Bulan Ramadan selalu membawa berkah dan makna mendalam bagi umat Islam. Di bulan yang penuh ampunan ini, Allah SWT sering kali memilih hamba-hamba terpilih-Nya untuk kembali ke hadirat-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Salah satu tokoh besar yang wafat di bulan suci ini adalah Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, seorang ulama kharismatik yang tidak hanya menjadi pilar keilmuan Islam, tetapi juga pejuang kemerdekaan Indonesia. Keistiqamahan beliau dalam menegakkan ajaran Islam dan membela tanah air menjadikannya sosok yang dihormati oleh umat Islam di seluruh Nusantara.
Wafatnya beliau pada 7 Ramadan 1366 H (25 Juli 1947) bukan sekadar kehilangan bagi Nahdlatul Ulama atau pesantren-pesantren di Indonesia, tetapi juga bagi seluruh umat Islam dan bangsa Indonesia. Sebagai seorang ulama dan pejuang, KH Hasyim Asy’ari telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga keutuhan negara dengan fatwa dan perjuangannya yang gigih melawan penjajah. Kepergiannya di bulan suci menambah kesan bahwa beliau telah menuntaskan tugas besarnya di dunia dengan penuh pengabdian, baik dalam dakwah Islam maupun perjuangan kebangsaan.
Lebih dari sekadar peristiwa sejarah, wafatnya KH Hasyim Asy’ari meninggalkan pelajaran berharga (i’tibar) yang tetap relevan sepanjang zaman. Semangat perjuangan, keikhlasan dalam mendidik umat, serta keberanian dalam membela kebenaran adalah warisan yang harus terus dijaga oleh generasi penerus. Dalam konteks hari ini, i’tibar dari kehidupan beliau menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai tantangan, baik dalam membangun peradaban, memperkuat pendidikan Islam, maupun menjaga persatuan dan kedamaian bangsa.
Kisah Seputar Wafatnya Hadratus Syaikh
Menjelang wafatnya, KH Hasyim Asy’ari masih berada di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada 21 Juli 1947 M yang bertepatan dengan 3 Ramadan 1366 H. Setelah mengimami sholat Tarawih dan memberikan pengajian kepada ibu-ibu Muslimat, beliau kedatangan tamu istimewa. Utusan dari Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Bung Tomo datang ke Pesantren Tebuireng, Jombang, dengan didampingi oleh Kiai Ghufron, pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya.
Para utusan tersebut membawa pesan penting yang meminta KH Hasyim Asy’ari untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, demi menghindari kemungkinan ditangkap oleh Belanda. Mereka khawatir, jika beliau tertangkap, Belanda dapat memaksanya membuat pernyataan yang mendukung mereka, yang akan melemahkan semangat perjuangan rakyat Indonesia.
Namun, KH Hasyim Asy’ari menolak permintaan tersebut. Baginya, jihad tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan mempertahankan keberadaan pesantren dan mendidik umat. Beliau meminta waktu semalam untuk berpikir dan bermunajat sebelum memberikan jawaban.
Empat hari kemudian, pada 25 Juli 1947 M yang bertepatan dengan 7 Ramadan 1366 H, utusan dari Hizbullah datang membawa kabar bahwa Malang telah jatuh ke tangan Belanda. Mendengar kabar ini, KH Hasyim Asy’ari terdiam sejenak, mengucapkan “Masya Allah, Masya Allah!”, lalu memegangi kepalanya dan pingsan.
Beliau mengalami pendarahan otak yang sangat parah. Para santri dan keluarga segera memanggil dokter, namun kondisi beliau terus memburuk. Menjelang sahur, sekitar pukul 03.00 WIB, KH Hasyim Asy’ari berpulang ke Rahmatullah.
Suasana duka menyelimuti Pesantren Tebuireng. Para santri, ulama, dan rakyat Indonesia larut dalam kesedihan. Tidak hanya pesantren, tetapi seluruh bangsa merasakan kehilangan yang mendalam. Jenazah beliau dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng, tempat di mana beliau telah mengabdikan hidupnya untuk Islam dan pendidikan. Ribuan orang dari berbagai daerah datang, melantunkan doa dan mengenang perjuangan beliau.
I’tibar: Pelajaran dari Perjuangan Sang Ulama
1. Kepemimpinan Sejati adalah Pengorbanan
KH Hasyim Asy’ari adalah contoh nyata bahwa seorang pemimpin sejati tidak mencari kenyamanan pribadi, tetapi mengorbankan dirinya untuk umat dan tetap berpegang teguh pada prinsip kebenaran. Dalam situasi genting di tengah ancaman penjajahan, beliau memiliki peluang untuk mengungsi dan menyelamatkan diri, sebagaimana disarankan oleh para tokoh perjuangan. Namun, keteguhan hati dan kecintaan beliau terhadap pesantren serta tanggung jawabnya sebagai ulama membuatnya memilih untuk tetap tinggal.
Bagi KH Hasyim Asy’ari, perjuangan bukan sekadar berada di medan tempur, tetapi juga melalui mendidik umat, menjaga keilmuan Islam, dan memastikan bahwa nilai-nilai agama tetap tegak meski dalam kondisi sulit. Hingga akhir hayatnya, beliau tetap berada di tengah santri-santrinya, mengajarkan ilmu dan membimbing umat, seolah ingin menunjukkan bahwa sejati-sejatinya pemimpin bukanlah mereka yang menghindari ujian, tetapi mereka yang tetap berjuang dengan sepenuh hati, bahkan ketika pengorbanan pribadi menjadi harga yang harus dibayar.
Keputusan beliau untuk tidak meninggalkan Tebuireng bukan hanya cerminan keberanian, tetapi juga wujud kesadaran bahwa keberadaannya di pesantren adalah benteng terakhir perjuangan yang harus dipertahankan, bukan hanya untuk santri-santrinya, tetapi untuk bangsa dan agama secara keseluruhan.
2. Jihad Tidak Hanya dengan Senjata, tetapi juga dengan Ilmu dan Keteguhan Hati
Beliau memahami bahwa mempertahankan ilmu dan akidah sama pentingnya dengan bertempur di medan perang, bahkan dalam banyak hal, ilmu adalah senjata utama yang menjaga eksistensi umat dari generasi ke generasi. Seorang ulama bukan hanya bertugas mengajarkan hukum-hukum agama, tetapi juga harus memastikan bahwa umat Islam memiliki kesadaran untuk mempertahankan kehormatan, kedaulatan, dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka.
Fatwa Resolusi Jihad yang beliau keluarkan menjadi bukti bahwa perjuangan melawan penjajah tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan membangun kesadaran, membentuk karakter, dan membangkitkan semangat spiritual yang kuat dalam jiwa umat. Dengan jihad yang mencakup aspek pemikiran, moral, dan akidah, KH Hasyim Asy’ari menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penjajahan bukan hanya sekadar pertumpahan darah di medan tempur, tetapi juga pertahanan terhadap identitas keislaman dan kemandirian bangsa dari segala bentuk dominasi asing.
Warisan perjuangan beliau ini tetap relevan hingga hari ini, di mana umat Islam harus terus menjaga keilmuan, akidah, dan integritas moral sebagai bentuk jihad melawan kebodohan, ketidakadilan, dan segala ancaman terhadap nilai-nilai agama dan kebangsaan.
3. Keteguhan dalam Prinsip Adalah Kunci Keabadian
KH Hasyim Asy’ari adalah sosok yang tidak mudah tergoyahkan oleh tekanan dan ancaman, baik dari penjajah maupun dari pihak-pihak yang berusaha melemahkan semangat perjuangan umat Islam. Sejak muda, beliau telah menunjukkan keteguhan dalam memegang prinsip keislaman dan kebangsaan, menolak segala bentuk penindasan dan ketidakadilan, bahkan ketika harus menghadapi risiko besar, termasuk penangkapan oleh Jepang karena menolak melakukan seikerei.
Ketika Indonesia berada dalam masa kritis setelah proklamasi kemerdekaan, beliau tidak gentar menghadapi kekuatan kolonial yang ingin kembali menguasai negeri ini. Dengan penuh keyakinan, beliau menyerukan Resolusi Jihad, yang membakar semangat rakyat untuk mempertahankan tanah air dengan penuh keberanian. Keteguhan beliau dalam mempertahankan agama dan bangsa menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, bukan hanya dalam ranah keagamaan, tetapi juga dalam membentuk identitas nasional yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan persatuan.
Warisan perjuangannya tetap hidup dalam jiwa bangsa, dan tidak heran jika Presiden Soekarno kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepadanya melalui Keputusan Presiden No. 249/1964, sebagai penghormatan atas jasa dan dedikasi beliau yang luar biasa dalam memperjuangkan kemerdekaan serta mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia.
4. Warisan yang Lebih Berharga dari Harta adalah Ilmu dan Perjuangan
Hingga hari ini, Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama tetap berdiri kokoh sebagai bukti nyata dari warisan perjuangan dan pemikiran KH Hasyim Asy’ari yang tak lekang oleh waktu. Pesantren yang beliau dirikan tidak hanya menjadi pusat pendidikan Islam tradisional, tetapi juga berkembang menjadi lembaga yang melahirkan para pemimpin, ulama, dan cendekiawan yang berperan aktif dalam membangun bangsa. Begitu pula dengan Nahdlatul Ulama, organisasi yang beliau rintis sebagai wadah perjuangan umat Islam, kini menjadi salah satu kekuatan sosial-keagamaan terbesar di dunia, yang terus berkontribusi dalam menjaga keutuhan bangsa dan meneguhkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
KH Hasyim Asy’ari tidak mewariskan kekayaan materi, tetapi sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu ilmu yang mencerahkan, nilai perjuangan yang mengakar kuat, serta semangat persatuan yang menjadi perekat bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Dalam setiap generasi, warisan beliau terus hidup dalam bentuk perjuangan intelektual, sosial, dan kebangsaan yang dilakukan oleh para santri, kader NU, dan umat Islam pada umumnya.
Warisan inilah yang harus terus dijaga oleh generasi penerus, tidak hanya dengan mengenangnya dalam sejarah, tetapi juga dengan meneladani semangat dan pengorbanannya, menerapkan nilai-nilai perjuangan beliau dalam kehidupan nyata, serta berperan aktif dalam menjaga keutuhan bangsa, mengembangkan pendidikan Islam, dan membangun masyarakat yang adil dan sejahtera sesuai dengan cita-cita beliau.
Mengenang wafatnya KH Hasyim Asy’ari di bulan Ramadan bukan hanya tentang nostalgia atau sekadar mengenang jasa-jasa beliau di masa lalu, tetapi juga tentang mengambil inspirasi dan menerapkannya dalam kehidupan hari ini. Ramadan adalah bulan perjuangan dan pengorbanan, bulan di mana umat Islam dilatih untuk menahan diri, memperkuat keimanan, serta meningkatkan ketakwaan dan solidaritas sosial.
Begitu pula perjuangan KH Hasyim Asy’ari semasa hidupnya, yang tidak hanya berlandaskan pada keberanian menghadapi penjajah secara fisik, tetapi juga pada kekuatan ilmu, akhlak, dan keistiqamahan dalam mendidik umat. Di era modern ini, tantangan umat Islam tidak lagi berupa penjajahan fisik seperti yang dihadapi beliau, tetapi dalam bentuk penjajahan pemikiran yang mengikis nilai-nilai agama, penjajahan ekonomi yang melemahkan kemandirian umat, serta penjajahan akhlak yang mengancam moral generasi muda.
Maka, mengenang KH Hasyim Asy’ari seharusnya bukan hanya dalam bentuk penghormatan seremonial, tetapi dengan meneladani perjuangan beliau dalam melawan kebodohan, memperkuat karakter bangsa, serta mempertahankan identitas keislaman yang santun, inklusif, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.
Sebagai generasi penerus, kita harus menyadari bahwa meneruskan perjuangan KH Hasyim Asy’ari bukan berarti harus menghadapi medan perang seperti zaman kolonial, tetapi dengan menghadapi tantangan zaman dengan cara yang lebih relevan. Jika beliau berjuang dengan ilmu, keistiqamahan, dan keberanian dalam menghadapi ketidakadilan, maka hari ini kita harus berjuang dengan meningkatkan pendidikan, memperdalam wawasan keislaman, membangun karakter bangsa yang berlandaskan akhlakul karimah, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.
Perjuangan kita hari ini harus diwujudkan dengan membangun sumber daya manusia yang unggul, mendukung sistem pendidikan yang berorientasi pada kemajuan tanpa kehilangan nilai-nilai Islam, serta memastikan bahwa nilai-nilai kebangsaan tetap dijaga sebagai warisan yang diperjuangkan oleh para ulama dan pendiri bangsa. Kita memiliki tugas untuk menjaga dan mengembangkan warisan KH Hasyim Asy’ari, bukan hanya dalam bentuk menjaga eksistensi Nahdlatul Ulama dan pesantren-pesantren yang beliau dirikan, tetapi juga dalam menjaga semangat keilmuan, perjuangan sosial, dan komitmen kebangsaan yang telah beliau tanamkan dalam sejarah Indonesia.
Semoga Allah SWT merahmati KH Hasyim Asy’ari, menerima segala amal ibadah dan perjuangannya, serta menjadikannya teladan yang terus hidup di hati kita semua. Mari kita jadikan 7 Ramadan bukan hanya sebagai hari mengenang kepergian beliau, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam berjuang demi agama, bangsa, dan kemanusiaan, sesuai dengan nilai-nilai yang telah beliau wariskan kepada kita.
Semoga Allah SWT mengumpulkan beliau bersama para syuhada, para ulama, dan orang-orang yang dicintai-Nya di surga-Nya yang mulia. Kita semua berhutang budi atas perjuangan beliau yang telah ikut menjaga dan mempertahankan negeri ini dalam bingkai Islam dan kebangsaan. Sebagai bentuk penghormatan dan doa untuk beliau, marilah kita bersama-sama membacakan surah Al-Fatihah bagi beliau. Lahul Fatihah…
Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung
Editor: Muhammad Faizin
