Pada awal abad XX, orang-orang di tanah jajahan mengerti ibadah dan hari suci bagi umat Islam. Mereka memberi pengertian dan pengistimewaan melalui bahasa, pakaian, makanan, uang, pelesiran, dan lain-lain. Lebaran masa silam tak semua bisa terkenang dan terimajinasikan.
Orang membaca cerita berjudul Membeli Bini Orang (1909) gubahan Tirto Adhi Soerjo (1880-1918) sedikit mengetahui situasi berlebaran awal abad XX. Jurnalis dan pengarang itu menghadirkan fiksi tapi memungkinkan sebagai “pengantar” menguak masa lalu. Tirto Adhi Soerjo mengisahkan lelaki mengaku pedagang dan perempuan digoda pakaian apik (Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula, 1985).
Percakapan mereka mengingatkan hasrat berlebaran secara istimewa. Lelaki itu mengatakan dengan bujukan: “Koerang berapa hari lagi soedah poeasa. Lebaran soedah di moeka pintoe. Kalau orang tidak poenja memang tidak perloe beli pakaian sekarang boeat lebaran. Orang mampoe, orang kaja seperti njai, tidak halangan beli pakaian boeat lebaran nanti. Djadi tidak poesing-poesing lagi.”
Lebaran terimajinasikan melalui tokoh-tokoh ciptaan Tirto Adhi Soerjo. Cerita itu mengingatkan pakaian (terlalu) dipentingkan bagi kaum bumiputra dalam mengartikan “hari kemenangan” atau “hari suci”. Tirto Adhi Soerjo tak sekadar merekam dalam fiksi. Ia pun membuat artikel berjudul Omong-Omong di Hari Lebaran dimuat dalam Medan Prijaji (1909).
Tema sengaja dipilih dalam membuat percakapan bersama pembaca. Tirto Adhi Soerjo menulis: “Kepada sekalian pembatja jang beragama Islam maka kita menghatoerkan selamat dan memohon moedah-moedahan toean-toean beserta isteri dan keloewarga memberikan maaf atas segala kesalahan jang telah njata dan tidak njata kita lakoekan. Begitoe djoega tak habis siang atau malam kita berdoa moedah-moedahan toean-toen sekalian didjaoehkan dari mara-bahaja dan didekatkan pada segala keselamatan dan kesenangan serta semakin tambah redjeki dan pangkat.” Kita mencatat tiga pokok dalam tulisan: selamat, maaf, dan doa.
Tirto Adhi Soerjo melalui surat kabar menandakan sikap redaksi dan pemaknaan lebaran bersama umat Islam. Ia tak sekadar membuat kalimat-kalimat mirip iklan atau pengumuman. Jurnalis itu memilih memberi artikel cukup panjang. Pada hari-hari menjelang lebaran, para pembaca merasa akrab dengan pengelola surat kabar. Jalinan erat dibuat berdasarkan lebaran. Pendiri dan penggerak Medan Prijaji itu justru mengajak para pembaca memikirkan pelbagai peristiwa besar di Hindia-Belanda dan dunia. Lebaran untuk merenung dan bersikap.
Pada masa berbeda, kita mulai terbiasa dengan beragam ucapan atau pengumuman dari pihak redaksi koran dan majalah. Mereka berkepentingan memberikan selamat, permintaan maaf, dan mengajak berpengharapan. Di Kompas, 9 April 2024, kita membaca pengumuman di halaman depan: “Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1445 Hijriah." Foto dipasang: jamaah menunaikan shalat dengan pancaran sinar matahari dari belakang. Keterangan tambahan: “Nyalakan cahaya iman, saling memaafkan, bersama-sama memancarkan kebaikan.”
