Pada suatu masa, ia tak lagi keranjingan menggubah puisi-puisi memicu tawa. Dulu, ia memang terbiasa mempersembahkan puisi di jalan komedi, mengajak pembaca tertawa sambil menggerakkan kritik, protes, dan gugatan. Yudhistira ANM Massardi saat muda memang nakal, bandel, dan lucu untuk menggegerkan kesusastraaan di Indonesia. Ia menghadirkan puisi-puisi mirip ledekan estetika sedang dipuja kaum sastra. Puisi justru dalam kelakar, komedi, dan parodi. Ia membuat kesusastraan jadi “enteng” dan “menghibur”.
Babak itu masa lalu. Pada usia tua, Yudhis tetap menggubah puisi. Ia tak wajib mengumbar tawa. Puisi-puisi ditulis justru mengesankan doa dan keinsafan diri dalam pergumulan sastra religius. Di puisi berjudul Madinah, Yudhis (2006) berpuisi dengan adonan kelembutan, ketegangan, dan ketulusan. Kita membaca pengalaman religius: Aku duduk ngungun di sudut kasur/ Tertatih-tatih mengeja alif-ba-ta-Mu/ Duka itu tak terlepas juga/ Aku masih terlilit dalam tetek bengek yang fana/ Padahal, jauh dari negeriku, aku datang untuk memahami-Mu/ Ingin meraih Cinta-Mu. Para pembaca puisi-puisi silam bakal terkejut mengetahui sodoran kata Yudhis. Ia memihak religiositas, bukan lagi “main-main” dan melucu dalam kesusastraan Indonesia. Lakon hidup dan usia mengantar Yudhis bergerak menuju keinsafan diri dan Tuhan.
Di Tanah Suci, Yudhistira sadar kehambaan. Ia tak sekadar mengingat Allah. Ia ingin diri dalam pertobatan dan menunaikan ibadah-ibadah penghambaan merujuk fitrah. Ia memiliki kesilaman bergelimang tawa dan “ledekan” saat masih muda, Pada babak pergi ke Tanah Suci, tunduk dan lugu itu keharusan ketimbang tawa dan kepongahan.
Ia pun menggubah puisi berjudul Mekkah, puisi mendokumentasi diri atau biografis. Yudhistira (2006) mengisahkan: Adzan berkumandang/ Iqamat dan khotbah lepas ke langit/ Tak berdaya aku menggapai/ Sudah thawaf, sudah sa’i/ Tangan dan kaki bertukar tangkap/ Dalam tasyakur, dalam tersungkur/ Satu di lumpur, satu di kubur. Para pembaca mengira Yudhis memang “berpisah jalan” dari paham sastra lampau. Ia mengerti sebagai makhluk membahasakan pengharapan ketimbang dalam kubangan hiburan tak berujung. Pada usia menua, puisi gubahan Yudhis tampak berada di alur telah ditempuhi Taufiq Ismail, Abdul Hadi WM, Zawawi Imron, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib, Ahmadun Y Herfanda, Jamal D Rahman, dan lain-lain. Ingatan atas puisi-puisi lucu dan tawa lekas mengabur saat berhadapan dengan puisi-puisi religius dimuat dalam buku berjudul Perjalanan 63 Cinta (2017).
Kita sejenak mengenang tulisan-tulisan lama untuk mengetahui babak “peralihan” atau “perpindahan” kiblat bersastra. Kita mengutip dari puisi berjudul Rasa Hidup. Yudhis (1983) sudah berfilsafat tapi mengesankan lucu: Bak tembakau atau asem-kawak/ jika hidup kita swak atau mencang-mencong/ terasa tak ada satu pun yang bermanfaat/ semua seperti sia-sia// Kalaulah ada giliran urip kepenak, hidup enak/ ada saja tekanan dari kanan-kiri, rongrongan/ lantas datang kecewa, lantas nrimo. Menyerah/ padahal orang suka membanding-banding// Karena itu, tak datang juga Ratu Adil itu/ dan rakyat tinggal menganga, beramai-rami/ bersama anak-cucu.
Puisi sudah berfilsafat atas nasib jutaan orang di Indonesia. Tragedi-tragedi hidup ditanggungkan kadang diterima dengan tawa kecil atau penghiburan awam. Derita tak pernah keterlaluan asal lugu. Capaian kebahagiaan pun tak harus memuncak saat nasib tak selalu untung. Kita ingat seruan Yudhis (1983) dalam menanggapi hidup: “Kamu bilang hidup ini brengsek, aku bilang biarin.” Sikap itu justru mengarah ke kesadaran dalam mengartikan hidup ketimbang peremehan. Pada masa silam, Yudhis tak lupa berkelakar dengan mengingat Tuha. Kita menemukan dalam puisi berjudul Dalam KA. Pembaca terkejut tapi mengerti rangsang religius: (Ingin kunikmati Tuhan/ Meski tidak di tempat resmi/ Kursi ini toh bernomor/ Kubeli mahal di tukang catut)// “Lezatkan dagingMu, Allah Maha Besar…” Sosok masih garang dalam bersastra dengan gugatan dan keisengan. Puisi-puisi lama itu hampir tak menemukan jejak-jejak saat Yudhis berusia 60-an tahun memilih berdoa dan tafakur.
Dulu, Yudhis tak cuma memberi puisi-puisi. Ia pun menggubah cerita membikin heboh pembaca dan pengamat sastra. Ingatan terkuat tentu Arjuna Mencari Cinta. Novel pernah difilmkan dengan memberi kecewa dan prihatin. Tahun-tahun berlalu, judul itu muncul untuk lagu dipersembahkan Dewa 19. Polemik terjadi berkaitan judul. Yudhis masih menjadi sosok penting dalam kesusastraan dan musik. Di luar urusan puisi dan cerita, Yudhis membuat lirik-lirik lagu. Ia bergerak ke segala arah dalam seni.
Kita membaca (kembali) cerita pendek berjudul Mogok, dimuat dalam buku berjudul Wawancara dengan Rahwana (1982). Yudhis dengan iseng dan lucu mengajak pembaca mengingat Tuhan dalam kelakar berfilsafat. Yudhis menulis: “Jika Tuhan mogok, sebelum menyelesaikan pekerjaan tujuh hari-Nya yang termasyhur itu, tak syak lagi, jagat akan njomplang. Sebab, tak ada keseimbangan. Jika hantu mogok, entah berapa juta keberanian utuh terhimpun dan menggumpal di dada sebuah bangsa. Jika para penjudi, pelacur, perampok, pembunuh dan para perusuh mogok, entah kedamaian macam apa yang ada di muka bumi ini.” Di kesusastraan, Yudhis sering menjengkelkan. Ia rajin menulis puisi dan cerita, menganggak berhak turut dalam arus sastra tanpa ikut selera pemujaan estetika. Ia memilih menimbulkan ribut dan hiburan meski bertaruh kekuatan bahasa dan sangkaan makna.
Kesibukan dan persembahan sastra menimbulkan tanggapan-tanggapan dari Ben Anderson, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Jakob Soemardjo, dan lain-lain. Ia telah tercatat dan terhormat. Pada abad XXI, para pengerang tenar berusia tua terus menulis dan menerbitkan buku-buku. Yudhis tak diam. Ia menulis dan bergerak di jalan sastra meski usia tua tak membuat ia selalu berpijak sastra-tawa. Ia mendapat “panggilan” atau “terang” untuk bergumul dalam sastra religius. Yudhis mungkin telat tapi bersastra bukan sekadara urusan penjadwalan selera.
Kini, sosok itu pamit dari kita dan dunia: 2 April 2024. Ia meninggalkan dunia saat Ramadhan. Pada bulan suci, kepergian itu mengingatkan keseriusan Yudhis memberi puisi-puisi religius. Ia memang bermasa lalu tawa tapi mengerti babak akhir itu penghambaan dan keinsafan.
Pada 2016, ia menggubah puisi berjudul Kematian Itu. Puisi itu mengharukan: Kematian itu, kekasihku/ Kamper dan melati yang melantunkan Yasin/ Tanah basah yang menyerap adzan dan iqomah/ Bunga merah-putih yang menaburkan kenangan// Ah, kehidupan memang terlalu singkat/ Untuk cinta yang tak mati-mati/ Untuk beberapa persinggahan:/ tempat segala yang indah melumut/ Seperti nisan itu/ Seperti namaku dan namamu yang kelak di situ. Yudhis telah mengingatkan kematian.
Di suau tempat, nisan itu mencantumkan nama Yudhistira ANM Massardi. Di situ, orang-orang mengenang dan berdoa. Kita tak sampai ke nisan bisa berdoa dengan membaca kembali puisi dan cerita warisan Yudhis. Ia “masih bersama” kita dalam sastra. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan
