Saat Rasulullah Mencium Tangan Pekerja Kasar

Saat Rasulullah Mencium Tangan Pekerja Kasar

Arina.id - Setiap manusia pasti menginginkan mendapatkan pekerjaan yang layak dan ekonominya lancar sehingga bisa memenuhi kebutuhan kehidupannya sehari-hari. Pekerjaan apapun selama masih berada dalam aturan syariat adalah mulia, meskipun itu pekerjaan kasar dan menguras tenaga seperti kuli bangunan, penjual minuman keliling, ojek, sopir, satpam, pedagang asongan, buruh dan sebagainya.

Bahkan pernah suatu ketika Rasulullah mendapati seorang sahabatnya yang berprofesi sebagai pekerja kasar dan beliau memuliakannya:

روى أنس بْن مالك: أن رَسُول الله ﷺ لما أقبل من غزوة تبوك، استقبله سعد الأنصاري، فصافحه النَّبِيّ ﷺ ثم قال: ما هذا الذي أكتب يديك، قال: يا رَسُول الله، أضرب بالمر والمسحاة فأنفقه عَلَى عيالي، فقبل يده رَسُول الله ﷺ وقال: هذه يد لا تمسها النار

Artinya: "Anas bin Malik meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah pulang dari Perang Tabuk, kemudian Sa’ad Al-Anshari menyambut dan Rasulullah menyalaminya, lalu Rasulullah berkata: Apa yang menyebabkan kedua tanganmu menjadi kasar?, Sa’ad menjawab: Wahai Rasulullah, aku bekerja menggunakan tampar dan menyekop tanah untuk menafkahi keluargaku, lalu Rasulullah mencium tangannya dan bersabda: Inilah tangan yang tidak akan disentuh api neraka.  (Asadul Ghabah Fi Ma’rifatis Sahabah, 2/240)

Perlu diketahui bahwa kata qabbala dalam kamus Al-Bisri karya KH Adib Bisri diartikan mencium. Sedangkan dalam Mu’jam Ma’any diartikan sebagai: 

لَثَمه، لامس أحدَ أعضائه بشَفَتيه للتَّحيّة أو إظهار الشّوق ، قبَّل الأبُ ولَدَه

Artinya: "Latsama (mencium), memegang, menyentuh salah satu anggota tubuh seseorang dengan kedua bibirnya untuk menghormati (penyambutan) atau menampakkan kecintaan dan sayang, seperti ayah yang mencium anaknya."

Ibnu Atsir mengutip pendapat Abu Musa yang dituangkan dalam Asadul Ghabah (2/420) mensinyalir bahwa Sa’ad yang dimaksud bukanlah Sa’ad bin Muadz Khazraji. Pasalnya, dia sudah meninggal sebelum perang Tabuk.

Namun kisah tentang Rasulullah mencium kedua tangan Sa’ad ini memberikan pelajaran penting untuk siapapun agar semangat bekerja menafkahi anak istri dan orang tua meskipun pekerjaan itu kasar dan dipandang remeh. Kedua tangan para pekerja kasar yang berorientasi untuk menafkahi keluarga itu adalah mulia.  

Kisah dari sahabat Rasulullah ini juga mengajarkan tentang arti penting sebuah etos kerja. Sebab beliau bersabda:

دينارٌ أنفقْتَهُ في سبيلِ اللهِ ، ودينارٌ أنفقتَهُ في رقَبَةٍ ، و دينارٌ تصدقْتَ بِهِ على مسكينٍ ، ودينارٌ أنفقتَهُ على أهلِكَ ، أعظمُهما أجرًا الذي أنفقْتَهُ على أهلِكَ

Artinya: "Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, itu pahalanya lebih besar (daripada amalan kebaikan memerdekakan budak, sedekah untuk miskin)" (HR. Muslim no. 995).

Dalam hal ini, Rasulullah adalah orang yang sukses memberikan teladan menjadi pekerja keras saat beliau menjadi pedagang dan sosok yang  bertanggungjawab menafkahi keluarganya sesuai dengan sabdanya :

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خيرُكم خيرُكم لأهله، وأنا خيرُكم لأهلي

Artinya: "Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku." (HR. Tirmizi, 3895)

Dari sini juga dapat dipetik pelajaran, bahwa kisah ini menjadi peringatan bagi siapa saja, agar tidak menghina profesi para pekerja kasar, sebab Rasulullah tidak pernah mencontohkan demikian. Malah, beliau memuliakan pekerja kasar dengan mencium tangannya dan mengatakan, bahwa tangan yang kasar sebab bekerja untuk menafkahi keluarga tidak akan disentuh api neraka.

Oleh karena itu, Rasulullah mencontohkan rasa empati dan memuliakan para pekerja kasar itu, sebagai bentuk dukungan moral kepada mereka yang bekerja untuk mencari nafkah demi keluarganya. Meski profesinya kasar dan keuntungannya tidak seberapa, dia tetap mulia di hadapan Rasulullah. Wallahu a'lam bis shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo