Pramoedya Ananta Toer: Nasi Dingin dan Mahar Pernikahan

Pramoedya Ananta Toer: Nasi Dingin dan Mahar Pernikahan

Pada suatu siang, saat Ajip tengah asyik mengetik di ruang depan rumah sewaannya di Kramatpulo—dekat rel kereta api di belakang bioskop Rivoli—tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Ketika dibuka, ia melihat Pram berdiri di sana. Kepada sahahabatnya, Pram berbisik menanyakan apakah ada nasi, karena sudah beberapa hari ia tidak makan.

Itu adalah sepenggal kisah pilu Pramoedya Ananta Toer yang diceritakan Ajip Rosidi dalam buku Mengenang Hidup Orang Lain (2010). Ajip terkejut mengetahui bahwa Pram sedang menghadapi krisis keuangan. Bahkan istri Pram, Maimunah, harus diungsikan ke rumah mertuanya.

Namun, pagi itu, istri Ajip sendiri baru saja pulang ke Jatiwangi karena urusan keluarga, meninggalkannya seorang diri. Meskipun ada nasi, itu hanya nasi dingin tanpa lauk apa pun, sebab selama istrinya pergi, Ajip biasa makan di luar. Akhirnya, ia menyajikan nasi dingin itu kepada Pram, yang memakannya dengan lahap hanya dengan mentega.

Ajip Rosidi mengungkapkan bahwa sejak tahun 1954, ketika Mr. Muh. Yamin menjabat sebagai Menteri P.P. dan K., Balai Pustaka mengalami perubahan fungsi. Lembaga yang sebelumnya berperan sebagai penerbit itu tidak lagi menerbitkan buku, melainkan hanya berfungsi sebagai percetakan dengan tugas utama mencetak soal-soal ujian nasional.

Sementara itu, Penerbit Pembangunan yang saat itu dipimpin oleh Soedjatmoko masih menerbitkan buku sastra, termasuk beberapa karya Ajip sendiri. Namun, penerbit tersebut menghindari mencetak ulang buku-buku Pramoedya Ananta Toer, meskipun sebelumnya pernah menerbitkan beberapa judulnya, seperti Keluarga Gerilya, Subuh, serta Tikus dan Manusia. Ajip juga mendengar dari Utuy T. Sontani bahwa naskah kumpulan dramanya ditolak oleh Pembangunan. Menurutnya, mustahil penolakan itu terjadi karena mutu karyanya rendah, sebab pada saat itu Utuy dianggap sebagai salah satu pengarang drama terbaik di Indonesia.

Ia menduga bahwa keputusan Soedjatmoko untuk tidak menerbitkan karya-karya Pram dan Utuy berkaitan dengan kedekatan mereka dengan kalangan kiri. Pram diketahui pernah diundang ke Tiongkok untuk menghadiri peringatan 20 tahun wafatnya sastrawan besar Lu Xun, sedangkan Utuy mendapat undangan untuk menghadiri Konferensi Pengarang Asia Afrika di Tashkent. Tak lama setelah itu, Pram juga ditawari untuk menerjemahkan karya-karya sastrawan Uni Soviet, termasuk Ibunda, karya utama Maksim Gorki.

“Ketika menghadapi kesulitan hidup yang amat sangat, maka uluran tangan yang diberikan oleh pihak kiri itu sangat besar pengaruhnya akan sikap Pram selanjutnya,” ungkapnya.

Ada satu lagi kejadian yang diam-diam menyiratkan betapa sulitnya hidup Pram saat itu. Ajip menceritakan bahwa saat pernikahannya dengan Maimunah, Pramoedya Ananta Toer tidak memiliki uang di sakunya. Ketika tiba waktunya untuk membayar mahar, ia meraba-raba sakunya yang kosong. Melihat hal itu, Ramadhan KH segera menolongnya dengan mengambil dompetnya sendiri dan menyerahkannya kepada Pram, sambil berpura-pura mengatakan bahwa dompet itu miliknya dan sempat terjatuh di mobil.

Pada hari itu, Pram memang datang ke rumah mertuanya di Jalan Tamansari, Jakarta, dengan menumpang mobil yang dikendarai oleh Ramadhan KH dan Nugroho Notosusanto. Ia kemudian mengakui kejadian tersebut dalam surat kepada anaknya yang dimuat dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995). Namun, dalam surat itu, Pram menuliskan bahwa ia meraba-raba sakunya yang kosong bukan karena harus membayar mahar, melainkan untuk membayar buku nasihat pernikahan karya Nazaruddin Latief. Ia juga tidak mengingat bahwa dalam prosesi pernikahan, pengantin pria wajib membayar mahar kepada pengantin wanita.

“Semua orang diam memperhatikan aku. Dan pada waktu genting itu, dalam mana gengsiku bisa runtuh, dan menjadi ketawaan orang banyak, Ramadhan Kartahadimadja yang bijaksana itu dengan tenang mengeluarkan dompetnya sambil berkata: “Jatuh di rumah tadi,” dan membayar harga buku itu,” ungkap Pram.

Atun, atau yang akrab disapa Ramadhan KH, mengakui bahwa ia sendiri sudah lupa akan kejadian itu. “Terus terang, aku lupa kejadian itu, andaikata betul demikian, berarti Pram merekamnya dengan kuat dalam ingatan,” ujarnya dalam buku Di Antara Dua Arus: Biografi Ramadhan KH (2013).
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Malik Ibnu Zaman
Kelahiran Tegal Jawa Tengah. Menulis sejumlah cerpen, puisi, resensi, dan esai yang tersebar di beberapa media online.


Editor: Muhammad Zunus
logo