Ketika Kewalian Mbah Hamid Pasuruan Terus Diuji Para Kiai

Ketika Kewalian Mbah Hamid Pasuruan Terus Diuji Para Kiai

Suatu hari, KH Abdul Hamid bin Abdullah Umar kedatangan teman lama asal Krapayak, Yogyakarta, KH Ali Maksum. Kedatangan Kiai Ali ke Pasuruan, Jawa Timur, hanya satu, yakni ingin membuktikan kewalian Mbah Hamid.

Saat bertemu, Kiai Ali Makshum mengutarakan bahwa ia membutuhkan uang sebesar 500 ribu rupiah. Mendengar permintaan dari Kiai Ali Makshum, Mbah Hamid tanpa pikir panjang langsung akan berdiri untuk mengambil uang. Ia meyakini, jika yang meminta adalah Kiai Ali Makshum pastinya tidak akan digunakan untuk keperluan di luar yang dibenarkan oleh syariat dan pastinya untuk kemaslahatan.

Namun sebelum Mbah Hamid berdiri, Kiai Ali Makshum menarik tangannya agar tidak kemana-mana dan tetap bersamanya di tempat tersebut. Akhirnya Mbah Hamid tetap duduk dan langsung membaca Fatihah untuk hajat dan keinginan Kiai Ali Makshum.

Begitu selesai membaca surah fatihah, tiba-tiba berdatangan banyak tamu dan menyalami Mbah Hamid. Saat bersalaman, para tamu ini membawa amplop berisi uang di tangan mereka masing-masing untuk diserahkan kepada Mbah Hamid. Amplop-amplop tersebut pun diletakkan di samping Mbah Hamid dan terlihat menggunung.

Setelah selesai para tamu bersalaman dan menyampaikan hajatnya, mereka pun pulang. Sejurus kemudian, tumpukan amplop didorong ke hadapan Kiai Ali Makshum yang masih berada di tempat tersebut.

Amplop-amplop itu pun dibuka oleh Kiai Ali Makshum. Satu persatu uang dalam amplop dikeluarkan dan diitung oleh Kiai Ali Makshum sendiri. Dan berapa jumlah amplop yang ada? Setelah diitung dengan cermat, total uang yang ada sebesar 500 ribu rupiah, tidak kurang, tidak lebih.

Terkait dengan tradisi amplop untuk kiai, dalam buku Ziarah Wali Kiai Hamid Pasuruan dan Tradisi Islam Nusantara karangan Dr. Badruddin, diceritakan juga kewalian Mbah Hamid yang disebut weruh sakdurunge winarah atau tahu sebelum kejadian.  

Suatu hari ada seorang tamu jauh bertamu ke kediaman Mbah Hamid. Orang ini memiliki uang 20 ribu dan ingin memberikan amplop dengan isi 10 ribu rupiah kepada Mbah Hamid. Namun, karena ia terburu-buru, orang ini belum sempat menukarkan uang sampai ia masuk ke ndalem Mbah Hamid.

Ia mencoba menukarkan uang 20 ribu yang ia miliki dengan orang-orang yang juga mau sowan ke Mbah Hamid, namun tidak ada yang memiliki pecahan 10 ribu dua lembar. Ia bermaksud menggunakan 10 ribu untuk diberikan ke Mbah Hamid dan 10 ribu untuk ongkos pulang.

Belum juga menemukan tukaran uang, tiba-tiba Mbah Hamid keluar untuk menemui para tamu, termasuk orang ini. Akhirnya orang ini pun memasukkan lembaran 20 ribu ke dalam amplop dan memberikannya kepada Mbah Hamid. Tanpa dinyana, Mbah Hamid merogoh sakunya dan berkata pada orang tersebut, "Ini kembaliannya 10 ribu rupiah." Orang itu pun kaget dan hanya bisa bengong.

Kisah lain juga terjadi saat KH Bisri Musthofa, Rembang bertamu ke kediaman Mbah Hamid. Kiai Bisri mengungkapkan keinginannya untuk memiliki kendaraan mobil yang bisa digunakan untuk berdakwah ke daerah-daerah yang jauh. Ia meminta Mbah Hamid untuk mendoakan hajatnya karena ia yakin Mbah Hamid adalah sosok wali yang dekat dengan Allah swt.

