Arina.id - Sholat Tarawih merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam selama bulan Ramadan. Ibadah ini memiliki keutamaan besar dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak amal kebaikan, serta mempererat ukhuwah Islamiyah melalui pelaksanaannya secara berjamaah.
Meskipun pada masa Rasulullah SAW sholat Tarawih berjamaah sempat dilakukan, kebiasaan tersebut tidak dilanjutkan secara rutin karena beliau khawatir akan diwajibkan atas umatnya.
Namun, pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, tradisi melaksanakan sholat Tarawih berjamaah di masjid kembali digalakkan. Umar bin Khattab, sahabat sekaligus khalifah kedua dalam Khulafaur Rasyidin, dikenal karena kebijaksanaan dan keberaniannya dalam mengambil keputusan demi kemaslahatan umat.
Inisiatif beliau menghidupkan kembali sholat Tarawih berjamaah bertujuan untuk menyatukan kaum Muslimin dalam ibadah, menghindari perpecahan, serta memperkuat semangat kebersamaan selama bulan suci Ramadan.
Perlu diketahui secara historis, sholat Tarawih kali pertama dilakukan oleh Rasulullah di masjid. Sholat Tarawih dalam redaksi hadis tertulis qiyamu Ramadhan. Pada malam kedua dan ketiga para sahabat mengikuti (makmum) sholat Rasulullah. Memasuki hari keempat, Rasulullah tidak keluar menuju masjid. Alasannya, beliau kuatir qiyam Ramadhan akan diwajibkan kepada umat Islam.
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَان
Artinya: "Telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah, beliau berkata: Sesungguhnya Nabi Muhammad, sholat di masjid, kemudian diikuti para sahabat, lalu beliau sholat lagi di malam berikutnya, ternyata para sahabat yang ikut sholat semakin banyak. Kemudian di malam ketiga, para sahabat telah berkumpul (di masjid), akan tetapi Rasulullah tidak keluar. Keesokan pagi Rasulullah bersabda: Sungguh aku telah melihat apa yang kalian lakukan, (sebenarnya) tiada yang menghalangiku keluar kepada kalian melainkan aku takut sholat Tarawih diwajibkan atas kalian. Dan kejadian itu di bulan Ramadhan." (HR. al-Bukhari: 4/290).
Syekh Abu Fadol Senori menjelaskan dalam kitab Kasyfu Tabarih, bahwa ketika Rasulullah menyampaikan kekhawatiran akan diwajibkannya sholat Tarawih (qiyamu Ramadhan), tak lama berselang beliau wafat dan tidak ada keterangan hadits yang menjelaskan pelaksanaan sholat Tarawih berjamaah di masjid.
Akhirnya para sahabat tetap berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat Tarawih di malam Ramadhan. Sebagian sahabat ada yang sholat sendirian dan sebagian yang lain ada yang sholat berjamaah, dan hal ini berlangsung sampai masa pemerintahan Sayyidina Umar.
Di masa pemerintahan Sayyidina Umar ini sholat Tarawih dilakukan dengan cara berjamaah yang mana saat itu tidak ada satu sahabat yang mengingkarinya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Abdurrahman bin Abdul Qari dalam sebuah hadits sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَه
Artinya: "Suatu ketika aku keluar ke masjid bersama Umar Bin Khattab pada suatu malam bulan Ramadhan, sedangkan orang-orang terpisah-pisah, ada yang sholat sendirian ada pula yang sholat, kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Kemudian Umar berkata: “Sungguh aku memandang andai aku kumpulkan mereka untuk mengikuti satu Imam, tentu itu lebih baik”. Kemudian beliau mengumpulkan mereka untuk mengikuti Ubay Bin Ka’ab. Kemudian aku keluar bersama Umar pada malam lainnya, tampak mereka sedang sholat mengikuti Imamnya, kemudian Umar berkata: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini, sedangkan yang tidur terlebih dahulu kemudian bangun beribadah di akhir malam itu lebih utama dari pada yang melakukannya di awal malam," (HR. Al-Bukhari: 7/135, Al-Muwattha’: 1/83, Al-Baihaqi: 2/493).
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa sholat Tarawih berasal dari sholat malam Nabi Muhamad di malam Ramadan (qiyamu Ramadan) sendirian. Kemudian para sahabat mengikutinya dan menunggu Rasulullah di malam selanjutnya agar mereka dapat mengikuti sholat bersama Rasulullah. Sayangnya Rasulullah tidak keluar dari rumah, malah keesokan harinya beliau mengatakan kekhawatiran akan diwajibkannya sholat Tarawih kepada umat Islam. Tidak lama kemudian beliau wafat.
Ini menunjukkan sholat Tarawih yang dilaksanakan berjamaah belum terjadi pada masa Nabi Muhammad. Namun pada masa pemerintahan Sayyidina Umar, sholat Tarawih berjamaah digagas oleh Umar dan tidak ada seorang sahabat yang mengingkarinya, karena mereka tahu bahwa apa yang dilakukan Umar tidak menyalahi sunnah. Walhasil, sahabat Umar adalah sahabat yang menggagas Tarawih berjamaah. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin
