“Titeni yo cung ! angger wulan April kok nyekel duit, ngalamat setahun nyekel duit. Iki ora ono kitabe, tapi keno gawe titenan.”
Entah siapa orang yang pertama kali menulis kutipan dawuh Allah Yarham Syaikhana KH Maimoen Zubair tersebut. Namun yang jelas, setiap memasuki bulan April banyak meme bertebaran di media sosial dengan foto beliau dan kutipan itu.
Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, kutipan itu artinya adalah “Perhatikan ya nak ! setiap bulan April kok memegang uang, maka pertanda satu tahun bisa pegang uang. Ini tidak ada referensinya, tapi bisa menjadi pertanda.”
Penulis menemukan sebuah bias yang menjelma menjadi sebuah polemik di kalangan masyarakat awam, bahkan masyarakat santri sekalipun, yaitu mereka memahami dawuh itu sebagai keharusan untuk mempunyai uang di bulan April, bahkan beberapa orang memahami sampai harus menjual harta benda seperti emas atau motor agar dia bisa memegang uang di bulan April.
Terkait dawuh Mbah Moen tentang keistimewaan bulan april memang benar adanya, penulis juga pernah mendengarkan dawuh itu langsung dari beliau ketika masih menyantri di Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang, banyak santri Sarang juga menyaksikan bahwa dawuh beliau tersebut benar adanya.
Namun, redaksinya tidak sebagaimana di atas, contoh seperti yang di unggah di akun YouTube resmi PP. Al-Anwar 2 (ppalanwar2sarang), redaksinya sebagai berikut:
“Apik-Apik e wulan iku April, wong dadi ukuran mulyo orane, iku wulan April, ono wong wulan April kok pekir, pawa’an koe pekir tak kandani”
Aritinya: “Bulan paling baik itu April, ukuran orang mulia dan tidak itu di bulan April, ada orang kok fakir di bulan April, saya katakan maka dia adalah pantas jadi orang fakir.”
Tidak menutup kemungkinan terdapat redaksi lain terkait dawuh ini yang pada intinya mengatakan bahwa di bulan April seseorang harus mempunyai uang, agar dia tidak mengalami gangguang keuangan pada April hingga bulan yang sama pada tahun berikutnya.
Polemik dan Rasionalisasi
Soal dawuh Mbah Moen tersebut, jika difahami dengan tanpa analisis mendalam akan menimbulkan kesimpulan bahwa uang yang didapat di bulan April menjadi daya pemikat kelancaran rezeki di bulan yang lain, sehingga seseorang di bulan itu harus benar-benar memegang uang.
Jika dikembalikan kepada realita yang ada, bulan ini tidak mempunyai keistimewaan dari pada bulan lainnya bagi seorang pegawai dengan gaji tetap, sebab tidak ada bedanya antara April dan bulan lainnya dalam urusan gaji yang diterima.
Dawuh di atas juga menekankan bahwa rezeki di bulan April bisa digunakan untuk hidup dalam satu tahun jika melihat diksi “Ngalamat setahun nyekel duit”. Kesimpulan ini bisa membantah bahwa yang dimaksud dari dawuh itu adalah sebagai uang pemikat untuk rezeki di bulan lainnya.
Lantas jika demikian, maka bisa difahami bahwa rezeki atau uang yang didapatkan pada bulan April adalah uang yang tidak didapatkan di bulan lainnya, dan tentunya berjumlah besar, sebab bisa dijadikan cadangan devisa selama satu tahun.
Tidak ada yang spesial bagi seorang kariyawan dengan gaji tetap antara bulan April atau bulan lainnya. Hal ini berbeda dengan kondisi orang yang mendapatkan uang hanya satu momen dalam satu tahun, seperti petani yang panen hanya satu kali dalam satu tahun.
Waktu pertama kali penulis mendengar dawuh itu saat mengaji kepada beliau, penulis tidak bisa memahaminya dengan baik, hingga akhirnya ada satu teman yang memang asli masyarakat Sarang dan juga kebetulan dari keluarga petani, dia mengaitkan dawuh itu dengan kehidupan para petani di sekitar area Sarang.
Perlu diketahui bahwa dawuh itu Mbah Moen simpulkan dari observasi terhadap kehidupan masyarakat, dengan bukti diksi “iki ora ono kitabe, tapi keno gawe titenan”. hal ini dalam metodologi penelitian sering disebut dengan penelitian induktif, berangkat dari fenomena dan kemudian digeneralisir menjadi suatu teori.
Penulis pribadi tidak mengetahui kapan dawuh itu beliau ungkapkan pertama kali, jika saja diketahui timeline-nya, maka fenomena yang menjadi objek pengamatan beliau bisa diprediksi dalam sebuah hipotesis.
Penulis juga menemukan rekaman suara beliau terkait hal ini yang juga di unggah oleh akun Instagram @ppalanwar2sarang, terdapat diksi yang mengindikasikan objek pengamatan beliau adalah fenomena pertanian, berikut diksinya dalam bahasa Indonesia:
“April itu sesudah bulan Maret, bulan Maret itu artinya diketahui hasil panen padinya, sehingga bulan April kok sugeh, pancen pawaan sugeh”
Jika dikaitkan dengan fenomena profesi tani di Sarang, memandang Mbah Moen adalah masyarakat Sarang asli, dan juga setiap tahun bertani, maka fenomena itu sangat pas dijadikan sebagai objek penelitian beliau perspektif sosio-kultural masyarakat Sarang.
Hal ini memandang bahwa fakta pertanian di Sarang tidak sebagaimana di daerah lain yang mengandalkan irigasi sungai. Para petani sarang khususnya petani padi, mereka mengandalkan curah hujan agar bisa bertani dalam satu tahun, masyarakat Sarang menyebutnya dengan istilah “Tadah Udan”.
Mereka biasa memprediksi kapan musim hujan dan kemarau, mereka bisa menentukan kapan mulai membajak sawah, hingga waktu panen, dan waktu panen yang sesuai prediksi mereka dalah bulan Maret dan di bulan April mereka sudah bisa mendapatkan uang dari penjualan hasil panennya.
Uang hasil panen itu dan juga padi yang disisakan untuk makan satu tahun bisa menjadi cadangan devisa dan pangan masyarakat tani, dan ini adalah tradisi profesi para petani. Namun jika mengalami gagal panen, maka tentunya dia akan mengalami kesulitan ekonomi, dan ini sesuai dengan dawuh Mbah Moen di atas.
Sebenarnya prediksi musim hujan dan kemarau ini bisa dijelaskan oleh sains, khususnya Ilmu Pengetahuan Alam, hanya saja ilmu itu bukan domain penulis. Akan tetapi perlu diketahui bahwa musim sudah tidak bisa diprediksi di era kekinian, sebab adanya isu pemanasan global, dan petani asli Sarang memahami hal ini.
Penulis memandang hanya profesi tani yang sesuai dengan dawuh beliau di atas, dengan pertimbangan lokus, tradisi, dan sosio-kultural pengamatan dawuh itu, yakni masyarakat Sarang, sebab hanya tani yang menjadikan rezeki satu bulan untuk kehidupan satu tahun.
Dawuh itu tidak menjadi spesial jika objek pengamatannya adalah pegawai dengan gaji tetap, atau petani dengan irigasi melimpah seperti petani daerah Singgahan Tuban dan sebagian daerah Bojonegoro dengan irigasi dari kali Brantas yang biasa panen padi dua kali dalam setahun, dan bahkan tiga kali bagi yang beruntung.
Tolok ukur dawuh itu tidak bisa diartikan bagi mereka yang memegang uang pada bulan April dengan gaji atau penghasilan tetap, kecuali bagi mereka yang mendapatkan rezeki melimpah dan tidak terduga di bulan itu, yang nominalnya bisa untuk mencukupi kebutuhan satu tahun.
Oleh karena itu, sangat salah kaprah, bahkan menimbulkan polemik berkepanjangan jika sampai menjual emas, atau bakan motor seperti yang dianjurkan oleh salah satu pengguna media sosial, agar mempunyai uang di bulan April. Sungguh ini adalah kekeliruan yang bisa merugikan masyarakat, sebab mengaitkan anjuran ini dengan dawuh Mbah Moen.
Tidak dipungkiri bahwa April adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad, dan bulan ini penuh berkah dan mulia sebab dimuliakan oleh Manusia yang paling mulia, sebagaimana bulan Rabi’ul Awal, atas dasar itu pula Mbah Moen menginisiasi dawuh itu.
Akan tetapi, setiap dawuh pasti ada kontruksi logikanya, dan seorang santri tentunya harus faham tentang hal ini, agar dia bisa memahami sebagaimana seharusnya dawuh itu difahami, dan tentunya agar tidak mengalami logical fallacy dan menimbulkan sebuah polemik di masyarakat. Wallahu a‘lam.
Editor: Aiz Luthfi