“Mereknya apa, kiai?” tanya KH Bisri Musthafa. “Kalau nggak Fiat ya Holden,” jawab Mbah Hamid.

Setelah mendapatkan rezeki yang cukup, KH Bisri Musthofa meminta putranya yakni KH Musthofa Bisri untuk mencari dan membeli mobil. Pencarian ini dilakukan dari Jakarta sampai dengan Surabaya. Dan anehnya, tidak ada yang ditemui dan menawarkan mobil kecuali bermerek Fiat dan Holden. Akhirnya terbukti apa yang dikatakan oleh Mbah Hamid bahwa merek mobil yang didapat adalah Holden.

Ada juga kisah saat salah seorang kiai ingin sowan kepada Mbah Hamid. Sejak pagi kiai ini sudah sampai di kediaman Mbah Hamid menunggu untuk bisa bertemu. Kiai ini datang dengan mobil dan meminta sopirnya menunggu di parkiran.

Karena sudah merasa lelah menunggu sampai sore dan tidak ditemui oleh Mbah Hamid, maka kiai tersebut memutuskan untuk pulang dan kembali ke parkiran mobil menemui sopirnya sambil bergumam. “Bukan rezeki saya. Sudah nunggu dari pagi sampai sore nggak ditemui Mbah Hamid,” katanya kepada sopir mobilnya.

Sopirnya pun nampak bingung dan menjawab, “Lho, selama kiai menunggu beliau, Mbah Hamid malah duduk-duduk bareng ngobrol sama saya,” kata sang sopir.

Kenapa kiai ini tidak ditemui oleh Mbah Hamid? Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf memperkirakan bahwa kiai tersebut datang ke Mbah Hamid untuk keperluan tentang hal-hal yang di luar keperluan Mbah Hamid menjadi wali.

Kisah-kisah kewalian Mbah Hamid Pasuruan ini diungkapkan Gus Yahya untuk mengingatkan bahwa seorang waliallah atau kekasih Allah yang maqamnya begitu dekat dengan Allah tidak akan melakukan sesuatu yang keluar dari keperluan kewaliannya.

Prinsip ini juga yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw yang tidak pernah menggunakan kedudukan dan kemuliaannya sebagai Rasulullah di luar keperluan kedudukannya sebagai seorang rasul.

Hal ini dicontohkan saat Rasulullah tidak mau membela seorang Muslim yang salah ketika berperkara dengan orang Yahudi. Karena Muslimnya yang bersalah, maka Rasulullah tidak membelanya karena memang bukan untuk keperluan itu ia diutus menjadi seorang Rasul.

Dalam konteks Nahdlatul Ulama pun seperti itu. Saat mendirikan Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari tidak terburu-buru. Usulan untuk mendirikan NU sebetulnya sudah cukup lama. Namun Kiai Hasyim butuh waktu panjang untuk menimbang-nimbang dan berpikir apa nanti yang akan dilakukan dan tanggung jawabnya jika sudah berdiri jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Kemudian kemantapan niat diperoleh setelah mendapat isyarah dari sang guru yakni KH Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan (Mbah Kholil)  yang mengirimkan tongkat melalui Kiai As'ad Syamsul Arifin. Tongkat ini disertai ayat sebagai isyarah ayat yang menggambarkan keperluannya didirikan jam'iyah Nahdlatul Ulama.
 
“Maka, Nahdlatul Ulama tidak boleh dipergunakan, diperalat di luar tujuan didirikannya. Itu sebabnya Nahdlatul Ulama tidak mau diajak-ajak bikin khilafah, misalnya. Tidak mau, karena bukan itu tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama,” tegas Gus Yahya pada Haul KH Abdul Hamid bin Abdullah Umar di Pondok Pesantren Salafiyah, Kebonsari, Panggungrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (25/9/2023).

Nahdlatul Ulama tidak bisa digunakan sebagai alat untuk merebut kekuasaan demi kepentingan eksklusif Nahdlatul Ulama sendiri. Karena bukan itu tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama. Nahdlatul Ulama merupakan perwujudan khidmah untuk seluruh bangsa, seluruh kemanusiaan, dan seluruh peradaban. Maka wajib bagi pengurus dan warga NU untuk menghormati apa yang telah ditetapkan sebagai keperluannya mendirikan jam'iyah Nahdlatul Ulama.


Editor: Muhammad Zunus
logo