang menjadi sekolah mereka.
Hingga akhirnya Asma terdampar di bagian selatan Rafah, yaitu di Al-Mawasi. Di sana, dia dan keluarganya harus tinggal di tenda, yang sering kali kebanjiran setiap kali hujan. Keadaan yang menyedihkan itu, tidaklah diratapinya.
Sebaliknya, justru makin membuatnya makin memahami apa yang harus dilakukannya, yakni mengajari anak-anak itu. “Tenda-tenda ini penuh dengan anak-anak yang tidak bersekolah sejak Oktober,” tambahnya.
Lebih dari dua juta warga Gaza, tentu ingin situasi lekas berubah. Namun dalam keadaan seperti sekarang, selain harus tetap berjuang dan menyelamatkan diri dari gempuran serangan tentara Israel, masing-masing dari mereka memiliki peran yang bisa dilakukannya.
Asma Mustafa tahu persis apa yang harus dilakukannya, “Tugas saya sebagai guru adalah menjaga otak siswa dan mendorong mereka untuk memperjuangkan hak dan pendidikan mereka, apa pun keadaannya.”
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor: Fajar WH
