Kisah Nabi dan Salman Al-Farisi: Budidaya 300 Pohon Kurma

Kisah Nabi dan Salman Al-Farisi: Budidaya 300 Pohon Kurma

Arina.id- Di balik peristiwa besar dalam sejarah Islam, tersimpan kisah inspiratif antara Rasulullah SAW dan sahabatnya, Salman Al-Farisi. Kisah ini tidak hanya menggambarkan ketulusan persaudaraan dan semangat pembebasan, tetapi juga menjadi potret awal dari praktik budidaya kurma yang penuh berkah. Dari seorang budak, Salman bertransformasi menjadi pejuang bebas yang ditolong langsung oleh Nabi Muhammad.

Salman Al-Farisi berasal dari Persia dan menempuh perjalanan panjang demi mencari kebenaran agama. Ia melewati banyak negeri dan guru hingga akhirnya sampai di Madinah. Saat itu, ia belum merdeka karena menjadi budak milik seorang Yahudi. Meski demikian, Salman tetap berusaha mencari dan mengabdi kepada Rasulullah dengan penuh semangat dan harapan akan kebebasan.

Ketika Rasulullah telah menetap di Madinah, Salman menyadari inilah Nabi terakhir yang selama ini ia cari. Namun, ia tidak bisa langsung bergabung karena masih dalam status budak. Hingga akhirnya Nabi menganjurkan Salman untuk mengajukan perjanjian mukatabah, yaitu perjanjian pembebasan budak dengan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi dalam kurun waktu yang disepakati.

Salman pun menyampaikan kepada tuannya dan disepakati bahwa ia harus menanam 300 pohon kurma hingga semuanya hidup dan berbuah. Selain itu, ia juga harus membayar 40 uqiyah emas. Sebuah tugas berat bagi seorang budak yang tidak memiliki harta. Namun, inilah awal dari kisah penuh keajaiban dan kolaborasi antara Nabi dan para sahabat.

Rasulullah tidak tinggal diam. Beliau menyerukan kepada para sahabat, “Bantulah saudara kalian!” Maka para sahabat pun menyumbang bibit kurma dengan semangat. Ada yang menyumbang 30 bibit, ada yang 20, 15, dan bahkan 10. Mereka menyumbang sesuai kemampuan masing-masing hingga terkumpul genap 300 bibit pohon kurma untuk memenuhi syarat perjanjian tersebut.

Setelah bibit terkumpul, Rasulullah memerintahkan Salman untuk menggali lubang tanam terlebih dahulu. Dengan bantuan sahabat-sahabat lain, Salman menggali 300 lubang di kebun. Setelah semua siap, ia pun menghadap Rasulullah dan memberitahukan bahwa tanahnya telah siap untuk ditanami. Maka Rasulullah pun bersabda 

“Bawa aku ke sana, aku sendiri yang akan menanamnya.”

Maka pergilah mereka bersama ke kebun itu. Para sahabat mendekatkan setiap bibit kepada Rasulullah. Lalu beliau menanam satu per satu dengan tangannya yang mulia, hingga genap semua 300 pohon tertanam. Hanya satu pohon yang awalnya tidak ditanam oleh beliau, melainkan oleh Umar bin Khattab, dan pohon itu tidak tumbuh. Rasulullah pun mencabutnya dan menanam kembali dengan tangannya.

Keajaiban pun terjadi. Semua pohon kurma yang ditanam oleh tangan Nabi tumbuh subur dan berbuah pada tahun yang sama. Tidak satu pun yang mati. Hal ini menjadi salah satu mukjizat yang menunjukkan keberkahan dari tangan Nabi dan ketulusan amal kolektif para sahabat. Salman pun berhasil memenuhi syarat pertama mukātabah, 300 pohon hidup dan berbuah.

Namun masih tersisa satu syarat lagi, 40 uqiyah emas. Salman yang miskin tentu tak tahu bagaimana mencapainya. Di saat itulah Allah menunjukkan pertolongan-Nya. Suatu hari, Rasulullah mendapat hadiah bongkahan emas sebesar telur ayam dari salah satu tambang. Beliau bertanya, “Di mana si Persia yang sedang melunasi mukātabahnya?” Maka Salman pun dipanggil menghadap beliau.

Rasulullah memberikan emas itu kepada Salman sambil berkata, “Ambillah ini, bayarkanlah kewajibanmu.” Salman bingung dan berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana emas sekecil ini bisa melunasi seluruh utangku?” Nabi tersenyum dan bersabda, “Ambillah. Allah akan mencukupkannya untukmu.” Dengan penuh percaya, Salman menerima emas tersebut dan segera membawanya kepada tuannya.

Keajaiban kedua pun terjadi. Ketika ditimbang, emas itu ternyata tepat 40 uqiyah, jumlah yang disyaratkan dalam mukātabah. Salman pun bebas sepenuhnya. Ia tidak lagi menjadi budak. Setelah itu, ia ikut serta dalam Perang Khandaq dan tidak pernah absen dari perjuangan bersama Rasulullah. Kebebasannya menjadi awal dari keterlibatannya dalam perjuangan Islam secara penuh.

Kisah ini disampaikan oleh Ibnu Sayyidinnas dalam 'Uyunul Atsar dari beberapa sumber riwayat. Ia membahasnya dalam bab khusus yang diberi judul Khabaru Islami Salman Al-Farisi radiyallahu 'anhu. (Ibnu Sayyidinnas, 1992: juz 1, h. 135)

Kisah ini lebih dari sekadar pembebasan seorang budak. Ia mengajarkan nilai kerja sama, kasih sayang, dan ketulusan dalam membantu sesama. Rasulullah bukan hanya memotivasi, tetapi ikut terlibat langsung dengan menanam sendiri pohon-pohon kurma tersebut. Tindakan ini menjadi simbol bahwa seorang pemimpin sejati adalah yang mau turun tangan dalam urusan umatnya, sekecil apa pun itu.

Dari sisi agrikultur, kisah ini juga merupakan wujud praktik budidaya kurma secara kolektif dan spiritual. Ada pengumpulan bibit, penggalian lubang, penanaman secara sistematis, dan pengamatan hasil. Walau tidak dimaksudkan sebagai proyek pertanian komersial, kisah ini bisa disebut sebagai salah satu bentuk budidaya kurma yang terorganisasi dengan sangat baik di masa Rasulullah.

Menurut laporan situs Masrawy.com, sebanyak 300 pohon kurma yang dahulu ditanam langsung oleh Nabi Muhammad bersama para sahabat kini menjadi jejak sejarah hidup yang masih bertahan di kawasan Al-‘Awali, Madinah. Di lokasi tersebut, terdapat sumur tua yang dikenal dengan nama Bi’r Al-Fuqair atau Well of Salman Al-Farisi. Sumur ini dipercaya berperan dalam menyiram kebun kurma tersebut pada masa awal penanaman.

Tak jauh dari sumur itu, terdapat lahan luas yang masih ditumbuhi banyak pohon kurma. Wilayah ini kini dilindungi oleh Otoritas Pariwisata dan Purbakala Saudi serta dikelilingi pagar kawat, meskipun bagian masjid di dalamnya kini masuk ke dalam area sekolah milik Kementerian Pendidikan.

Keberadaan kebun dan sumur ini menjadi saksi nyata sejarah perjuangan seorang sahabat dalam meraih kebebasannya melalui berkah tangan Nabi. Suatu saat nanti, semoga kita semua bisa berkunjung ke sana. Wallahu a'lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Muhammad Faizin
logo