Jalan Sunyi NasSirun PurwOkartun: Dari Ngartun, Mandita Menulis Babad

Jalan Sunyi NasSirun PurwOkartun: Dari Ngartun, Mandita Menulis Babad

Dalam dunia yang kian mendewakan viralitas, Nassirun Purwokartun memilih jalan sunyi: menggali masa lalu, menulis ulang, dan menyajikannya dalam bahasa zaman. Ia percaya, masa depan suatu bangsa hanyalah sekuat akar sejarah leluhurnya. Untuk itulah ia menulis, agar akar itu tak lapuk dimakan waktu

Sebuah rumah besar dari kayu tua berdiri menghadap sawah di dekat hutan Desa Mandirancan, Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah. Menilik citra bangunan yang lekat dengan unsur budaya, pemiliknya tentu bukan sosok sembarangan. Dialah Nassirun Wijaya alias NasSirun PurwOkartun, budayawan Banyumas yang kini madeg mandita menempuh jalan sunyi sebagai penulis buku babad ataupun sejarah.

Ada tiga bagian penting pada rumah yang dibangun Kang Nass—sapaan akrabnya, pada 2016. Sisi unik adalah “Museum Kecil Kang NasS’ yang berslogan Bertamu ke Masa Lalu, mengoleksi aneka benda lawas seperti mesin ketik jadul, kaset pita, sepeda tua, dan berbagai perkakas mainan anak-anak era 70, 80 dan 90-an. Bagian selanjutnya adalah ‘Bale Pustaka’ yang dipenuhi 12 ribu buku koleksinya, serta ruangan umum “Balai Papat” untuk kegiatan masyarakat.

Uniknya, di depan rumah juga terdapat ‘kandang kebo’, balai kecil untuk menerima tamu dan ngobrol santai. Sebuah kenangan untuk sang ayah yang sejak kecil menjadi penggembala kerbau hingga tidak sempat sekolah. Kang Nass menjadi penulis, salah satunya, karena lahir dari orang tua buta huruf, dan sehari-hari hidup di kendang kerbau. Maka, gazebo ‘kandang kebo’ adalah monumen untuk ayahnya.

Dari kartunis menjadi penulis
Nassirun kelahiran Banyumas, Juni 1978. Masa kecilnya penuh keterbatasan, keluarganya petani sederhana, ayahnya buta huruf pula. Namun Nassirun kecil punya minat besar dengan buku dan menggambar. Ini terlihat sebelum ia masuk TK. Kala itu, tahun 1980-an, pemerintah mencanangkan Program Bebas 3 Buta: Buta baca-buta tulis-buta hitung. Setiap Minggu, sang ayah harus ‘bersekolah’ di balai desa. Setiap pulang membawa modul pembelajaran.

“Karena Ayah malas membukanya, saya yang membuka. Sebagai anak kecil, saya hanya bisa melihat gambar-gambarnya. Ilustrasi yang menarik. Saya sangat suka,” kenangnya.

Nassirun mencoba meniru gambar-gambar itu. Setiap minggu, sang ibu membelikan buku gambar untuknya. Bermula dari meniru, ia pun bisa menggambar sendiri. 

“Setiap ada Porseni di kecataman, saya selalu ditunjuk sekolah. Gambar pahlawan karya saya dipasang di kelas dan ruang guru,” kenangnya bangga.

Di kelas 5 SD karya Nassirun kecil dimuat Mitra, majalah anak sekolah di Banyumas. Adalah gambar burung beo putih berparuh kuning. Idenya dari kalender yang pernah dilihatnya di rumah teman sekelas. Honor lima ribu rupiah dalam bentuk wesel pun diberikan secara seremonial oleh kepala sekolah saat upacara bendera.

Di masa SMA, Nassirun tak lagi mengirim gambar ke media, melainkan beralih kartun. Coretannya banyak dimuat di koran, tabloid, dan majalah lokal Jawa Tengah maupun nasional. Untuk memperkuat jaringan ia ikut komunitas kartunis. Di Purwokerto ada komunitas bernama Purwokartun— Purwokerto kartunis. Tokoh pendirinya Fadjar Purwokartun, yang kemudian lebih dikenal sebagai pemusik dan pelawak dan kondang dengan nama panggung Fadjar Sopsan.

"Saya diterima jadi anggota. Dan, langsung dapat undangan mengikuti pameran kartun nasional di Purna Budaya Jogja,” tuturnya.

