Hubbul Wathan minal Iman yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Cinta tanah air sebagian dari iman” adalah pernyataan yang sering kali dikutip banyak orang, terutama pada momen-momen sakral nasional seperti hari kemerdekaan atau peringatan hari pahlawan.
Ada yang menganggap bahwa Hubbul Wathan minal Iman berasal dari ungkapan seorang tokoh, sebagian menilai itu adalah kalam ulama. Dan, tak sedikit dari mereka yang percaya bahwa Hubbul Wathan minal Iman adalah pernyataan Nabi alias hadis.
Lantas bagaimana sebenarnya akar sejarah dari slogan Hubbul Wathan minal Iman ini ? Siapa tokoh yang kali pertama menggunakan ungkapan ini?
Fakta bahwa Hubbul Wathan Minal Iman bukanlah sebuah hadis telah diamini oleh hampir semua cendekiawan Muslim. Dari kelompok Salafi misalnya, mereka secara tegas menyatakan bahwa slogan Hubbul Wathan minal Iman bukan sebuah hadis, dan cinta tanah air bukanlah bagian dari keimanan. Jika seseorang meyakini akan hal ini, kata mereka, bisa mengarah pada fanatisme.
Dalam tulisan Syarah al-Mandzumah al-Baiquniyyah, h. 70, Syekh al-Utsaimin (1925 – 2001), salah seorang penghulu ulama Salafi di Saudi Arabia dan pernah menjabat sebagai ketua di Hai'ah Kibarul Ulama (semacam MUI di Kerajaan Arab Saudi) menyatakan:
"حب الوطن من الإيمان" وهو مشهور عند العامة غلى أنه حديث صحيح, وهو حديث مكذوب, بل المعنى أيضا غير صحيح بل حب الوطن من التعصب
Artinya: “Hadits ini sangat populer di kalangan orang-orang awam (dan disangka) bahwa ini hadis sahih, padahal ini adalah hadis palsu dan dusta. Bahkan maknanya juga tidak benar, karena cinta tanah air termasuk ta’ashshub (fanatik yang tercela)”
Lain halnya dengan warga Nahdlatul Ulama. Meskipun sama-sama menyatakan bahwa Hubbul Wathan minal Iman bukanlah hadis Nabi, namun mereka tidak menganggap kecintaan terhadap tanah air sebagai bentuk fanatisme.
Dilansir dari situs resmi Nahdlatul Ulama, salah satu tokoh Nahdliyyin yang juga mantan ketua umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, menyebutkan bahwa pernyataan Hubbul Wathan minal Iman difatwakan oleh pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, untuk membakar semangat para pejuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya pada peristiwa perang 10 November di Surabaya. Pernyataan tersebut, kata Kiai Said, kemudian dikutip oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dan dimasukkan dalam Mars Syubbanul Wathan yang ia ciptakan pada tahun 1916:
Yaa Lal Wathan Yaa lal Wathan Yaa lal Wathan
Hubbul Wathan Minal Iman
Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Sementara itu dari kelompok Muhammadiyah, dalam situs resmi mereka, Muhammadiyah.or.id salah satu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yakni Syafiq Mughni menyatakan bahwa slogan Hubbul Wathan minal Iman bukan berasal dari Nabi, namun bermula dari seorang Misionaris Kristen yang sangat terkenal di dunia Arab, yakni Butrus al-Bustani (1819-1883).
Butrus al-Bustani dianggap sebagai tokoh nasionalis Suriah yang pertama. Ia menerbitkan surat kabar Nafir Suriyah (Sangkakala Suriah), surat kabar pertama di kawasan Syam. Nafir Suriyah terbit di Beirut seusai perang saudara di Gunung Lebanon pada 1860 dan peristiwa pembantaian umat Kristen di Damaskus pada tahun yang sama. Butrus al-Bustani, kata Syafiq Mugni, sangat menentang segala bentuk sektarianisme, mencetuskan semboyan Hubbul Wathan minal Iman. Gerakan nasionalisme yang dicetuskan oleh Butrus ini mengedepankan kesamaan sejarah dan kebangsaan rakyat negeri Syam, tanpa membedakan agama dan mazhabnya masing-masing.
Meskipun demikian, penyematan Butrus al-Bustani sebagai pencetus pernyataan Hubbul Wathan minal Iman oleh Syafiq Mugni tampaknya kurang tepat, karena pernyataan tersebut sudah muncul dan tidak sedikit dari kalangan ulama-ulama klasik yang meneliti jauh sebelum Butrus lahir. Diantara peneliti itu ialah Al-Hafidz al-Sakhawi (w. 902 H)
حَدِيث: حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ، لم أقف عليه، ومعناه صحيح في ثالث المجالسة للدينوري من طريق الأصمعي، سمعت أعرابيا يقول: إذا أردت أن تعرف الرجل فانظر كيف تحننه إلى أوطانه، وتشوقه إلى إخوانه، وبكاؤه على ما مضى من زمانه، ومن طريق الأصمعي أيضا، قال: قالت الهند: ثلاث خصال في ثلاثة أصناف من الحيوان، الإبل تحن إلى أوطانها، وإن كان عهدها بها بعيدا، والطير إلى وكره، وإن كان موضعه مجدبا، والإنسان إلى وطنه، وإن كان غيره أكثر نفعا،
Artinya: “Saya tidak menemukan ada hadis: ‘hubbul wathan minal iman’, tetapi makna yang dikandungnya adalah benar. Disebutkan dalam kitab al-Mujalasah karya Imam al-Dinawari (w. 333 H) dari jalur al-Ashma’I, bahwasanya salah seorang ‘Arabi pernah berkata: ‘Jika kamu ingin mengetahui (kebaikan) seseorang, maka lihatlah bagaimana cintanya pada tanah airnya, kerinduannya kepada saudara-saudaranya dan tangisannya atas apa yang telah lewat dari zamannya’”. (Syamsyuddin al-Sakhawi, Al-Maqashid al-Hasanah [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1985], h. 297)
Imam Sakhawi juga menyebutkan sebuah riwayat dari Imam Abu Hatim al-Dhahak yang menceritakan:
ولما اشتاق النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلى مكة محل مولده ومنشئه أنزل اللَّه تعالى عليه قوله: {إِنَّ الَّذِي فرض عليك القرآن لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ} إلى مكة
Artinya: “Ketika Rasululullah Saw. merindukan kota Makkah sebagai tempat kelahiran dan pertumbuhannya, Allah Swt. menurunkan ayat: ‘Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (mengikuti) Alquran, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali’ (QS. Al-Qashash: 85). Tempat kembali yang dimaksud ialah Makkah.
Riwayat ini menegaskan bahwa Rasulullah Saw. sangat mencintainya tanah tumpah darah kelahirannya. Hal tersebut diketahui oleh Allah Swt. yang memberikan respons berupa janji bahwa kelak beliau akan dikembalikan oleh Allah ke kota tersebut. Benar saja, beberapa tahun kemudian Allah mengembalikan Nabi ke kota tersebut melalui peristiwa fathu Makkah.
Atas pertimbangan tersebut, maka salah satu ulama tafsir Sufi, yakni Ismail Abu al-Fida al-Khalwati juga menyatakan:
وفى تفسير الآية اشارة الى ان حب الوطن من الايمان وكان عليه السلام يقول كثيرا الوطن الوطن فحقق الله سؤله فحقق الله سؤله
Artinya: “Dalam tafsir ayat diatas terkandung isyarat tentang hubbul wathan minal iman. Nabi Saw. juga sering berucap: ‘negeriku!’, ‘negeriku!’, maka kemudian Allah membuat keinginan beliau menjadi nyata” (Ismail Abu al-Fida al-Khalwati, Ruh al-Bayan [Beirut: Dar al-Fikr, tt], j. VI, h. 441)
Dari berbagai keterangan di atas bisa kita simpulkan bahwa pernyataan Hubbul Wathan Minal Iman telah ada sejak zaman para ulama klasik dan sering juga dijadikan sebagai bahan penelitian. Tampaknya tidak ada satu nama pun yang bisa secara tegas bisa disebut sebagai pencetus pernyataan ini, namun agaknya pernyataan ini merupakan pernyataan yang sudah lazim di kalangan bangsa Arab Badui sejak lama.
Meskipun pernyataaan ini bukanlah hadis, namun bukan berarti slogan ini tidak memiliki sandaran dalil dalam khazanah keislaman. Fakta bahwa Rasulullah Saw. sangat mencintai tanah tumpah darah kelahirannya membuktikan bahwa pernyataan hubbul wathan minal iman bukanlah sebuah pernyataan yang batil.
Editor: Muhammad Zunus
