Untuk membuktikan keotentikan nabi yang diutus-Nya, Allah swt memperlihatkan sejumlah irhash dan mukjizat kepada nabi tersebut. Diketahui, irhash adalah hal-hal ajaib dan luar biasa yang dialami para nabi sebelum diutus, sementara mukjizat dialami setelah fase pengutusan. Nabi Muhammad merupakan utusan Allah yang memiliki banyak irhash maupun mukjizat. Tidak heran, karena putra Abdullah ini merupakan nabi terakhir. Berikut adalah lima fakta menarik terkait irhash saat Rasulullah baru saja lahir dari kandungan sang ibunda, Aminah.
Lahir Sudah Dikhitan
Khitan merupakan salah satu syariat Islam yang diwajibkan bagi laki-laki Muslim agar memperoleh kesucian. Orang yang belum dikhitan shalatnya tidak sah karena kemungkinan masih ada najis (air kencing) yang tersisa di kemaluannya. Maka, laki-laki wajib dikhitan ketika sudah mencapai usia baligh karena di usia ini ia sudah mendapat kewajiban-kewajiban menjalankan semua perintah agama. Oleh sebab itu, khitan merupakan simbol kesucian bagi umat Islam. Dalam satu hadits diriwayatkan,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ
Artinya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda, “Fitrah itu ada lima, atau ada lima fitrah yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis.’” (HR Muslim)
Menariknya, begitu lahir, Nabi Muhammad sudah dalam keadaan dikhitan. Ini membuktikan bahwa beliau merupakan manusia yang selalu dijaga kesuciannya oleh Allah swt. Selain berkaitan dengan kesucian dzahir berupa khitan, Nabi juga beberapa kali mengalami penyucian batin melalui pengalaman luar biasa. Sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadits, dada Rasulullah pernah dibedah sebanyak tiga kali oleh malaikat untuk dibersihkan hatinya, yaitu saat masih kecil dalam asuhan Halimah as-Sa’diyah, saat diutus menjadi Nabi, dan saat melakukan isra mi’raj.
Lahir dalam Keadaan Sujud
Saat bayi baru lahir, mereka harus beradaptasi dengan perubahan drastis dari lingkungan rahim yang lembab dan hangat ke lingkungan di luar tubuh yang lebih dingin dan berbeda secara kimiawi. Ini bisa membuat mereka merasa tidak nyaman dan menangis. Kondisi tersebut merupakan reaksi alami saat bayi menyesuaikan diri dengan perubahan ini.
Berbeda dengan Nabi Muhammad, saat lahir beliau bukan menangis sebagaimana bayi pada umumnya, melainkan langsung mengambil posisi sujud menghadap ke kiblat. Imam as-Suyuthi dalam Khashāishul Kubrā bahkan menegaskan bahwa Nabi tidak hanya sujud, tetapi juga menengadahkan tangan dan berdoa kepada Allah swt. (as-Suyuthi, 2017: 82)
Penting kita pahami bahwa sujud merupakan posisi yang menunjukkan kedekatan hamba dengan Allah swt. Sujud yang dilakukan Rasulullah saat baru lahir menunjukkan kelak beliau akan menjadi hamba yang memiliki tingkat spiritualitas sangat tinggi di sisi Allah swt. Dalam satu hadits diriwayatkan,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ.