Masih di bangku SMA, ia diterima menjadi kartunis opini atau karikaturis tetap di media ibu kota. Honornya sangat berarti untuk kartunis muda sepertinya. Corat-coretnya pun semakin genit dan berani pada setiap terbitannya.

Presidenku Gus Dur Sekali
Ikhwal nama “Nassirun Purwokartun” tercipta untuk membedakan dirinya dengan pelukis nasional Nasirun asal Cilacap, pada sebuah pameran di Gedung Soetedja Purwokerto. Sejak saat itu, nama pena itu terus mengiringinya hingga kini. Dua pameran kartun yang berkesan adalah pameran tunggal “Presidenku Gus Dur Sekali” (1999) dan “Babar Blas” pada 2019.

Puas ngartun dan melukis, Nassirun ingin mendalami dunia menulis. Tahun 1999 ia turut membidani berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) di Purwokerto dan Jawa Tengah. Berbagai kegiatan seperti ‘Pelat Pulpen’ (pelatihan menulis cerpen), novel dan jurnalistik digelutinya dengan serius. Ia kuat menulis berlama-lama, rakus membaca berbagai karya. Buku-buku sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Arswendo Atmowiloto hingga Emha Ainun Nadjib, dilahapnya dengan tuntas. Semua itu seperti ‘pembalasan’ yang dipersembahkan untuk sang ayah yang buta huruf.

Dekontsruksi Penangsang, Pembelaan tokoh yang dihitamkan
Tahun 2000 Nassirun pindah ke Kota Solo. Di kota ini banyak penerbit besar. Kang Nass bekerja di tiga kantor. Siang di penerbit, sore di redaksi majalah, dan malam di redaksi koran. Atmosfer kepenulisan pun cerah, yang menguatkan karakternya sebagai penulis. 

Suatu hari, terbersit cita-cita lama untuk menuliskan seorang tokoh yang membekas sejak kecil, Arya Penangsang. Adipati Jipang Panolan itu dalam Babad Tanah Jawi digambarkan sebagai tokoh antagonis. Demikian pula dalam pentas ketoprak tobong di kampung yang ia tonton waktu kecil. Setelah dewasa, Kang Nass mempertanyakan narasi sejarah yang cenderung membelah hitam dan putih secara tajam. Awalnya ia ragu untuk menulis pembelaan pada sosok Penangsang. Akhirnya ia sowan ke Keraton Surakarta untuk menghadap dengan Gusti Puger, putri Raja Surakarta, Susuhunan Paku Buwana XII.

“Saya berbincang dengan Beliau, meminta pendapat tentang Penangsang. Jawabnya, Penangsang bukanlah pemberontak. Dia hanya menuntut hak,” ujar Kang Nass menirukan Gusti Puger.

Nassirun pun kemudian memantapkan diri menulis Penangsang dalam novel. Novel perdana berjudul Penangsang, Tembang Rindu Dendam pun diterbitkan Tiga Serangkai Solo pada 2010. Mengambil sudut pandang berbeda. Penangsang murid kinasih Sunan Kudus itu dicitrakan Nassirun sebagai ksatria, bukan penguasa yang angkara murka.

"Padahal Beliau murid Sunan Kudus, seorang ulama, waliyyul amri yang dikenal lurus,” sanggah Kang Nass.

Novel Penangsang pun dibedah dalam event Indonesia Book Fair di Jakarta. Dukungan datang dari arah yang tak disangka. Seorang yang mengaku keturunan Penangsang menemuinya di hotel tempat menginap usai bedah buku. Sang tamu merasa terwakili dengan novel Penangsang. Bahwa selama ratusan tahun kisah Penangsang yang hitam telah coba diputihkan. Ia juga membawa silsilah keluarga dan informasi baru, bahwa Penangsang wafat di Palembang dalam usia 90 tahun, bukan gugur dalam perang pertempuran di dekat Bengawan Sore.

"Sosok yang gugur dalam perang tanding pertempuran di dekat Bengawan Sore adalah saudaranya. Penangsang berhasil melarikan diri ke Cirebon hingga menyeberang ke Palembang," tutur sang tamu sembari menunjukkan ikrar Keturunan Penangsang berisi 25 paugeran atau norma kehidupan, yang memegang teguh nilai kebajikan dan melarang melakukan kebatilan.

