Istilah wali, Nabi Khidir dan Imam Mahdi sangat populer dalam Islam. Pasalnya, selain memang telah termaktub dalam beberapa literatur keislaman, ketiga nama tersebut termasuk sosok yang misterius.
Permasalahan semakin serius tatkala muncul oknum yang mengaku sebagai wali atau dinisbatkan pada tokoh tertentu yang populer dengan sebutan titisan Imam Mahdi, Nabi Khidir dan sebagainya.
Seperti yang telah diketahui, masyarakat awam kerap buru-buru meyakini, menasbihkan seseorang sebagai wali atau bahkan sebagai Imam Mahdi berdasarkan popularitas, viral, dan memiliki banyak pengikut.
Padahal untuk mengidentifikasi seseorang termasuk wali atau bukan, tidaklah mudah. Sebab ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Setidaknya menjadi tolok ukur bersama.
Kasus dan kejadian oknum mengaku menjadi wali atau ditasbihkan menjadi wali maupun Imam Mahdi, sebenarnya terjadi berulang-ulang. Bahkan pada tahun 1940, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari mengabadikannya dalam kitab Durar Muntatsirah.
KH Hasyim Asy'ari memotret fenomena tersebut karena sedang marak pentasbihan seseorang menjadi wali dan Imam Mahdi. Bagi Kiai Hasyim, hal ini adalah fitnah yang meluas, terlebih masyarakat awam begitu mudah mempercayainya.
Kiai Hasyim mengutip hadits dari kitab Hilyatul Aulia:
قال النبي صلى الله عليه وسلم ان الفتنة تجئ فتنسف العباد نسفا وينجوا العالم بعلمه (ابو نعيم في الحلية)
Artinya: "Nabi Muhammad bersabda sesungguhnya fitnah akan datang lalu merusak umat, dan yang selamat adalah orang alim sebab keilmuannya."
Maksud hadits ini bahwa gelombang cobaan/fitnah akan menerjang umat dan kerusakan parah menimpa mereka, mengecualikan orang alim yang selamat sebab keilmuannya.
ديني جنيسي چوبا ايكو اكيه باڠت : ستڠه چوبا كڠ ڠروساأكن كوولا اكيه، ايكو فڠاكوان ڬورو طريقة لن فڠاكوان ولي، ماله انا كڠ ڠاكو ولي قطب لن انا كڠ ڠاكو امام مهدي
"Betapa banyak fitnah yang melanda, di antaranya adalah pengakuan seseorang sebagai guru tarekat dan waliyullah. Bahkan ada pula yang mengaku sebagai wali kutub dan Imam Mahdi."
Sayangnya, masyarakat awam yang tidak mendapatkan asupan keilmuan yang benar, mereka pun ikut arus fitnah tersebut dan mempercayai ajarannya. Oleh sebab itu Kiai Hasyim memberikan pengetahuan kepada masyarakat terkait ciri-ciri waliyullah.
Waliyullah dalam Perspektif KH Hasyim Asyari adalah manusia yang terjaga dari dosa besar maupun kecil, dan mampu mengalahkan nafsunya. Tidak pula melakukan pelanggaran hukum yang disepakati dalam kitab fikih. Jika dia sempat melakukan maksiat, maka secepatnya bertaubat.
Dengan kata lain, syarat waliyullah itu memiliki sifat mahfud artinya seorang yang terjaga dari maksiat, dan jika sempat berbuat maksiat, ia secepatnya bertaubat dan tidak mengulangi lagi. Kiai Hasyim mengutip keterangan Risalah Qusyairiyah:
ومن شرط الولي ان يكون محفوظا كما ان من شرط النبي ان يكون معصوما
Artinya: "Salah satu syarat waliyullah adalah harus memiliki sifat terjaga (mahfud) dari perbuatan maksiat, seperti halnya syarat nabi yang terjaga (maksum) dari maksiat. "
فكل من كان للشرع عليه اعتراض فهو مغرور مخدوع
Artinya: "Setiap orang yang menyalahi syariat agama, maka ia dijerumuskan oleh hawa nafsu dan terbujuk bisikan setan."
Pesan untuk berhati-hati
Tidak cukup itu saja, Kiai Hasyim juga mewanti-wanti umat Islam agar selalu berhati-hati dan tidak mudah mempercayai kabar atas kewalian seseorang.
Beliau menegaskan: "Wahai saudara-saudaraku, ingatlah pesan Syekh Abu Yazid Albustami untuk tidak mempercayai kabar kewalian seseorang yang viral dan dipuji oleh khalayak luas, serta memiliki keramat."
Karena ciri khas kewalian itu adalah memiliki sifat istiqamah menjalankan akhlak yang dicontohkan Rasululullah, tidak suka popularitas dan berpegang teguh pada syariat agama.
Mengutip kitab Nataij Al-Afkar, Kiai Hasyim menambahkan:
الولي لا يفتح باب الشهرة والدعوى بل لو قدر ان يدفن نفسه لفعل: فكل من اراد الظهور فليس من اهل الطريق في شيء بل هو على عكس حالهم
Artinya: "Seorang wali itu tidak akan suka popularitas/ terkenal dan tidak suka pengakuan atas kewaliannya. Malah dia berusaha untuk menutupinya. Sebab siapa saja yang berkeinginan untuk terkenal, maka ia bukan termasuk ahli tarekat (wali), bahkan itu merupakan tingkah laku orang yang tidak bertarekat."
Walhasil, merujuk pada ulasan Hadratussyekh Hasyim Asyari tersebut, harus diakui bahwa masyarakat awam banyak yang kurang teredukasi terkait ciri-ciri seorang wali. Mereka seringkali tidak berhati-hati sehingga mudah tertipu kabar atas kewalian seseorang.
Sebaiknya, piranti berupa ketundukan pada syariat agama, akhlaqul karimah dan menjauhi popularitas dalam menilai kewalian seseorang, haruslah tetap dikedepankan, agar tidak mudah terjerumus pada kesimpulan yang membuta, sehingga dengan mudahnya menganggap orang yang keramat, viral, dan 'nyeleneh' itu adalah waliyullah.
Terlebih di era digital seperti sekarang ini, fitnah berhembus melalui media dengan banyaknya komentar dari follower, viral, terkenal, keramat seolah-olah telah menjadi patokan baku dalam menjustifikasi kewalian seseorang. Padahal tidak demikian.
Editor: Muhammad Faizin
