Tuhan itu bernama Father Divine (1876-1965). Pengikutnya tidak kurang dari seratus orang, laki-laki dan perempuan, berkulit hitam dan putih. Markasnya berada di Philadelphia, terdiri dari dua tingkat. Murid-murid itu berhimpun di tingkat bawah. Setiap yang datang mengucapkan salam kepada temannya “peace!”, damai! Dan dijawab dengan peace pula.
Di dinding tergantung foto-foto dari Father Divine, bersanding dengan sang nyonya. Di kiri-kanan gambar itu diapit oleh bendera Amerika Serikat. Selain itu, perekam pita (tape recorder) dari pidato-pidato Father Divine itu diputar, habis satu, ganti lagi. Habis satu ganti lagi. Mereka mendengar dengan khusyuk. Pidatonya di Chicago, ceramahnya di San Francisco. Isinya menyerukan damai, dan menjunjung tinggi pemerintah AS. Father Divine adalah seorang negro. Rambutnya dicukur habis, sebab itu tidak ada lagi keritingnya. Kepalanya menonjol ke belakang, gemuk dan pendek. Sekuntum bunga rose kecil tersisip di kelepak bajunya.
Diulurkannya tangan kepada Hamka (1908-1981), dari Indonesia. Sang tamu pun dipersilahkannya duduk. Ada empat belas perempuan muda, kulit putih dan kulit hitam, putihnya cantik-cantik, hitamnya manis-manis, di ruang kerja Father tersebut. Hamka pun memperhatikan sekilas perempuan yang banyak itu. Semuanya adalah perempuan pilihan belaka. Sebelah kiri Father, duduk yang tercantik di antara segala nan jelita dan kirana itu. Itulah “Mother”, isterinya. Usianya kira-kira tiga puluh tahun.
Lantas mereka membuka perbincangan. Sang tamu pun menyatakan maksud kedatangan mereka. “Kami dari Indonesia, negara yang baru merdeka. Mendengar nama Father Divine, sebagai penganjur perdamaian yang besar di zaman ini, yang mempunyai semboyan salam peace! Syukurlah sekarang telah bertemu,” ujar Hamka. Father berbangga dan bengah hidungnya. Dia melirik keliling, kepada murid-muridnya itu (seolah-olah bertanya, belum jugakah kalian percaya?). Semua menyungging senyum dan berbinar gembira.
Kemudian Father membeberkan kepada tamu beberapa helai surat kabar tua penuh dengan gambar-gambar dari gerakan pengikutnya di AS, Australia, dan di beberapa tempat di Eropa. Pada beberapa gambar itu ditulis di bawah foto Father Divine, “Father Divine is God!”. Lalu Hamka diperlihatkan dua gulungan kertas tebal yang dikembangkan. Di sana rupanya telah disusun sebagai klise, salinan kawatnya kepada para pemimpin dunia. Kepada Stalin, Mussolini, Hitler, Roosevelt sebelum perang. Dan kawatnya kepada Chou En Lai di Tiongkok. Father mengisahkan, bahwa maksudnya ialah menyerukan perdamaian dalam alam ini, dan Pemerintah AS adalah pandu utama dari perdamaian!
Hamka bertanya, “Sudah berapa tahun Father memulai seruan damai yang amat penting ini?” Father mengaku bahwa dia tidak diikat oleh tahun. “Sudah pernahkah Bapa melawat ke negeri-negeri yang banyak pengikut Anda itu? Eropa atau Australia, misalnya?” tanya Hamka. “Saya? Saya tidak terikat di satu tempat. Walaupun saya belum pernah ke sana, namun saya ada di sana!” tegas Father. Istrinya pun berkata: “Kami percaya bahwa dia adalah tuhan!” “Jelmaan dari Yesus Kristus?” tanya Hamka penasaran. “Bukan. Tapi titisan dari Bapa-nya Yesus Kristus!” Alamak, tobat, ujar Hamka membatin.
Selanjutnya, pada pukul 8 malam, Hamka diundang makan malam bersama. Di ruang makan itu tersedia makanan nan melimpah ruah. Silih berganti datang. Pukul setengah sepuluh malam berakhirlah jamuan itu. Kala waktu perpisahan telah tiba, Father pun mengulurkan tangan dan bersalaman dengan Hamka, serta mengucapkan selamat jalan. Sambil memberikan sebuah fotonya bersama istri, sebagai kenang-kenangan. Setelah itu, seorang pengawalnya, pemuda berkulit putih mengantarkan Hamka naik ke sebuah mobil yang telah disediakan untuk mengantarkan sang tamu ke stasiun Philadelphia. Pukul 10, Hamka berangkat dan pukul 12 malam, dia sampai kembali ke New York City.
Dalam bukunya, God, Harlem U.S.A.: The Father Divine Story (1995), menurut Jill Watts meneroka bahwa kemunculan Father Divine yang menahbiskan dirinya sebagai tuhan, adalah sebagai gejala dari perasaan rasa rendah diri yang terdapat dalam jiwa orang negro, karena dipandang hina oleh orang kulit putih Amerika. Father Divine sendiri tidak diizinkan untuk mengunjungi beberapa negara bagian di AS. Bahkan, jika dia berani melawat ke AS bagian selatan, besar risiko dia akan digebuk oleh perkumpulan anti-negro yang masyhur, yakni Ku Klux Klan.
Empat bulan di Amerika
Titimangsa 25 Agustus-25 Desember 1952, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), penulis produktif, ulama, dan pemimpin muslim, berkesempatan mengunjungi Amerika Serikat sebagai tamu resmi kenegaraan. Jika dalam perjalanannya ke Timur Tengah, dia mencari “sumber kekuatan jiwa”, –tulisnya dalam dua jilid buku catatan perjalanan yang best seller itu, Empat Bulan di Amerika (1954)– di Amerika, Hamka ingin “mencari sumber kekuatan akal”.
Selama empat bulan berkeliling Amerika, Hamka menziarahi 26 negara bagian, beberapa kota besar, dan universitas-universitas, termasuk Stanford, University of Chicago, Cornell, dan Yale. Dia juga mendapat pengalaman melihat sendiri bentang alam dan kehidupan sehari-hari di Amerika.
Hamka benar-benar takjub dengan kemakmuran Amerika. Dia terpukau dengan industri dan pertanian canggih Amerika –menyebar benih dengan pesawat terbang, misalnya –dan keajaiban-keajaiban seperti kafetaria otomatis dan (Hamka perokok aktif sepanjang hidup) mesin penjual rokok yang penuh Pall Mall, Philip Morris, Chesterfield, dan Camel.
Hamka menyadari bahwa film-film Hollywood dan propaganda Uni Soviet telah membuat orang Indonesia menangkap kesan yang salah. Dia mendapati orang Amerika itu baik, sopan, dan –setidaknya orang Amerika kelas menengah– beragam. Dicatatnya, bahwa sebagian besar keluarga Amerika berdoa sebelum makan, dan dia menulis dengan hangat bahwa orangtua Amerika mengajari anak-anaknya sejak kecil untuk berdoa sebelum tidur.
Hamka menyatakan kekagumannya terhadap disiplin publik orang Amerika, misalnya tidak buang sampah sembarangan, dan membandingkannya dengan Indonesia. Dia juga mengagumi sistem pendidikan negara itu, ratusan universitasnya, dan kepercayaannya terhadap mobilitas ke atas dan perbaikan diri melalui pembelajaran. Dia juga menyukai bagaimana para imigran dari seluruh penjuru dunia menuju Amerika Serikat dan berkata “I am an American.”
Akan tetapi, ada sisi lain dalam ketakutan; ada latihan menanggapi sirene serangan udara di tiap kota, persiapan menghadapi serangan “kapal udara komunis”. Ada juga kemiskinan dan rasisme. Hamka memperhatikan kawasan kumuh Amerika, para pemabuk, pengemis, gelandangan, dan lonte, dan dia mendedahkan kondisi orang-orang Afrika-Amerika yang seperti terjajah.
“Pandangan kepada orang Negro yang berkulit hitam itu, dari bangsa kulit putih di Amerika, hampir mirip dengan pemandangan bangsa Belanda kepada bangsa Indonesia, tatkala Indonesia masih terjajah, atau serupa dengan pandangan orang Prancis kepada Arab Maghrabi,” tulis Hamka. Orang-orang Afrika-Amerika melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar; hidup di lingkungan tersegrerasi; dan harus berada di bagian belakang bus dan pesawat terbang.
Di Texas dan bagian lain Amerika Serikat selatan, Hamka gusar menyaksikan bahwa orang kulit hitam harus menggunakan ruang tunggu , kamar kecil, dan restoran yang berbeda–bahkan gereja yang berbeda. Karena pelbagai alasan itu, katanya kepada pembaca, beberapa orang Afrika-Amerika tertarik kepada komunisme–laiknya penyanyi dan bintang film Paul Robeson– sementara yang lainnya tertarik kepada Islam.
Pertemuan Hamka dengan rasisme Amerika yang paling meresahkan justru terjadi pada dirinya sendiri. Dia bertanya kepada dirinya sendiri, mengapa kalau dia akan bertemu orang baru atau memasuki restoran penuh orang di sana, dia kadang merasa malas dan sungkan hati? Itu karena “rasa takut, malu, dan segan kepada bangsa kulit putih yang beratus tahun lamanya ditanamkan oleh Belanda” dalam jiwa leluhurnya “dan ayahku, dan aku, dan ibuku, dan orang pada kelilingku”. Tulisnya, “Itu saya lawan sampai hilang.”
Dalam karyanya, Hamka and Islam: Cosmopolitan Reform in the Malay World (2018), Khairudin Aljunied menjelaskan, bahwa Hamka sangat kritis dengan hubungan antarjenis kelamin di Amerika dan apa yang dia sebut–masih menggunakan istilah Belanda pada 1950-an–vrij omgang: pergaulan bebas antarjenis kelamin yang selalu dia kelindankan dengan Barat. Hamka kaget dengan apa yang dia anggap ketiadaan kesusilaan di Amerika; perempuan memakai baju renang bikini, dan kedua jenis kelamin tidak malu-malu tampil telanjang di ruang ganti dan kamar mandi; Hamka menganggap tidak pantas bertelanjang di depan orang liyan, termasuk lelaki di depan laki-laki lain.
Hamka mendengar bahwa beberapa mahasiswi membawa “obat pencegah hamil” dalam tas. Tanda-tanda kehancuran moral itu, ujarnya, adalah efek samping peralihan dunia Barat dari cara hidup agraris ke cara hidup urban-industrial. Indonesia bakal mengalami peralihan yang sama dan barangkali dengan akibat yang sama, kata Hamka memperingatkan. Meski ada kekurangan-kekurangan dalam gaya hidup orang Amerika, Hamka tetap terkesima. Dapatkah Indonesia mencapai apa yang telah dicapai Amerika? Itulah harapan yang mendasari segala sawala Hamka ihwal Amerika dan Barat.
‘Yang menghambat Indonesia bukan sumber daya alamnya”, ujar Hamka. Indonesia memiliki banyak karet, timah, tembaga, dan lain-lain. “Bangsa kitalah yang kurang memiliki kepercayaan diri dan harga diri; lemah pribadinya,” keluh Hamka. Tak heran kalau bangsa Timur “silau melihat kebudayaan Barat”. Seharusnya Indonesia menggunakan kepercayaan diri dan dinamisme serta pengetahuan Barat. “Namun, kita harus ingat juga bahwa pernah ada zaman ketika Barat juga terpukau dengan peradaban muslim. Dasar peradaban hebat tersebut –Islam –masih bertahan. Seyogyanya, Islam menjadi dasar kemajuan kita sekarang. Jika kita menerimanya sepenuh hati,” tulis Hamka, “kita pun dapat maju”.
Menurut James R. Rush dalam bukunya Hamka’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia (2016), perlawatan Hamka circa 1952 ke Amerika Serikat adalah satu-satunya pengalaman panjangnya di dunia Barat. Dia menyimpan memorinya selama sisa hidup. Cerita-cerita perjalanan Hamka pada awal 1950-an bersifat otobiografis. Tatkala menulis di luar negeri (atau mengenai luar negeri), Hamka memberitahu pembacanya, bahwa dia sering memikirkan tanah air.
Pada akhir perjalanan empat bulan keliling Amerika Serikat, dia menulis kalimat-kalimat khas Hamka perihal kampung halamannya di tepi Danau Maninjau, bahwa tatkala “tubuh saya masih di Amerika, pohon-pohon kelapa di tepi danau melambai-lambai, pohon-pohon pinang bergoyang di kebun ibu saya. Dan angin selatan melolong selagi mendorong perahu para nelayan. Awan bergumpal di puncak gunung –segalanya memanggil saya ... pulang ... pulang ... pulang!”
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Zunus