Pada awal abad XX, Tirto Adhi Soerjo berusaha mengajak kaum melek aksara di tanah jajahan “ketagihan” membaca surat kabar. Ia memastikan suara-suara melalui surat kabar dapat memberi pengaruh dalam zaman “kemadjoean”. Ia pun menjadikan surat kabar untuk gugatan dan melawan. Dulu, penerbitan surat kabar berharap mendapat penambahan jumlah pembaca. Kehadiran artikel Tirto Adhi Soerjo mengenai lebaran tentu memberi dampak bagi pembaca, melampaui sekadar permintaan maaf.
Situasi berbeda dialami koran-koran (cetak) di Indonesia abad XXI. Jumlah pembaca sedikit. Adegan orang membaca koran tampak “aneh” atau “langka”. Pemuatan beragam iklan atau pengumuman bertema lebaran masih mungkin berpengaruh tapi kecil. Orang-orang memilih ketagihan televisi dan media sosial, tak ada kemauan atau janji masih bersama koran dan majalah (cetak).
Kita mundur sedikit ke belakang. Di majalah Gatra, 28 April-11 Mei 2022, kita melihat sampul belakang digunakan untuk mengeratkan jalinan dengan para pembaca. Kita melihat dua lentera. Suasana gelap. Gambar kubah masjid terlihat samar sebagai latar kalimat: “Segenap manajemen dan karyawan Gatra Media Group mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1443 Hijriah.” Sampul belakang itu hemat kata. Pembaca mungkin beranggapan sampul belakang itu klise, tak ada ajakan merenung atau menggerakkan pemikiran bereferensi kata dan gambar.
Pada 2024, kita masih mungkin membaca majalah Gatra edisi cetak. Majalah berita itu pernah laris sebelum dunia terlalu berubah. Dulu, kita juga mengetahui majalah laris mengesankan dakwah dan membawa suara-suara umat Islam. Majalah itu bernama Panji Masyarakat atau bisa diakrabi Panjimas. Kita sejenak mengenang majalah dan lebaran.
Di terbitan majalah Panji Masyarakat, 30 Ramadhan 1403 H-11 Juli 1983, kita membaca penjelasan dari redaksi: “Terbitnya Panjimas edisi 401 ini, bertepatan dengan 1 Syawal 1403 H, oleh karenanya melalui ruangan ini kami mengucapkan minal aidin wal faizin kepada segenap pembaca. Kami mohon maaf lahir-batin atas segala kesalahan-kesalahan yang kami buat, baik yang disengaja maupun yang tak sengaja… Hal lain yang membuat kami merasa bahagia dan bersyukur kepada Tuhan ialah Idul Fitri tahun ini jatuh hampir bersamaan dengan saat majalah ini memperingati ulang tahunnya yang ke-25…” Majalah itu terbit saat orang-orang memerlukan berita dan terbujuk berpikir dengan artikel-artikel.
Pada saat orang-orang bergawai, kita mengajak menilik suara-suara silam. Di artikel awal abad XX, Tirto Adhi Soerjo tak sekadar pewarta. Ia berperan sebagai pemberi peringatan dan pengundang pemikiran. Di akhir artikel, ia menulis: “Bahaja kemelaratan dan kelaparan soedah koerang terdengar. Hanja bahaja di Pandjaloe, Kaliwoengoe dan Loemadjang, serta bertjaboelnja penjakit pada masa sekarang ini di Djambi dan ikhtiar penolongan, jang kelihatan giat dilakoekan oleh semoea djenis bangsa, memberi poela hiboeran dan kedamaian, sehingga dengan hak kita boleh bergirang dalam merajakan hari lebaran besok, dan saling berdoa moedah-moedahan dihari lebaran berikoetnja kita bisa mendapat kegirangan jang lebih besar daripada sekarang.”
Tulisan dibuat Tirto Adhi Soerjo di Medan Prijaji (1909) membuka ingatan babak keaksaraan bagi sidang pembaca di tanah jajahan. Mereka pun berlebaran dengan bacaan. Pada masa berbeda, pelbagai koran dan majalah ikut berlebaran melalui pemuatan iklan atau pengumuman. Kita menemukan persamaan pokok-pokok disampaikan kepada para pembaca: selamat, maaf, dan doa. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan
