KH Syukron Makmun: Kiai Politik yang Menolak Menyerahkan Dakwah kepada Kekuasaan

KH Syukron Makmun: Kiai Politik yang Menolak Menyerahkan Dakwah kepada Kekuasaan

Minggu pagi di Jagakarsa. Kabar itu bergerak lebih cepat sebelum pernyataan resmi diumumkan. Pesan berantai di grup WhatsApp alumni dan jamaah pengajian mengabarkan, KH Syukron Makmun, pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta telah wafat. Tiga tahun sebelumnya, kabar serupa pernah beredar dan ternyata hoaks. Kali ini akun resmi Pesantren Pesantren Daarul Rahman yang mengumumkan.

"Hari ini, kami kehilangan sosok guru sekaligus panutan yang begitu kami cintai,” tulis akun media sosial pesantren.

Kiai Syukron wafat 18 Oktober 2026, sekiar pukul 07.45 WIB, setelah sebelumnya menjalani perawatan di RS Pondok Indah. Usianya 84 tahun. Jenazahnya dibawa pulang ke pesantren di Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan dimakamkan di sana, di bawah pohon kelapa, tanah yang setengah abad lalu ia rintis dari mimbar jadi lembaga pendidikan.

PBNU menyampaikan duka lewat kanal resminya. Seluruh jaringan pesantren dan majelis taklim pun juga. Kantor Kementerian Agama ikut berbelasungkawa. Sejumlah partai tidak terkecuali PPP, partai tempat ia menjadi Wakil Ketua Majelis Syariah dua periode, datang pernyataan tertulis. Daftar itu memberi petunjuk, pesantren, majelis pengajian, ormas, birokrasi agama, dan partai politik sama-sama merasa kehilangan.

Ketika seorang kiai meninggal, yang diwariskan bisa berupa pesantren, kitab, jamaah, nama besar, atau jaringan politik. Bisa juga sesuatu yang lebih sulit diukur, yakni keteladanan tentang bagaimana menjaga jarak moral dari kekuasaan sambil tetap berada di dalamnya.

Kiai Syukron dijuluki “Singa Podium” yang ia jalani sepanjang hidup. Ia pendakwah yang tumbuh di tengah politik, ulama yang mendirikan dan memimpin partai, tetapi berkali-kali mengingatkan bahwa kepentingan dakwah tidak boleh dikorbankan demi kepentingan politik. 

Sampang, Sidogiri, Gontor

Kiai Syukron lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Menurut riwayat yang dimuat laman Daarul Rahman, ayahnya, KH Ma’mun Nawawi dan kakeknya adalah kiai setempat yang juga berdagang. Ibunya, Hj. Masturoh, mengajarkan Al-Qur’an dan kitab kuning kepada warga sekitar, di antaranya Safinatun Najah, kitab fikih dasar pintu masuk pelajaran hampir setiap santri.

Ia tumbuh di rumah tempat agama dipelajari sekaligus diamalkan sehari-hari. Begitu juga pasar mencari tempat nafkah dan bukan dari jabatan. Pagi ia belajar di Sekolah Rakyat, siang mengaji di Madrasah Miftahul Ulum. Dua jalur itu, sekolah dan madrasah, akan terus berjalan berdampingan sepanjang hidupnya.

Dari Madura ia berangkat ke Pesantren Sidogiri, Pasuruan, salah satu benteng tradisi salafiyah Jawa Timur. Di sana kitab dibaca sorogan, kata demi kata di hadapan guru dan ilmu diterima sebagai amanah yang bersambung dan sinambung. Lalu ia pindah ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Di sana ia menetap enam tahun hingga menamatkan jenjang tsanawiyah dan aliyah. Pada 1966 ia meraih gelar sarjana muda dari Institut Pendidikan Darussalam, cikal bakal ISID Gontor.

Pada masa itu, Gontor menawarkan hal yang berbeda dari Sidogiri. Disiplin asrama, bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa harian, organisasi santri dan latihan pidato yang terjadwal. Ketika masih duduk di kelas lima ia sudah berani ceramah di depan khalayak.

Kesetiaannya pada amaliah tradisional ahlus sunnah seperti tahlilan, maulid, dan ziarah kubur digabung dengan keyakinan bahwa santri harus fasih berbicara di ruang publik. Dalam bahasa pesantren, ngaji tidak berhenti pada menguasai teks. Ia juga harus berkhidmah, karena itu yang membentuk watak seseorang. 

Singa Podium yang datang ke Jakarta

Awal 1967, pemuda berusia sekitar 26 tahun itu sudah berkeliling dari panggung ke panggung di Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi dan Magetan. Waktunya tidak netral. Kawasan itu baru saja mengalami guncangan politik 1965–1966 dan ketegangan antara kelompok santri dan bekas basis kiri yang belum sepenuhnya reda. Dakwahnya kala itu menghadapi ancaman dan situasi yang tidak selalu kondusif dari berbagai kelompok termasuk militer, tetapi ia tetap menggelar pengajian. 

Dari mana julukan singa podium? Julukan “Singa Podium” melekat dari panggung-panggung karena suaranya lantang, sikapnya tegas, dan ia tahan lama di mimbar. Puluhan tahun kemudian, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf masih membenarkan bahwa ceramahnya bisa berlangsung hingga dua jam.

Tahun yang sama ia pindah ke Jakarta. Ia mengaku berguru langsung kepada KH Idham Chalid, Habib Ali bin Husein Al-Attas di Bungur, dan Habib Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang. Riwayat hidup yang beredar luas menambahkan bahwa ia datang atas ajakan Idham dan tinggal serumah dengannya sekitar 1967–1975. Dari Idham Chalid ia belajar politik dan organisasi dari dekat. Pengalaman itu sesuai pengakuannya dan hadir dalam ingatan keluarga dan murid. Ia merasa sangat berkesan ketika harus menggantikan KH Idham Chalid ceramah di Pandeglang, kesan itu ia ingat betul.

Idham Chalid adalah pintu masuk luar biasa. Ia juga alumnus Gontor, Ketua Umum PBNU terlama, dan pada 1971–1977 memimpin MPR dan DPR. Ia pula salah satu deklarator PPP, wadah tempat partai-partai Islam, termasuk NU dipaksa fusi oleh Orde Baru pada 1973. Rekan-rekannya mengenang Idham dengan filsafat air, ia lentur, mudah menyesuaikan diri tetapi punya pendirian.

Kiai Syukron memang tumbuh berkat Kiai Idham, tapi pendiriannya tidak sepenuhnya di bawah bayang-bayang Ketua Umum PBNU itu. Dari dekat ia belajar dan bisa melihat kehidupan ulama yang masuk ke negara harus terus menawar ruang geraknya dengan rezim yang berkuasa penuh. Pelajaran itu ia jadikan acuan berpolitik dan berdakwah puluhan tahun kemudian.

Sejak 1971 ia mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jakarta. Majelis taklim, termasuk rutinan di Islamic Center. Kegiatan itu perlahan menyita waktunya sampai harus meninggalkan dunia kampus. Salah satu kisah yang dicatat NU Online Jakarta, ia biasa mengayuh sepeda ke tempat pengajian juga di musim hujan. Dari situlah modalnya terbentuk. Kemampuan bicara berubah jadi kepercayaan dan kepercayaan itu kelak menjadi tanah, bangunan dan ikhtiarnya mendidik para santri.

Pada masa itu pula ia punya kawan seiring, KH Hasyim Adnan, orator Betawi yang dekat dengannya. “Dua tokoh NU ini kalau sudah manggung jemaahnya enggak mau berhenti,” kenang Kepala Jakarta Islamic Center KH Muhyidin Ishaq pada September 2026. Ia juga mengingatkan bahwa pada 1970-an Kiai Syukron aktif mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak sejalan dengan nilai dan ajaran Islam. 

Daarul Rahman: dari mimbar merintis lembaga pendidikan

Pada 11 Januari 1975, bersama sejumlah tokoh dan pendukung, Kiai Syukron mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pesantren itu berpusat di Jagakarsa dan beranak cabang di Depok dan Bogor. Pada 2015, berdasarkan catatan NU Online peringatan maulid dihadiri sedikitnya 7.000 jamaah di aula pesantrennya di Jl. Senopati Dalam II No. 35A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Membangun pesantren di kota adalah taruhan yang tidak kecil. Jakarta pertengahan 1970-an sedang dibangun dengan uang minyak dan tanah di Kebayoran tidak murah. Sebuah pesantren di sana hanya mungkin berdiri jika orang-orang percaya kepada pendirinya. Dalam arti itu, Daarul Rahman adalah bentuk pelembagaan dakwah, kepercayaan jamaah sebagai dasar bahwa mendidik bukan hanya di podium tapi juga harus mengubahnya menjadi asrama, kurikulum dan guru.

Dari dunia pendidikan yang ia jalani, resepnya meneruskan dua sekolah yang membentuknya: agama dan umum. Daarul Rahman mengadopsi disiplin dan bahasa ala Gontor, tetapi kitab yang diajarkan tetap kitab pesantren salaf. “Di pondok kita hanya ajarkan Fathul Qarib,” katanya merendah kepada Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang berkunjung pada Februari 2021. Kalimat itu ia ucapkan sambil keheranan bahwa alumni pesantren kecilnya bisa sampai ke mana-mana. Pada kunjungan itu pula, di usia 80 tahun, ia menyetir sendiri mobil golf untuk mengajak tamunya berkeliling asrama.

Berapa santri dan alumninya? Kita akan kesulitan menghitungnya, namun yang tercatat, Romahurmuziy menyebut pesantren itu telah melahirkan banyak alumni di berbagai bidang dan para alumni hadir dalam bedah buku tentang gurunya di Jakarta Islamic Center sebulan lalu.

Pertanyaan yang tidak kalah menarik adalah soal waktu. Karisma pendiri adalah modal utama sebuah pesantren, sekaligus mengandung risiko besar. Daarul Rahman menjawabnya jauh sebelum hari ini. Pada 2023, laman resmi MUI sudah menyebut putranya, KH Muhammad Faiz Syukron Ma’mun, sebagai pimpinan pesantren. Peralihan itu berlangsung ketika sang ayah masih hidup dan masih bisa mengawasinya.

Kiai politik: berpartai tanpa menyerahkan mimbar

Rekam jejak organisasinya panjang. Ia belajar organisasi benar-benar dari bawah dengan memimpin Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama hingga memimpin Lembaga Dakwah NU. Sebagai Ketua Lembaga Dakwah PBNU pada era kepemimpinan Gus Dur dengan Hasyim Adnan sebagai pengurus pendamping. Ia kemudian memimpin Forum Ulama dan Habaib (FUHAB), wadah yang menjadikannya simbol pengikat lintas mubaligh dan habib.

Jejak kepartaiannya lebih berliku dan menarik. Setelah Reformasi 1998 dan lahir PKB, ia tidak bergabung namun mendirikan Partai Nahdlatul Ummat yang kemudian berganti nama menjadi Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI). Ia ketua umumnya. Pada Maret 2007, PPNUI akan bergabung dengan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Alasan yang disampaikan pengurus Jawa Timurnya, sama-sama berasas Ahlussunnah wal Jamaah, sedangkan PKB berasas Pancasila. Ada pula hitungan verifikasi Pemilu 2009. Kiai Syukron hadir saat PKNU dirancang di Pesantren Langitan walau semula tidak setuju dengan namanya.

Setelah itu ia kembali ke PPP. Riwayat yang beredar menyebut kepulangan itu terjadi pada 2008 atas permintaan ketua umum partai, lewat sebuah nota kesepahaman. Romahurmuziy mengonfirmasi ia menjabat Wakil Ketua Majelis Syariah DPP PPP pada 2011–2014 dan 2014–2019.

Sekitar satu dekade ia mendirikan partai, memimpinnya, merundingkan penggabungan, lalu pulang ke rumah lama. Bisa dibaca langkah itu adaptasi situasi di mana partai kecil harus mencari kendaraan agar suaranya tidak hangus oleh ambang batas. Bisa pula dibaca bentuk konsistensi pada satu hal, yaitu partai harus berasas Aswaja dan kendaraannya boleh berganti asal asas itu terjaga. 

Di tengah lintasan itulah pernyataan yang paling sering dikutip darinya lahir. Mei 2009, sebulan setelah pemilu legislatif, ia ceramah di Gedung PBNU dan mengingatkan politisi berlatar Nahdliyin agar tidak mengorbankan kepentingan dakwah demi kepentingan politik. “Boleh saja nggak jadi DPR boleh saja partainya kalah, tetapi tahlilan dan barzanji harus jalan terus,” katanya. 

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung hierarki. Partai adalah alat, kursi DPR bisa hilang. Kita tidak boleh menghilangkan amaliah yang menjadi tulang punggung kehidupan keagamaan warga NU di kampung. Ia mengucapkannya bukan dari luar politik, melainkan sebagai pemimpin partai yang baru melewati musim pemilu.

Ia mendirikan partai bukan untuk mencari kekuasaan atau jabatan tetapi berdakwah agar politik mengutamakan akhlak. Suaranya lantang, bergema dengan khotbah Iduladha yang ia sampaikan di Jakarta International Stadium pada Juli 2022. “Kalau kau mencintai kedudukan, kalau kau mencintai jabatan, tanggalkanlah ambisi.” Ia melihat dari dekat ambisi para tokoh sebagai penyebab umat terpecah.

Apakah ia sendiri lolos dari ujian itu? Tidak ada catatan skandal atau kasus padanya. Ia memilih tetap berada di dalam politik dan berbicara keras tentang batasnya. Itu posisi yang lebih sulit daripada menjauhi politik sama sekali atau menyerahkan sepenuhnya kepada orang-orang politik yang sepenuhnya mengejar kekuasaan.

Keras di mimbar, lentur di meja runding

Singa Podium menggambarkan ketegasan retorika, tetapi retorika tidak menjelaskan cara seseorang memutuskan di ruang rapat. Di mimbar ia bisa berkata partai boleh kalah. Di meja perundingan ia menimbang merger, ambang batas dan nota kesepahaman. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Tetapi pembaca yang hanya mengenal suaranya akan kehilangan separuh ceritanya apabila memandangnya hanya di atas panggung.

Ia dikenal gigih membela amaliah Aswaja dari tuduhan bid’ah. Namun cara yang ia ceritakan sendiri jauh dari permusuhan. Pada 2015, di depan ribuan jamaah maulid, ia mengisahkan dialognya dengan mufti Arab Saudi Syekh Abdullah bin Baz di Makkah. Menurutnya, Bin Baz akhirnya berpesan padanya, lakukan amalan itu bila Anda benar-benar memahami syariatnya. Ia juga bersahabat dengan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki di Makkah, tokoh dari kubu yang berseberangan dengan Bin Baz. Ia memperlihatkan seorang ulama yang berani berpolemik, berdebat sambil bertamu.

Hari ini sepeninggalnya adalah antara otoritas pribadi dan kebutuhan lembaga pendidikan. Pesantren yang dibangun di atas nama seorang orator pada akhirnya harus belajar hidup tanpa suara dan keputusannya. Generasi peneruslah yang sepenuhnya mengemban tanggung jawab.

Bagaimana orang lain mengenangnya

Kesaksian dari luar keluarga memberi gambaran menarik. KH Hasyim Adnan, sahabat seperjuangannya di Lembaga Dakwah PBNU, menurut catatan NU Online, pernah dengan keras meminta Kiai Syukron berhenti merokok, padahal ia sendiri perokok. Ketika Hasyim wafat pada 1988, Kiai Syukron imam salat jenazahnya.

Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, dalam acara selawat di Cengkareng pada 2022, menyebutnya “guru kita”. Pada acara yang sama Kiai Syukron mengaku hadir hanya untuk ikut berselawat, bukan berceramah. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, cucu KH Bisri Mustofa yang bersahabat dengan Kiai Syukron sejak muda, mengaku banyak menerima masukan darinya. Masukannya khusus kepada Menteri Agama bahwa merumuskan kebijakan di pusat harus libatkan kiai kampung karena menurutnya pikiran mereka masih bersih.

Silsilah dan tulisan

Rumah kiai di Madura, Sidogiri, Gontor dan para habib Jakarta, lalu tradisi organisasi NU. Ada pula garis sanad yang menyambungkan jalur Sidogiri dan Gontor dengan Syekh Mahfuzh at-Tarmasi menggambarkan untaian keilmuannya.

Karya tulis yang berkaitan dengannya antara lain Risalah Pemantapan ASWAJA (1988), Riba dan Bank (1995), Apakah Bid’ah Itu? (2007), Pembaharuan dalam Agama, serta buku saku Aplikasi Nilai-Nilai Pancasila, yang ia tulis selama pandemi. Dari judulnya saja terlihat medan perhatiannya pada pembelaan amaliah, ekonomi ummat dan kebangsaan.

Benang yang paling jelas terbaca dari ceramah-ceramahnya adalah gagasan Islam sebagai agama peradaban. Pada Desember 2022 ia jelaskan bahwa Islam berbicara tentang rumah tangga, RT/RW, ekonomi, dan politik, dan menurutnya peradaban politiklah yang paling sering dilupakan. Pada bedah buku tentang dirinya, September 2026 lalu ia berpesan agar peradaban itu tidak disimpan dalam peti. Ia mengaitkannya dengan korupsi, bahwa upaya penindakan saja tidak cukup tanpa kesadaran mencari harta yang halal. Pada 2019, di Cempaka Putih, ia menekankan kewajiban menghormati dan mengutamakan hidup bertetangga meski berbeda agama dan keyakinan.

Warisan yang tidak bisa dihibahkan

Kiai Syukron wafat di bulan yang tidak benar-benar tenang bagi NU. Muktamar ke-35 baru saja usai dan menjelang muktamar, sejumlah berita memuat kegelisahan para kiai soal politik uang dan tarikan kepentingan politik dari luar. Dalam suasana seperti itu, kalimatnya tentang tahlilan dan kursi DPR terdengar sangat menyentuh persoalan.

Warisannya bukan rumus menyelesaikan semua masalah. Ia tidak membuktikan bahwa ulama harus menjauhi partai dan tidak pula membuktikan ulama aman berada di dalamnya. Ia meninggalkan kita sebuah ukuran. Keterlibatan politik seorang kiai boleh dinilai dari satu pertanyaan sederhana, apa yang tetap berjalan ketika partainya kalah?

Pesantren yang ia bangun memperlihatkan ukuran itu dalam bentuk paling konkret. Ia mendidik santri dalam kitab salaf dan disiplin modern di tengah kota yang terus berubah. Tantangan berikutnya akan berbeda dalam meneruskan Aswaja kepada generasi yang mengenal kiai lewat potongan video bukan lewat pengajian seperti yang biasa ia lakukan.

Gus Faiz dan beratnya mewarisi pengabdian

Pewarisnya sudah lama disiapkan. Republika mencatat, ketika masih duduk di sekolah dasar, Muhammad Faiz kecil menemani ayahnya menembus malam dari Jakarta ke Buntet, Cirebon, untuk mengikuti bahtsul masail. Ia kemudian belajar di Kairo dan Madinah, memimpin PCINU Mesir, menjadi Katib Syuriyah PBNU dan sejak 2023 menjabat Ketua Umum MUI DKI Jakarta. Ia juga baru saja ditetapkan sebagai salah satu Wakil Ketua Umum PBNU sekarang. Dari segi jabatan sudah melampaui yang pernah diemban ayahnya.

Pada November 2023, ketika hoaks tentang wafatnya sang ayah beredar, Gus Faiz merekam video bersama “pak kiai” bahwa ayahnya masih sehat dan selalu bersamanya.

Awal September 2026, sebulan sebelum ayahnya wafat, Gus Faiz bicara di sebuah majelis tentang hilangnya keberkahan dalam hidup modern. Salah satu contohnya, berdasarkan NU Online adalah dakwah yang kehilangan ruh karena terlalu dikomersialkan. Ia tidak menyebut nama ayahnya. Tetapi siapa pun yang membaca riwayat seorang pendakwah yang bersepeda meski dilanda hujan akan menangkap pesan yang begitu kuat tentang khidmah.

Jelang akhir hayatnya, KH Syukron Makmun masih menyimpan keinginan berkunjung ke Habib Hasan di Singapura, makam ayahnya di Madura, dan Habib Luar Batang di Jakarta. Sebelum wafat, ia telah berwasiat agar dimakamkan di lingkungan pesantren yang diasuhnya di Jagakarsa, serta berpesan agar pemakamannya disegerakan dengan sahabat-sahabatnya memimpin shalat jenazah dan talqin. 

Gus Faiz meminta KH Mahfudz Asirun, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimami shalat jenazah KH Syukron Makmun dan Habib Ali Abdurrahman Kwitang memimpin tahlil setelah pemakaman.

Di hadapan ribuan pelayat, putranya, KH Faiz Syukron Makmun menyatakan kesediaan menuntaskan kewajiban almarhum yang berkaitan dengan hak sesama manusia. Kepergian Kiai Syukron menutup perjalanan panjang seorang ulama yang meninggalkan jejak dalam dunia pesantren, dakwah dan politik Indonesia.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abi S Nugroho
Aktivis masyarakat sipil, menempuh Magister Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Editor: Muhammad Zunus
logo