Dorongan yang besar membuat Nassirun menulis hingga lima jilid novel Penangsang selama 18 tahun. Maka lahirlah pentalogi novel Penangsang berikutnya: Kidung Takhta Asmara, Tarian Rembulan Luka, Lukisan Sembilan Cahaya, dan Sabda Kasih Sayang. Belakangan, novel-novel itu dicetak ulang dengan judul baru antara lain: Jadikan Dirimu Cinta, Jadikan Dirimu Rindu, dan Jadikan Dirimu Mulia.

Mandita menulis Babad Banyumas
Setelah 25 tahun merantau, Nassirun kembali ke kampung halaman. Kepulangannya ke Mandirancan diikuti dua truk besar yang mengangkut puluhan ribu buku yang diboyongnya dari Solo. Di kampungnya ia berdiam (mandita) dan meniatkan diri untuk fokus menggali khazanah yang nyaris terlupakan: babad Banyumas

Kang Nass mendapati lebih dari 150 naskah babad Banyumas tersimpan di tangan kolektor, keluarga bangsawan, atau teronggok dalam bentuk aksara Jawa dan tembang Macapat yang tak lagi akrab bagi generasi kini.

"Babad-babad itu bukti bahwa leluhur kita adalah kaum intelektual. Mereka bisa menulis saat banyak orang belum bisa membaca,” katanya. "Saya punya kewajiban untuk membuat naskah-naskah bisu itu bersuara kembali."

Ia mulai dengan menerjemahkan Babad Banyumas Mertadiredjan, dilanjutkan dengan Babad Banyumas Wirjaatmadjan karya R.A. Wirjaatmadja—pendiri BRI. Kedua babad ini, menurutnya, menjadi potret lengkap Banyumas dari era Majapahit hingga kolonial.

Kegiatan penerjemahan menjadi ketekunan yang butuh kesabaran luar biasa. Ia menerjemahkan lebih dari 30 naskah babad—tidak hanya dari Banyumas, tapi juga Banjarnegara, Cilacap, Kebumen, Wonosobo, dan daerah lainnya. Semua dilakukan dengan berdikari, karena belum ada pihak yang peduli.

Namun Nassirun menyadari bahwa babad perlu diadaptasi agar relevan. Ia menyasar generasi muda, menyadur kisah-kisah leluhur menjadi buku cerita anak, dongeng, hingga buku bacaan untuk PAUD hingga mahasiswa. Maka ditulislah 71 bacaan untuk mereka. Hingga Serial Babad Banyumas yang telah mencapai 101 judul.

"Banyak yang mengira babad itu bacaan orang tua. Padahal, kisah-kisah tokohnya sangat inspiratif. Anak-anak Banyumas harus tahu siapa leluhurnya,” tutur Nassirun.

Wisata kijing
Uniknya, Nassirun tak hanya berpuas diri dengan menggali sumber primer dari buku, manuskrip, maupun naskah sejarah yang ada. Untuk melengkapi penelitiannya, ia rutin berziarah ke ratusan makam bangsawan, ulama, dan kuburan tua lainnya. Bukan hanya di Banyumas, ia napak tilas dengan wisata kijing ke daerah Cilacap, Banjarnegara, Kebumen, Wonosobo hingga luar provinsi secara mandiri. Di sana ia menemui juru kunci, meneliti makam, dan memetakannya dalam catatan.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Pemerintah dan banyak tokoh menyimak proses kreatifnya. Kang Nass pun sering diundang oleh lembaga dinas terkait untuk menjadi nara sumber berbagai kegiatan literasi dan pemajuan budaya lokal. 

Tanpa gelar sarjana, Nassirun bangga saat karyanya menjadi bahan skripsi bahkan tesis mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Baginya, mimpi terbesar bukanlah menjadi penulis terkenal. Tapi agar generasi muda, mengenal siapa leluhurnya—bukan dari sinetron atau media sosial, tapi dari naskah sejarah yang hidup kembali.

"Saya ingin anak-anak muda bangga jadi orang Banyumas. Karena leluhur kita bukan hanya petani dan prajurit, tapi juga pujangga, pemikir, dan ksatria pejuang peletak dasar peradaban lokal," tandas Nassirun.

Kini rumah unik di tepi hutan itu tak sunyi lagi. Banyak pelajar, mahasiswa, guru dan masyarakat yang ingin datang untuk belajar babad Banyumas. Yuli Astuti, istrinya setia mendampingi. Juga kedua putranya: Ahyadiina Fikri Nurani Wijaya dan Iqra’ Bismi Rabbika Wijaya, yang selalu mendukung cita-cita gila ayahnya.


Editor: Kendi Setiawan
logo