Maysa Nabhan tak bisa menahan kesedihannya. Di rumahnya yang penuh sesak, dia hanya punya sedikit ruang untuk meratapi kematian ayahnya, Khaled Nabhan. Senin (16/12) adalah duka dalam hidup Masya dan keluarganya. Khaled tewas dalam serangan tank Israel. “Dia segalanya bagi kami. Saat anak-anakku meninggal, dialah yang menghiburku setiap hari,” katanya pada Aljazeera.
Ahmed, anak laki-laki Maysa, berusia delapan tahun yang duduk di samping ibunya tak kuasa menahan tangis. Setiap kali ibunya menangis, dia ikut terisak. Tangisnya baru reda setelah ibunya mengusap punggungnya. “Kakek sudah tiada,” kata Masya.
Kesedihan itu sebenarnya bukan milik Masya tapi bagi mereka yang mengenal Khaled. Sejak 14 bulan silam, pria berusia 54 tahun itu telah menjadi sosok yang menggambarkan betapa pedih dan menderitanya orang-orang di Gaza.
Kala itu, pada 29 November 2023 dini hari, Khaled menggendong tubuh kecil yang sudah tak bernyawa. Malam itu, pasukan Israel menyerang Deir al-Balah. Bom-bom dilempar dari udara yang meruntuhkan banyak gedung.
Korban pun berjatuhan, termasuk dua cucunya – anak dari Masya, yakni Reem yang berusia tiga tahun dan Tarek, lima tahun. Keduanya tewas saat tidur di rumah mereka yang hancur akibat serangan udara Israel itu.
Khaled bercerita malam terakhirnya bersama cucu-cucunya itu. Mereka merengek mengajaknya bermain di luar. Ia menolak karena bahaya dari serangan udara Israel. Tak disangka, permintaan itu adalah yang terakhir.
Sambil mencium lembut mata Reem – cucu perempuannya itu, dia berbisik, “Ruh al-ruh” (jiwa dari jiwaku). "Saya biasa mencium pipinya, hidungnya, dan dia akan tertawa cekikikan," katanya saat itu. "Saya menciumnya, tetapi sekarang dia tidak mau bangun."
Rupanya peristiwa itu terekam kamera dan kemudian menjadi viral. Banyak orang di berbagai belahan dunia tersentuh. Mereka menyaksikan momen berat yang dialami Khaled. Namun di saat lain, mereka menyaksikan ketegaran sang kakek yang menerima kehendak Tuhan.
Sejak saat itu, Khaled dikenal luas. Berbagai videonya saat dia mengatasi rasa kehilangannya dan berupaya membantu sesama, banyak tersebar. Simpati pun terus berdatangan.
Tak sedikit yang menelepon dan berbicara langsung dengan Khaled. Selain menyatakan belasungkawa, mereka pun berupaya menghiburnya. Dia pun membalas, “Tidak ada yang lebih berharga daripada doa kalian. Berdoalah agar Allah menyertai kita.”
Waktu terus berjalan namun keadaan tak juga berubah. Serangan Israel tak jua berhenti. Khaled dan mereka yang ada di Gaza, harus tetap melanjutkan hidup.
Diaa, 29 tahun, anak lelakinya berkisah Khaled tetap bekerja sebagai buruh setiap kali ia mendapat pekerjaan. Meskipun ia sendiri lapar dan kurang gizi. “ Dia bekerja keras mencari nafkah untuk menafkahi kami,” katanya.
Dalam hidup, dengan masa depan yang tiada pasti -- Khaled bermain dengan cucu-cucunya yang masih hidup dan putri bungsunya, Ratil yang berusia 10 tahun, serta merawat ibunya yang sudah tua.
Kesenangan yang membuatnya bahagia adalah saat memberi makan kucing-kucing liar di sana, yang trauma dan kelaparan seperti penduduk Gaza.
***
Setelah video perpisahannya dengan Reem, cucunya, menjadi viral, Khaled menjelma menjadi orang yang dipercaya bagi mereka yang ingin memberikan bantuan. Dia pun menjalankan amanat itu. Dia menyalurkan bantuan dari banyak pihak.
Khaled mendirikan tenda di berbagai tempat pengungsian. Dia menyalurkan bantuan berupa makanan dan pakaian kepada mereka yang yang sudah tidak memiliki apa pun.
“Orang-orang yang meminta bantuanku, mereka tidak memiliki pakaian minimal untuk melindungi mereka dari cuaca,” katanya.
Meski memiliki keikhlasannya yang luar biasa namun pada akhirnya dia juga marah. Sebabnya, apa lagi kalau bukan perilaku tentara Israel yang terus menghalangi masuknya hampir semua bantuan ke Gaza. “Tidak ada penghinaan yang lebih besar daripada ini," katanya pada Februari, silam.
Namun berkali-kali, Khaled membuang kecewa dan amarahnya itu. Tangannya selalu ringan untuk menolong mereka memerlukan bantuannya.
Itu juga yang terjadi pada Senin lalu. Ketika itu, tank-tank Israel masuk di lingkungan tempat tinggal mereka. Seperti yang dikatakan saksi mata, kala itu Khaled berlari untuk menolong mereka yang terluka serangan tank itu.
“Dia berlari untuk menolong tapi dia terbunuh oleh tembakan tank lainnya, ” kata Saed Nabhan, keponakan Khaled.
Saed yang mendatangi Rumah Sakit Al-Awda, sangat terkejut mendapati pamannya termasuk di antara mereka yang tewas. Dalam rekaman yang dibagikan di media sosial oleh jurnalis lokal di Gaza, tubuh Nabhan yang tak bernyawa terlihat tergeletak di ranjang rumah sakit.
Tubuhnya berlumuran darah. Orang-orang yang mengenalinya berkerumun di sekelilingnya. Mereka menangis. “Oh, Abu Diaa,” ujar mereka sambil menyebut nama panggilan Khaled.
“Kita telah kehilangan seorang pria yang begitu hebat. Kita tidak akan pernah memiliki orang seperti dia lagi, " ujar Saed menahan tangis.
Hari itu, Khaled Nabhan berpulang dengan segala cinta yang diberikan pada siapa saja.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor: Fajar WH
