Kiai Abu Fadhol Senori, Ulama Produktif yang Tak Pernah Berhaji

Kiai Abu Fadhol Senori, Ulama Produktif yang Tak Pernah Berhaji

Arina.id - Kiai Abu Fadhol bin Abdus Syakur Senori Tuban adalah salah satu ulama produktif dengan berbagai karya tulis populer berbahasa Arab. Karyanya dikaji dalam tugas akhir mahasiswa Indonesia di beberapa Universitas di Timur Tengah dan juga di dalam negeri.

Karya-karyanya banyak melahirkan jurnal akademik di bidang keislaman. Tidak hanya satu disiplin ilmu keislaman seperti fiqih, akan tetapi juga disiplin lainnya seperti Ulumul Qur’an dan sintaksis Bahasa Arab.

Mbah Fadhol menulis Tashilul Masalik Syarh Alfiyah Ibn Malik, sebuah komentar yang menjelaskan makna dari kitab Nadzam Alfiyah Ibnu Malik secara mendalam dan mengupas terkait sintaksis Bahasa Arab. 

Mbah Fadhol juga menulis Tafsir Ayatil Ahkam dalam disiplin Ulumul Qur’an, yakni penafsiran beliau terkait beberapa ayat mengenai hukum-hukum syariah yang beliau kutipkan dari beberapa tafsiran ulama otoritatif dan kemudian beliau berikan pandangan pribadi dalam bentuk kesimpulan.

Mbah Fadhol juga menulis Ahlal Musamarah fi Hikayati al-Auliya al-Asyrah, sebuah kitab berbahasa Arab yang menceritakan tentang Walisongo dan islamisasi tanah Jawa yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Muslim Indonesia.

Mbah Fadhol juga menulis Kasyfut Tabarih fi Bayani Shalatit Tarawih, sebuah analisis beliau tentang keabsahan sholat tarawih 20 rakaat sekaligus bantahan mengenai tuduhan jika 20 rakaat tarawih adalah bid’ah yang tercela. Kitab ini sering dikaji ketika momentum Ramadhan khususnya oleh Nahdliyyin.

Banyak karya-karya beliau lainnya dan semua ditulis dengan bahasa Arab. Padahal beliau secara pribadi tidak pernah mengalami jenjang pendidikan di Timur Tengah, bahkan belum pernah beribadah haji.

Fenomena ini merupakan suatu keistimewaan yang dimiliki oleh Mbah Fadhol dan membuktikan bahwa beliau memang seorang ulama yang cerdas dengan keilmuan yang sangat berkelas. Tentunya beliau mempunyai daya saing tinggi dan tidak inferior dengan ulama lulusan Timur Tengah.

Keistimewaan ini sering kali disampaikan oleh salah satu muridnya, yakni KH Maimoen Zubair. Mbah Moen pernah mengatakan: “Ora usah isin dadi wong jowo, delok toh Mbah Fadhol, ora tau ngaji neng Arab, tapi geneo kok iso ngalim ngalahne wong seng neng Arab, ngalim e koyok ngono karangane pirang-pirang”.

“Jangan malu menjadi orang Jawa, contohlah Mbah Fadhol, tidak pernah mengaji di Timur Tengah, tapi mengapa bisa alim mengalahkan yang mengaji di Timur Tengah, ngalimnya luar biasa, dan karya tulisnya banyak”.

Mbah Moen tidak hanya menyebut gurunya ini tidak pernah mengaji ke Timur Tengah. Bahkan menurut Mbah Moen, Mbah Fadhol sama sekali tidak pernah berhaji, akan tetapi beliau mampu menulis karya dalam bahasa Arab sebagaimana ulama asli Timur Tengah.

Maka ketika seseorang yang tidak mengenal beliau, kemudian membaca karya-karyanya, maka dia tidak sadar bahwa karya itu ditulis oleh orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di Timur Tengah.

Mbah Fadhol memang terkenal cerdas dari sejak kecil, selain kecerdasan yang dimilikinya, kegigihan dan semangatnya dalam proses belajar, membaca, dan menulis sangat tidak diragukan. Beliau menjadi kombinasi sempurna antara bakat bawaan dan usaha serta kerja keras dalam membentuk karakter ulama alim dan produktif.

Mbah Fadhol mempunyai rutinitas literasi yang sangat banyak. Beliau membaca kitab-kitab besar dan mengkhatamkannya dalam hitungan hari. Bahkan beliau setengah hafal isi kitab tersebut. Dari rutinitas itu, beliau mampu memberikan analisis mendalam dengan mengkomparasikan berbagai pendapat ulama dari berbagai kitab ketika mengupas suatu masalah dalam karya tulisnya.

Nama beliau dikenang hingga kini, khususnya masyarakat santri dan para akademisi keislaman. Berkat keistimewaannya, karya-karya beliau dikaji dan dikembangkan di balik teras-teras pesantren dan bilik-bilik kampus. Tidak hanya di Nusantara, akan tetapi juga di beberapa universitas di Timur Tengah.


Editor: Muhammad Faizin
logo