Sejarah ilmu pengetahuan modern sering ditulis sebagai kisah kejayaan satu nama. Charles Darwin berdiri tegak sebagai ikon revolusi ilmiah abad kesembilan belas. Akan tetapi di balik kemegahan narasi itu, ada sosok liyan yang berjalan di jalur berbeda, lebih sunyi, lebih selamba, dan jauh dari pusat kekuasaan intelektual. Namanya Alfred Russel Wallace. Wallace menemukan seleksi alam secara independen. Ia membaca bumi dari hutan tropis, bukan dari ruang kerja yang nyaman. Ia memahami kehidupan melalui tubuh yang lejar, demam malaria, dan perjalanan yang hampir selalu mempertaruhkan nyawa.
Wallace adalah paradoks sejarah. Ia hadir pada momen yang menentukan arah sains modern, namun ingatan kolektif menempatkannya di pinggir. Ia bukan sekadar korban ketidakadilan historiografi. Ia adalah cermin dari bagaimana ilmu dibentuk bukan hanya oleh ide, tetapi oleh kelas sosial, jaringan, dan etika pribadi. Dalam biografi yang ditulis James T. Costa, Radical by Nature: The Revolutionary Life of Alfred Russel Wallace (Princeton University Press, 2023), Wallace tampil sebagai figur radikal dalam arti paling sunyi. Ia menantang batas, tidak dengan teriakan, melainkan dengan konsistensi hidup dan keberanian berpikir.
Anak Perbatasan dan Alam sebagai Guru Perdana
Alfred Russel Wallace lahir di Usk, Monmouthshire, Wales, titimangsa 8 Januari 1823, di wilayah yang sejak awal menyimpan makna simbolik. Ia tumbuh di daerah perbatasan antara Wales dan Inggris, sebuah lanskap yang sarat ketegangan identitas. Keluarganya mengalami kemerosotan ekonomi. Wallace tidak tumbuh sebagai anak elit. Ia mengenal dunia bukan dari salon ilmiah, melainkan dari sungai, bukit, dan ladang.
Alam membentuk kepekaan awalnya. Wallace kecil belajar membaca lanskap sebelum membaca buku teks. Ia memperhatikan serangga, batuan, dan tumbuhan dengan rasa ingin tahu yang nyaris naluriah. Pendidikan formalnya terbatas. Namun keterbatasan itu justru melatih kemandirian intelektual. Ia menjadi pembaca rakus. Ia menyerap pengetahuan secara otodidak. Dari sini lahir watak ilmuwan yang tidak bergantung pada institusi, tetapi pada pengalaman langsung.
Costa menekankan bahwa masa kecil Wallace bukan sekadar latar biografis. Ia adalah fondasi epistemologis. Wallace belajar sejak dini bahwa pengetahuan lahir dari kedekatan dengan dunia nyata. Prinsip ini kelak membedakannya secara tajam dari Darwin yang bekerja dalam tradisi gentleman scientist.
Ilmuwan Lapangan dan Universitas Hutan Tropis
Wallace memilih jalur yang jarang ditempuh. Ia meninggalkan Inggris untuk menjelajah Amazon dan kemudian Kepulauan Nusantara (Melayu). Perjalanan ini bukan wisata ilmiah. Ia hidup dalam keterbatasan ekstrem. Ia mengandalkan penjualan spesimen untuk membiayai risetnya. Banyak koleksinya hilang tenggelam di laut. Tubuhnya berulang kali nyaris menyerah.
Namun justru di tengah kesulitan itu, pikiran Wallace bekerja paling menghunjam. Ia mengamati distribusi spesies dengan ketelitian luar biasa. Ia mencatat perbedaan fauna antar pulau. Ia melihat pola yang tidak terlihat oleh ilmuwan yang bekerja dari jauh. Alam tropis menjadi universitas sejatinya.
Berbeda dengan Darwin yang memiliki waktu, dana, dan jaringan, Wallace bekerja sendirian. Ia tidak memiliki patron. Ia tidak memiliki perlindungan kelas. Tetapi ia memiliki sesuatu yang lain. Ia memiliki keberanian untuk berpikir dari pinggir. Inilah yang membuat pengamatannya radikal. Ia tidak terikat oleh dogma akademik. Ia membiarkan fakta berbicara.
Seleksi Alam dari Demam dan Kesunyian
Titimangsa 1858, di tengah demam malaria di Maluku, Wallace merumuskan gagasan seleksi alam. Ide itu datang bukan sebagai kilatan abstrak, melainkan sebagai sintesis dari pengalaman panjang mengamati variasi dan tekanan lingkungan. Wallace menuliskannya dengan jernih dan mengirimkannya kepada Darwin.
Momen ini adalah salah satu titik paling menentukan dalam sejarah sains. Dua pikiran bertemu pada gagasan yang sama dari jalur berbeda. Namun hasilnya tidak simetris. Darwin bergerak cepat dengan dukungan jaringan ilmiah London. Wallace memilih sikap yang nyaris tanpa perlawanan. Ia tidak menuntut hak. Ia tidak membangun klaim agresif.
Costa membaca sikap ini bukan sebagai kelemahan intelektual, melainkan sebagai ekspresi etika. Wallace lebih peduli pada kebenaran gagasan tinimbang kepemilikan ide. Namun sejarah tidak bekerja dengan logika moral. Sejarah bekerja dengan logika institusi. Darwin dikenang. Wallace menyusut dalam catatan kaki.
Wallace Line dan Imajinasi tentang Bumi yang Bergerak
Salah satu kontribusi terbesar Wallace adalah apa yang kiwari masyhur sebagai “Wallace Line”. Garis imajiner ini memisahkan fauna Asia dan Australasia. Walakin maknanya melampaui geografi. Wallace memperlihatkan bahwa kehidupan tidak bisa dipahami tanpa sejarah bumi.
Ia meneroka spesies sebagai arsip geologis. Ia menghubungkan distribusi hewan dengan pergerakan lempeng dan laut purba. Dengan cara ini, Wallace membantu melahirkan biogeografi evolusioner. Ia mengajukan visi dunia yang dinamis. Tidak ada batas tetap. Semua bergerak dalam waktu panjang.
Gagasan ini lahir dari pengalaman langsung menjelajah pulau demi pulau. Wallace tidak hanya memetakan ruang. Ia memetakan waktu. Dalam pandangan Costa, Wallace adalah pemikir spasial sekaligus temporal. Ia memahami evolusi sebagai kisah panjang yang terukir di bumi.
Ilmu Bertemu Batas Kesadaran
Di sinilah Wallace mulai berbeda secara tajam dari Darwin. Wallace menerima seleksi alam sebagai penjelas evolusi biologis. Akan tetapi ia menolak menerapkannya sepenuhnya pada asal-usul kesadaran manusia. Ia melihat ada sesuatu yang tidak dapat direduksi menjadi mekanisme material.
Wallace tertarik pada spiritualisme. Pilihan ini membuatnya dijauhi komunitas ilmiah. Ia dianggap menyimpang. Namun Costa mengajak pembaca melihatnya dari sudut liyan. Wallace tidak meninggalkan rasionalitas. Ia memperluasnya. Ia mengajukan pertanyaan tentang batas sains.
Bagi Wallace, sains tidak boleh menjadi dogma anyar. Ia harus tetap terbuka pada misteri. Sikap ini membuatnya terasing, tetapi juga relevan kembali hari ini tatkala sains sering berbenturan dengan pertanyaan etika dan makna.
Ilmuwan dan Keadilan Sosial
Wallace bukan hanya ilmuwan. Ia adalah intelektual publik. Ia mengkritik ketimpangan sosial di Inggris. Ia menentang monopoli tanah. Ia membela kelas pekerja dan masyarakat adat. Ia melihat kolonialisme sebagai sistem yang merusak manusia dan alam.
Berbeda dengan banyak ilmuwan sezamannya, naturalis yang wafat di Broadstone, Dorset, Inggris, pada 7 November 1913 ini tidak memisahkan sains dari politik moral. Ia percaya bahwa pemahaman alam harus berujung pada keadilan sosial. Dalam pandangan Costa, inilah radikalisme sejati Wallace. Ia tidak hanya mengubah cara kita memahami kehidupan. Ia menantang cara kita mengatur masyarakat.
Dua Wallace dan Warisan yang Tidak Semenjana
Wallace sering digambarkan sebagai figur kontradiktif. Ilmuwan evolusi yang percaya spiritualisme. Rasionalis yang mengkritik materialisme. Namun Costa menunjukkan bahwa kontradiksi ini justru inti dari pemikirannya. Wallace menolak penyederhanaan.
Ia hidup di antara batas. Ia tidak nyaman berada di pusat. Warisannya tidak rapi. Tetapi justru di situlah nilainya. Wallace mengingatkan bahwa ilmu adalah praktik manusia. Ia sarat nilai, keberpihakan, dan keterbatasan.
Arkian, Wallace terasa dekat di era krisis ekologi dan ketimpangan global. Ia adalah ilmuwan yang mendengarkan alam dan manusia sekaligus. Ia mengajarkan bahwa pengetahuan tanpa etika adalah kekosongan. Ia menunjukkan bahwa kebenaran sering lahir dari pinggir.
Sejarah mungkin terlambat memberi tempat yang layak bagi Wallace. Walakin membaca kembali hidupnya hari ini adalah tindakan korektif. Bukan untuk menyingkirkan Darwin. Tetapi untuk memperkaya cara kita memahami bagaimana ilmu bekerja, untuk siapa ia bekerja, dan dengan harga apa.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Zunus
