Arina.id - Pada sesi Ngaji Jawahirul Qur’an oleh KH. Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) pada Pasanan Edisi Ramadan 1446 H, pembahasan kali ini masih berfokus pada bagian kelima dari kitab Jawahirul Qur’an. Dalam kajian ini, ayat-ayat dalam Al-Qur’an diklasifikasikan ke dalam dua kategori besar, yaitu al-usul (fondasi utama) dan at-tawabi (pendukung).
Tiga tema utama dalam kategori al-usul mencakup prinsip-prinsip dasar agama, sementara tiga tema dalam kategori at-tawabi bertujuan untuk menguatkan dan menjelaskan ayat-ayat yang bersifat mendasar.
“Jadi ayat Al-Qur’an itu dipecah jadi dua: ada ayat-ayat yang kategorinya ayat-ayat fondasi utama [dasar]. Kemudian ada ayat-ayat yang isinya adalah mendukung ayat-ayat yang berkenaan dengan dasar-dasar Akidah,” kata Gus Ulil dikutip dari Youtube, Ghazalia College, [Sabtu, 15/03/2025].
Bantahan Al-Qur’an terhadap Akidah Kafir
Lebih lanjut, bagian kelima dari kajian ini termasuk dalam kategori tawabi yang berfungsi sebagai pendukung bagi ayat-ayat fundamental dalam Al-Qur’an. Tema utama dalam bagian ini adalah muhâjatu al-kuffâr [مُحاجَّةِ الكفار] yang berarti adu argumentasi dengan kaum kafir serta menjelaskan kesalahan-kesalahan mereka dalam aspek akidah.
Imam Ghazali menyebutnya dengan tema:
في مُحاجَّةِ الكفار ومجادَلَتِهم وإيضاحِ مَخازيهم بالبُرهان الواضح وكَشْفِ تَخَايِيلِهِم وأباطيلهم
Artinya: “Dalam perdebatan dengan orang-orang kafir dan adu argumen dengan mereka, serta menjelaskan kehinaan mereka dengan dalil yang jelas, serta menyingkap khayalan dan kebatilan mereka.” [Imam Ghazali, Jawahirul Qur’an, [Beirut: Darul Ihyaul Ulum, 1987], halaman 32]
Selanjutnya, Imam Al-Ghazali, seperti dikutip oleh Gus Ulil (halaman 32, edisi Darul Ihyaul Ulum, Beirut), menjelaskan bahwa Al-Qur’an membantah keyakinan kaum kafir yang dianggap keliru, baik dalam hal keimanan maupun pandangan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW. Dalam kajian ini, ada tiga aspek utama yang menunjukkan kesalahan akidah mereka.
Pertama, mereka menyandarkan sifat-sifat yang tidak layak kepada Allah SWT. Salah satu contohnya adalah keyakinan sebagian masyarakat Arab pada masa jahiliyah bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Selain itu, kaum Nasrani berkeyakinan bahwa Allah memiliki anak dan berada dalam konsep Trinitas sebagai Tuhan ketiga dari tiga Tuhan.
أَحَدُهَا: ذِكْرُ الله تعالى بما لا يليق به، مِن أنَّ الملائكة بناتُه وأنَّ له ولداً وشريكاً، وأنه ثالث ثلاثة
Artinya: “Pertama, menyebut Allah Ta’ala dengan sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, seperti mengatakan bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan-Nya, bahwa Dia memiliki anak dan sekutu, serta bahwa Dia adalah salah satu dari tiga (trinitas).” [Imam Ghazali, halaman 33]
Kata Gus Ulil, sebagai umat Islam, kita menghormati penganut agama lain, namun dalam aspek teologis, terdapat perbedaan mendasar antara Islam, Kristen, dan Yahudi. Meskipun ketiga agama ini berasal dari sumber yang sama, yaitu ajaran Nabi Ibrahim AS, Islam memiliki konsep tauhid yang menegaskan bahwa Allah itu Esa, tidak beranak, dan tidak diperanakkan.
“Konsep ini ditegaskan dalam Surah Al-Ikhlas yang menjadi dasar keimanan umat Islam terhadap Allah SWT,” tambahnya.
