Jurgen Klopp dan Xavi Hernandes mundur sebagai pelatih kepala. Sepak bola modern, dengan bisnisnya yang keras dan ketat, teramat sulit untuk dijalani.
AIR MATA para pendukung klub Liverpool belum juga kering. Nun di sebuah ruangan di Camp Nou, markas klub Barcelona, Sabtu lalu, manajer klub itu Xavi Hernandes menyampaikan berita yang kurang lebih sama dengan mundurnya Juergen Klopp, sehari sebelumnya. Setelah kalah dari Villareal dalam lanjutan La Liga, bekas gelandang hebat itu pun mundur sebagai pelatih. “Saya akan berhenti pada 30 Juni mendatang,” katanya.
Kekalahan 3-5 di kandang sendiri memang menyakitkan. Di papan klasemen mereka berjarak 10 poin dengan pemuncak, Real Madrid. Barca pun berada di bawah tim sekota, Girona.
Duka bersama. Mereka, pendukung dua klub itu, kompak bersedih dengan keputusan yang diambil pelatihnya. Padahal, keduanya masih memiliki masa kerja di sana setelah musim ini berakhir. Klopp, 56 tahun, masih punya kontrak dua musim ke depan. Xavi, 44 tahun, baru klaar masa kerjanya di musim mendatang.
Selain terasa mendadak – bahkan fan Liverpool menyebut mundurnya Klopp jauh lebih mengejutkan dibandingkan kematian Ratu Elizabeth II, keduanya benar-benar istimewa. Liverpool di tangan Klopp -yang menanganinya sejak 2015, berubah menjadi tim yang menakutkan dengan sepak bola gegenpressing-nya.
Mereka berhasil mendapat dua gelar penting, Liga Champions dan Liga Primer – yang baru diraup klub ini sejak liga itu bergulir pada 1992. Bagi Liverpudlian, pria Jerman itu adalah pahlawan yang sesungguhnya. Selama tiga dekade, berganti bermacam pelatih hanya Klopp yang menuntaskan dahaga mereka – pendukung klub itu.
Demikian halnya dengan Xavi. Selepas ditinggal Lionel Messi pada 2021, klub besar ini pun goyah. Di musim keduanya setelah menggantikan Ronald Koeman, dia mempersembahkan Barca gelar La Liga.
Namun nyatanya, keputusan itu telah bulat. Banyak yang bingung dengan keputusan ini. Andai saja Klopp mundur di akhir musim lalu tentu mudah dipahami. Kala itu, Liverpool seperti mengendarai roller coaster yang naik turun, beruntung mereka bisa finis di urutan kelima.
Tapi, kata dia, semua bukan tentang uang apalagi pekerjaan lain. Kalau itu yang jadi motif tentu dia akan mengambil tawaran untuk memimpin tim Jerman saat Hansi Flick dipecat pada September tahun lalu.
Saat ditanya wartawan tentang kemungkinan dia menganulir hasratnya, seperti yang dilakukan Sir Alex Ferguson –manajer Manchester United yang sempat mundur pada 2002 tapi kembali melatih klubnya, Klopp menggelengkan kepala. “Tidak. Saya tidak akan menangani tim Inggris mana pun kecuali Liverpool,” katanya.
Xavi pun begitu. Keputusannya itu, menurut dia, tidak serta merta diambil begitu saja. Melainkan melalui perenungan dalam beberapa waktu terakhir. Sehingga tak bisa lagi diganggu gugat. Sekalipun, misalnya Barcelona menjadi juara Liga Champions, dia tetap pada pendiriannya: pergi dari Camp Nou. “Semoga ini bisa membuat Barcelona menjadi lebih baik,” jawabnya.
Mundurnya kedua tentu menjadi pekerjaan berat untuk klub masing-masing untuk mencari pengganti. Sedangkan bagi Klopp dan Xavi, dengan waktu yang hanya tersisa empat bulan, mereka berjanji memberikan yang terbaik untuk klubnya.
***
SEPAK BOLA yang tiap akhir pekan kita saksikan di televisi begitu menyenangkan ternyata menjadi siksaan bagi dua pelatih itu. Setelah menjadi bisnis – yang segala sesuatu dihitung dengan uang, membuat permainan ini harus dilakoni dengan segala cara – yang menurut Klopp termasuk dengan “tiga roda”.
Daya tahan mereka yang berada di pinggir lapang pun menjadi pendek. Berbeda dengan beberapa dekade silam. Sir Alex Ferguson bisa sanggup bertahan selama hampir 27 tahun bersama Manchester United. Begitu juga Arsene Wenger berada di Arsenal hingga 22 musim.
Keduanya mundur setelah dimakan usia juga tak mampu lagi mengikuti ritme liga sepak bola di Inggris. “Saya akan menemani istri,” kata Ferguson yang mendadak mundur pada akhir musim 2012-13.
Era Klopp dan Xavi tentu berbeda. Pada musim ketiganya ini, Xavi dinilai sudah tidak bisa mengembalikan keajaiban di masa lalu itu. Alasannya klub ini bangkrut, dilumpuhkan oleh kesalahan manajemen selama bertahun-tahun, dan peraturan keuangan yang menghalangi mereka untuk kembali pada masa keemasan.
“Kami bukan Barca seperti pada 2010,” ujar Xavi, menjelang Natal tahun lalu. “Jelas kami tidak memiliki kualitas seperti Barca seperti pada tahun itu. Kami tidak lagi memiliki para pemain dengan kualitas atau kemampuan seperti itu.”
Klub banyak membuatnya kecewa. Salah satunya, ketika klub memutuskan untuk mengontrak Joao Felix dari Atletico Madrid. Menurut dia, pemain Barca seperti Ferran Torres bisa digenjot lagi untuk memberikan permainan terbaiknya. Begitu juga saat beberapa pemain yang diinginkannya tak kunjung dipenuhi manajemen klub. Meski begitu, dia harus manut pada keputusan klub.
Xavi tahu mengelola Barcelona tidaklah mudah. Seperti kata Johan Cruyff, legenda Barcelona, “Satu-satunya cara untuk bertahan adalah jika Anda dapat membuat presiden klub mundur.”
Bukan perkara mudah, tentu. Xavi lelah. Dia pun mengambil langkah yang diyakininya bisa membuatnya tenang.
***
Telepon seluler milik Mike Gordon, Presiden Fenway Sports Group – pemilik saham terbesar klub Liverpool, berdering. Si penelepon itu adalah Jurgen Klopp. Gordon tentu berharap kabar baik yang akan disampaikan orang nomor satu di tim inti klub itu. Apalagi ketika itu, November tahun lalu, The Reds, julukan klub itu tengah merangkak naik.
Namun rangkaian kalimat dari Klopp membuat Gordon tercekat. Klopp menjelaskan tentang keinginannya untuk mundur dari pekerjaan di Anfield pada akhir musim. Dia merasa dia tidak punya tenaga untuk melanjutkan. Seperti Xavi, dia mengaku letih.
Klopp pernah memberi kejutan tapi kali ini berbeda dengan yang terjadi pada April 2022. Ketika dia tiba-tiba meneken kontrak baru hingga 2026. Padahal kala itu, Klopp telah memberi sinyal untuk istirahat.
Kali ini, kejutannya menyesakkan para petinggi FSG. Mereka berkesimpulan bahwa Klopp sudah bulat mengambil keputusan. Tak ada yang bisa membujuknya untuk mengubah pikirannya.
Bagi Klopp, keputusannya itu diambil setelah memikirkan banyak hal. Hingga akhirnya dia ingin melepaskan diri dari tuntutan manajemen elite yang tiada henti. Pihak klub tak berbuat apa-apa. Namun mereka meminta agar Klopp tak segera mengumumkan keputusannya itu.
Barulah, Jumat pagi, pekan lalu, setelah dua bulan berlalu, adalah waktu yang tepat untuk buka suara. Terlebih dengan berlarut-larut dikhawatirkan rencana ini bocor ke media.
Klopp merasa orang-orang terdekatnya harus mendapat kejelasan sehingga mereka bisa mulai membuat rencana untuk masa depan. Tiga pembantunya, Pep Lijnders dan Peter Krawietz, dan pelatih Vitor Matos, juga pergi.
“Idealnya, saya tidak akan mengatakan apa pun kepada siapa pun sampai akhir musim. Setelah usai, lalu ucapkan selamat tinggal, tapi itu tidak mungkin,” kata Klopp.
***
LIGA Inggris musim depan dipastikan takkan seseru lagi seperti sebelumnya. Kepergian Klopp akan berpengaruh besar dalam peta persaingan liga ini. Manajer Manchester City, Pep Guardiola yang mendengarkan kabar mundurnya Klopp langsung berseloroh, “Saya akan tidur nyenyak,” katanya.
Guardiola dan Klopp adalah seteru yang membuat Liga Inggris menjadi bergairah. Keduanya saling mengakui kehebatan masing-masing. “Menurutku, City adalah lawan terberat. Begitu juga saat menghadapi Bayern yang dia asuh,” kata Klopp. “Kami bersaing ke tingkat yang gila.”
Setelah dua musim di Bundesliga, Pep bersama Bayern Munchen dan Klopp di kubu Borrussia Dortmund, persaingan itu menyeberangi laut dan mendarat di Liga Inggris. Pep yang datang setahun setelah Klopp berlabuh lebih dulu di Anfield, menjadi raja Liga Primer bersama Manchester City.
Namun satu yang harus dicatat hanya Klopp yang membuat Manchester City jeda juara. Itu terjadi ketika Liverpool memenangi liga pada 2019-20. “Dia (Klopp) telah menjadi rival terbesar kami , rival terbaik yang pernah saya miliki," katanya lagi.
Berbeda dengan rivalnya itu, bekas pelatih Barcelona itu masih betah di klubnya sekarang. "Saya baik-baik saja. Masih ada satu tahun lagi, saya ingin melakukannya dan mungkin saya akan memperpanjangnya," katanya riang.
Pep Guardiola bukannya tidak pernah mengalami masalah seperti Klopp, atau juga Xavi. Pada 2012, dia pun terhuyung akibat pekerjaannya. Saat menjalani musim kompetisi 2011-12, dia mengaku lelah. Di akhir musim, dia memutuskan pergi dari Barcelona dan sepak bola. Dia mengisi waktu dengan libur panjang selama setahun.
Guardiola yang telah memberikan 14 gelar buat klub asal Katalan itu, memilih tinggal di New York, Amerika Serikat – negeri yang jauh dari ingar bingar sepak bola. Setahun berlalu dia kembali ke lapangan dengan tenaga dan pikiran yang lebih fresh.
Hasilnya, setelah menangani Bayern Munchen selama tiga musim dengan menyapu bersih gelar Bundesliga tanpa jeda, perjalanannya dilanjutkan di di Manchester City. Tiada seorang pun yang menyangkal kehebatannya.
Meninggalkan sepak bola sementara waktu bisa menjadi pilihan Jurgen Klopp. “Mungkin dia perlu bernapas dulu. Di Barcelona, saya pun merasakan hal itu,” kata Pep.
Jelas bukan hanya Pep merindukan persaingannya dengan Klopp tapi juga para penggila sepak bola di planet ini.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor: Muhammad Zunus