Artinya, “Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Saat paling dekat bagi seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia sujud, karena itu perbanyaklah berdoa ketika sujud." (Abu Daud)
Dalam Islam, sujud merupakan simbol totalitas penghambaan seorang Muslim kepada Allah. Pada posisi ini, anggota tubuh yang paling dimuliakan yaitu kepala dan wajah, ditundukkan serendah-rendahnya sampai menyentuh tanah. Bahkan jika sujud tidak menempelkan jidat ke tempat sujud, maka shalat tidak sah. Ini merupakan ekspresi penghambaan yang sangat kuat sehingga sujud disebut sebagai waktu mustajab untuk memanjatkan doa. Berikut penulis kutipkan penjelasan Syekh Abdul Muhsin al-‘Ubbad saat menguraikan makna hadits di atas,
وهذا فيه بيان أن حالة السجود هي أخص أحوال العبد، وأقرب ما يكون فيها صلة بالله سبحانه وتعالى؛ لأنه في غاية الخضوع والذلة لله سبحانه وتعالى، فيكون بذلك مخبتاً راجياً سائلاً؛ لأنه في حالة غاية التذلل لله سبحانه وتعالى؛ لأنه يضع أشرف شيء فيه وهو وجهه -جبهته وأنفه- على الأرض
Artinya, “Hadits ini menjelaskan bahwa posisi sujud merupakan kondisi yang sangat istimewa bagi seorang hamba. Sujud merupakan simbol kekuatan keterhubungan antara hamba dengan Tuhan-nya. Saat sujud, orang sedang mengekspresikan rasa hina dan rendah di hadapan Allah, sebab anggota tubuh paling mulia dalam dirinya yaitu wajah, jidat, dan hidung, ditempelkan ke tanah. Sebab itu pada posisi ini ia dianjurkan untuk berdoa.” (al-‘Ubbad: vol. 3, h. 113)
Tertutupnya Akses Portal Langit
Sebelum Islam datang, disebutkan bahwa iblis mampu menembus portal langit untuk mengintai suratan takdir dengan mencuri dengar perbincangan para malaikat di langit. Kemudian, informasi yang diperoleh iblis tersebut akan ia bagikan kepada para dukun yang bekerjasama dengannya. Oleh sebab itu dukun pada zaman dulu bisa mengetahui hal-hal yang akan terjadi. Hanya saja, informasi yang disampaikan jin sering dicampuri dengan banyak kebohongan sehingga umat manusia banyak tersesat olehnya.
Ketika Nabi Muhammad lahir, akses “portal langit” ini tertutup rapat sehingga iblis tidak lagi mampu “meretas” informasi suratan takdir yang sudah didata dalam lauhul mahfudz. Meski begitu iblis tetap berusaha mencuri dengar, hanya saja setiap kali mereka berusaha menembus langit akan jatuh karena sudah dilempari oleh benda-benda langit. Abul Qasim as-Suhaili dalam ar-Raudhul Unf menyampaikan,
رُوِيَ فِي مَأْثُورِ الْأَخْبَارِ أن إبليس كان يخترق السّماوات قَبْلَ عِيسَى، فَلَمّا بُعِثَ عِيسَى، أَوْ وُلِدَ حجب عن ثلاث سماوات، فَلَمّا وُلِدَ مُحَمّدٌ حُجِبَ عَنْهَا كُلّهَا، وَقُذِفَتْ الشّيَاطِينُ بِالنّجُومِ
Artinya, “Diriwayatkan dalam beberapa hadits yang ma’tsur, dulu iblis bisa mencuri dengar di langit sebelum Nabi Isa diutus. Setelah Isa diutus atau dilahirkan, tertutup tiga lapis langit. Hingga Nabi Muhammad lahir, iblis tidak bisa lagi mencuri dengar sama sekali, sebab setan-setan sudah dilempari dengan bintang-bintang.” (as-Suhaili: vol. 2, h. 194)
Runtuhnya Simbol Kemusyrikan
Tujuan besar diutusnya seorang nabi adalah untuk menumpas kemusyrikan. Begitupun ketika Rasulullah saw diutus, kehadirannya menjadi titik balik akidah umat manusia. Saat Rasul baru terlahir di bumi, sejumlah gereja runtuh tanpa sebab, tempat-tempat ibadah orang musyrik lainnya pun demikian, bahkan “api suci” sesembahan umat Yahudi yang menyala selama 1.000 tahun tiba-tiba padam begitu saja. Sontak hal di luar nalar ini membuat umat manusia tercengang bukan kepalang. Dalam satu riwayat Imam al-Baihaqi disebutkan,
لما كانت الليلة التي ولد فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم ارتجس إيوان كسرى، وسقط منه أربع عشرة شرفة، وخمدت نار الفرس، ولم تَخمُد قبل ذلك بألف عام، وغاضت بحيرة سَاوة
Artinya, “Pada malam kelahiran Nabi Muhammad saw, balkon istana Kisra runtuh, 14 gereja runtuh, api (sesembahan Majusi) di Persia padam yang sebelumnya menyala selama 1.000 tahun, dan gereja Bahira ambles ke tanah.”
Kekecewaan Umat Yahudi
Salah satu keistimewaan yang dimiliki Bani Israil (umat Yahudi) adalah banyak para nabi yang diutus dari golongan mereka. Bahkan disebutkan hanya 10 nabi yang bukan dari Bani Israil, yaitu Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Luth, Ishaq, Ya’qub, Isma’il, dan Muhammad. Ibnu Abbas menegaskan:
كل الأنبياء من بني إسرائيل إلا عشرة: نوح وهود وصالح وشعيب وإبراهيم ولوط وإسحاق ويعقوب وإسماعيل ومحمد عليهم الصلاة والسلام.
Artinya, “Seluruh nabi berasal dari Bani Israil, kecuali sepuluh yaitu Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Luth, Ishaq, Ya’qub, Isma’il, dan Muhammad.”
Saking terlalu percaya dirinya umat Yahudi, sebelum Nabi Muhammad lahir mereka yakin bahwa nabi akhir zaman akan diutus dari kalangan mereka. Oleh sebab itu setiap kali berperang dengan Ghathfan, satu kabilah keturunan suku Mudhar dari jalur suku Qais 'Ailan, mereka akan bertawasul kepada nabi terakhir yang saat itu belum lahir. Setiap tawasul atas nama Muhammad mereka akan memenangkan peperangan. Ibnu ‘Abbas meriwayatkan
كَانَتْ يَهُوْدُ خَيْبَرَ تُقَاتِلُ غَطَفَانَ فَكُلَّمَا الْتَقَوْا هَزَمَتْ يَهُوْدُ خَيْبَرَ فَعَاذَتِ الْيَهُوْدُ بِهٰذَا الدُّعَاءِ: إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ لَنَا فِي آخِرِ الزَّمَانِ إِلَّا تَنْصُرُنَا عَلَيْهِمْ. قَالَ: فَكَانُوا إِذَا الْتَقَوْا دَعَوْا بِهَذَا الدُّعَاءِ فَهَزَمُوا غَطَفَانَ، فَلَمَّا بُعِثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَرُوا.
Artinya, “Dulu Yahudi Khaibar berperang melawan kabilah Ghathfan. Dan setiap terjadi pertempuran antara mereka, Yahudi Khaibar selalu mengalami kekalahan, maka Yahudi Khaibar berdoa demikian, ‘Ya Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan-Mu dengan perantara Muhammad, Nabi yang Ummi (buta huruf), yang telah Engkau janjikan pada kami bahwa Engkau benar-benar akan mengutusnya untuk kami di akhir zaman. Berikanlah kami kemenangan. Lalu merekapun mampu mengalahkan Ghathfan.’” (HR al-Hakim)
Mereka tahu akan diutusnya nabi akhir zaman berdasarkan penjelasan dalam kitab Taurat. Namun kenyataan tidak semanis harapan. Mereka kecewa saat mengetahui nabi akhir zaman lahir bukan dari golongan mereka. Hal ini membuat Yahudi gempar dan kecewa sehingga yang semula beriman kepada Nabi Muhammad, kini mereka gengsi bahkan sampai mengingkarinya hanya karena terlahir dari bangsa Arab, bukan Yahudi sebagai nabi-nabi lainnya.
Terkait dengan hal ini, terdapat cerita menarik. Suatu kali, pada malam kelahiran Nabi Muhammad, seorang Yahudi mendatangi rumah Siti Aminah untuk memata-matai identitas bayi milik Aminah. Setelah mengetahui bahwa bayi Aminah adalah nabi terakhir yang dijanjikan dalam Taurat dan Injil, dia terkejut dan pingsan. Setelah sadar, dia mengucapkan, "Celaka! Hilang sudah kenabian dari Bani Israil." Riwayat cerita ini disampaikan oleh Abu Abdillah an-Naisaburi dalam Al-Mustadrak ‘alash Shahihain, 2009: vol 2, h. 257. Wallahu a’lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Faizin