Kedua, mendebat kebatilan akidah kaum kafir, tentang penolakan mereka terhadap kenabian Muhammad SAW. Mereka menuduh Rasulullah sebagai penyihir, dukun, dan pembohong. Bahkan, mereka menganggap Nabi hanyalah manusia biasa yang tidak layak untuk diikuti. Padahal, dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT. Salah satu keistimewaannya adalah kemaksuman, yaitu keterjagaan dari dosa dan kesalahan dalam menyampaikan wahyu.
Kaum kafir pada masa Rasulullah juga menolak ajaran kenabian dengan dalih bahwa seorang nabi seharusnya memiliki keistimewaan luar biasa yang kasat mata, seperti kekayaan atau kemampuan mukjizat yang spektakuler. Namun, dalam Islam, kenabian tidak ditentukan oleh kemewahan duniawi, melainkan oleh wahyu yang disampaikan kepada mereka. Oleh karena itu, pengingkaran terhadap kenabian Muhammad SAW merupakan bentuk kebatilan yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.
والثاني: ذِكْرُ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بأنه ساحرٌ وكاهِنٌ وكذَّاب، وإنكارُ نبوَّته، وأنه بشرٌ كسائر الخلق فلا يستحق أن يُتَّبع.
Artinya: “Kedua, menyebut Rasulullah SAW dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar, seperti menyebutnya sebagai tukang sihir, dukun, dan pendusta, serta mengingkari kenabiannya dengan mengatakan bahwa ia hanyalah manusia biasa seperti makhluk lainnya sehingga tidak pantas untuk diikuti.” [Imam Ghazali, halaman 33]
Ketiga, dari kebatilan akidah kaum kafir adalah penolakan mereka terhadap Hari Akhir. Mereka tidak percaya pada konsep kebangkitan setelah kematian, surga, neraka, serta balasan bagi perbuatan baik dan buruk di akhirat. Menurut mereka, kehidupan hanya terbatas pada dunia ini, tanpa adanya konsekuensi di kehidupan selanjutnya. Al-Qur’an secara tegas membantah pandangan ini dengan menyatakan bahwa setiap manusia akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah SWT.
Penolakan terhadap Hari Akhir ini bukan hanya terjadi di masa Rasulullah, tetapi juga masih ada hingga kini. Banyak orang yang hanya berorientasi pada kehidupan duniawi tanpa memikirkan konsekuensi di akhirat. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memperkuat keyakinan terhadap adanya kehidupan setelah mati, karena keyakinan ini menjadi dasar bagi amal dan perilaku seorang mukmin di dunia.
وثالثها: إِنكارُ اليوم الآخِر، وجَحْدُ البَعْثِ والنُّشور، والجنةِ والنار، وإنكارُ عاقبة الطاعة والمعصية. وفي مُحاجَّةِ الله تعالى إياهم بالحُجَج لطائفُ وحَقائق، ويوجد فيها التِّرْياقُ الأكبر، وآياتُه أيضاً كثيرة ظاهرة.
Artinya: “Ketiga, mengingkari hari akhir, menolak adanya kebangkitan dan pembalasan, surga dan neraka, serta mengingkari akibat dari ketaatan dan kemaksiatan.”
Perdebatan dalam Al-Qur’an
Sejak zaman Nabi Muhammad, banyak orang kafir yang menolak kebenaran ajaran Islam, terutama mengenai hukuman di akhirat. Mereka tidak percaya bahwa ada kehidupan setelah mati, sehingga mereka terus berdebat dengan Nabi. Dalam menghadapi perdebatan ini, Allah menggunakan hujah-hujah yang rasional untuk membantah keyakinan mereka.
Dalam proses adu hujjah ini, Al-Qur’an menyampaikan makna-makna yang lembut dan hakikat kebenaran yang sejati. Jika kita memperhatikan bagaimana Allah membongkar kelemahan akidah orang-orang kafir, kita akan menemukan banyak hikmah di dalamnya. Namun, makna-makna ini tidak bisa langsung dipahami oleh semua orang. Hanya para ulama yang dapat menangkap pesan-pesan tersembunyi yang ada dalam ayat-ayat ini.
Menariknya, dalam argumentasi yang digunakan Al-Qur’an, ada kemiripan dengan filsafat Yunani. Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu-ilmu yang berasal dari Yunani, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, sebenarnya juga ada dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat kaya dengan pemikiran rasional yang dapat digunakan untuk membangun argumentasi keimanan.
Dalam perdebatan ini, ada istilah yang disebut tiryak, yang dalam bahasa Arab berarti penawar racun atau antidot. Dalam konteks ini, tiryak adalah simbol dari penawar terhadap kesesatan akidah. Dengan memahami argumentasi dalam Al-Qur’an, seseorang bisa menangkal pemikiran-pemikiran yang keliru dan menyimpang.
Memakmurkan Jalan Menuju Allah
Selanjutnya, tema kedua dalam kajian ini adalah tentang bagaimana manusia bisa memakmurkan jalan menuju Allah. Perjalanan menuju Allah adalah perjalanan panjang yang penuh rintangan. Al-Ghazali menggambarkan perjalanan ini seperti sebuah perjalanan fisik, di mana seseorang harus melewati berbagai pos perhentian sebelum sampai ke tujuan.
Di setiap pos perhentian, ada amalan yang harus dilakukan. Al-Qur’an mengajarkan bagaimana kita bisa menjaga tempat-tempat ini, menyiapkan bekal, serta mempersiapkan senjata untuk menghadapi gangguan dalam perjalanan spiritual ini. Gangguan itu diibaratkan sebagai begal di jalanan. Begal-begal ini adalah hawa nafsu dan godaan dunia yang bisa membajak perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Gambaran ini tentunya bersifat metaforis. Al-Ghazali menggunakan bahasa kiasan agar lebih mudah dipahami. Memakmurkan tempat-tempat di jalan menuju Allah berarti memperbaiki diri, memperbanyak amal ibadah, dan menjauhi godaan yang bisa menghambat perjalanan spiritual kita.
Jika kita bandingkan dengan pendekatan para sarjana Muslim modern, kita akan menemukan perbedaan cara pandang dalam memahami tema-tema Al-Qur’an. Misalnya, Fazlur Rahman dalam bukunya Major Themes of the Qur’an lebih fokus membahas hubungan manusia dengan Allah serta posisi manusia dalam semesta. Toshihiko Izutsu, seorang sarjana Jepang yang mendalami Islam, menulis Man in the Qur’an, yang membahas manusia dalam perspektif Al-Qur’an.
Berbeda dengan mereka, Al-Ghazali lebih menekankan bahwa tujuan utama Al-Qur’an adalah hidayah, yaitu petunjuk agar manusia kembali kepada Allah. Bagi beliau, ayat-ayat yang membahas fenomena dunia hanyalah pelengkap. Hal terpenting adalah bagaimana manusia bisa menjalani hidupnya sesuai dengan tujuan utama Al-Qur’an.
Dalam perjalanan menuju Allah, dunia ini diibaratkan sebagai stasiun perhentian, bukan tujuan akhir. Sementara itu, badan manusia adalah kendaraan yang harus dirawat agar perjalanan bisa berjalan lancar. Jika kendaraan tidak dirawat, perjalanan akan terhambat. Begitu pula dengan kehidupan kita, jika tidak menjaga tubuh dan keluarga dengan baik, maka perjalanan spiritual kita tidak akan sempurna.
Oleh karena itu, Islam mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan ibadah. Manusia membutuhkan makanan, minuman, dan pernikahan agar kehidupannya berjalan dengan baik. Jika kebutuhan ini tidak diatur dengan baik, maka manusia akan saling berebut dan dunia menjadi kacau. Hal ini justru akan menghambat perjalanan menuju Allah.
Dalam Islam, ada lima prinsip utama yang harus dijaga agar kehidupan tetap harmonis, yaitu menjaga agama (hifdzuddin), menjaga nyawa (hifdzun nafs), menjaga keturunan (hidfzun nasl), menjaga harta (hifdzul mal), dan menjaga kehormatan (hifdzul ‘irdh). Jika lima hal ini dijaga, maka kehidupan manusia akan seimbang dan perjalanan menuju Allah bisa berjalan dengan baik.
Dengan memahami kajian dari Gus Ulil ini, kita semakin menyadari betapa Al-Qur’an memberikan petunjuk yang lengkap dalam menjalani kehidupan. Perdebatan dalam Al-Qur’an, merupakan bantahan, dan sarana untuk memahami kebenaran dengan lebih mendalam. Sementara itu, perjalanan menuju Allah adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan bekal, kesabaran, dan kesiapan untuk menghadapi berbagai rintangan di sepanjang jalan. Wallahu a‘lam.
Editor: Aiz Luthfi
