Arina.id - Armuzna atau Arafah, Muzdalifah, dan Mina merupakan rangkaian terberat dalam pelaksanaan ibadah Haji. Masa ini juga merupakan salah satu titik pembeda antara prosesi ibadah haji dan umrah. Prosesi ini ditandai dengan wukuf di padang Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina. Jemaah haji seringkali menghabiskan waktu untuk berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah di saat itu.
Dikisahkan seorang Qays bin al-Mulawwah, Majnun Layla ketika berhaji di saat menjalankan prosesi Mabit (bermalam) di Mina, mendengar seseorang memanggil nama Layla di malam hari, dia mendengar seruan “Wahai Layla”. Kisah ini sebagaimana termaktub dalam catatan Abul Faraj al-Isfahani dalam Kitabu Al-Aghani [Beirut: Dar Shadir, 2008, vol. 2, hal. 16.].
Sontak dia menjerit dengan jeritan yang menghebohkan para jemaah haji di sekelilingnya. Mereka mengira bahwa Qays telah tumbang dan terkapar di tanah Mina. Dia tidak tersadar hingga menjelang waktu Subuh dengan warna kulit yang memucat dan kondisi kesadaran yang tidak stabil. Kemudian dia melantunkan syair berikut:
وَداعٍ دَعا إِذ نَحنُ بِالخَيفِ مِن مِنىً ... فَهَيَّجَ أَحزانَ الفُؤادِ وَما يَدري
Dan orang yang memanggil sedang memangil, sedangkan aku berada di Khayf (lereng gunung) di Mina, sontak hatiku yang sedang bersedih bangkit tanpa disadari.
دَعا بِاِسمِ لَيلى غَيرَها فَكَأَنَّما ... أَطارَ بِلَيلى طائِراً كانَ في صَدري
Dia memanggil nama Layla, sedangkan itu bukan Layla-ku, ku rasakan bagaikan orang yang terbang dengan Layla di dalam hatiku.
دَعا بِاِسمِ لَيلى أَسخَنَ اللَهُ عَينَهُ ... وَلَيلى بِأَرضِ الشامِ في بَلَدٍ قَفرِ
Dia memanggil nama Layla semoga Allah menyakiti matanya, sedangkan Layla berada di tanah Syam di negeri yang terpencil.
عَرَضتُ عَلى قَلبي العَزاءَ فَقالَ لي ... مِنَ الآنَ فَاجْزَعْ لا تَمَلَّ مِنَ الصَبرِ
Aku berusaha menghibur hatiku, akan tetapi dia mengatakan kepadaku “bersedihlah, dan janganlah bosan untuk bersabar”.
إِذا بانَ مَن تَهوى وَشَطَّ بِهِ النَوى ... فَفُرقَةُ مَن تَهوى أَحَرُّ مِنَ الجَمرِ
Ketika kekasih menjauh dan berada jauh di tempat yang sangat jauh, maka berpisah dengannya adalah lebih panas daripada bara api.
Abu Bakar al-Wabili dalam Diwanu Qays bin al-Mulawwah Majnuni Layla, [Tahqiq: Yusri Abdul Ghani, Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1999, hal. 35-36] menceritakan bahwa setelah ayahnya mengetahui kejadian itu, dan mendengan syair yang telah Qays nyanyikan, dia membawanya kepada kerumunan orang.
Ayahnya meminta orang-orang yang untuk mendoakan Qays agar Allah membebaskannya dari kesusahan. Ketika orang-orang mendoakannya, Qays melantunkan Syair berikut:
ذكرتك والحجيج لهم ضجيج ... بمكة والقلوب لها وجيبُ
Aku menyebutmu dikala para jamaah haji berteriak berdoa di Kota Makkah Mukarramah, sedangkan hati mereka berdenyut rindu akan sampainya di Kota itu.
فَقُلْتُ وَنَحْنُ فِي بَلدٍ حَرامٍ ... بِهِ للّه أخْلصتِ القلُوبُ
Aku berkata ketika kami berada di tanah Haram, demi Allah berbagai hati telah dibebaskan
أتوبُ إليكَ يارحمن مما ... عَمِلتُ فقد تَظَاهرتِ الذُّنوبُ
Aku bertobat kepada-Mu wahai Dzat yang Maha Pengasih dari segala apa yang telah aku perbuat, dan dosa-dosaku sangatlah banyak.
فأمَّا مِن هوى ليلى وتَرْكِي ... زِيارتَها فَإنِّي لا أَتوبُ
Sedangkan tentang cintaku kepada Layla dan laranganku untuk mengunjunginya, maka aku tidak akan bertobat darinya.
وكيف وعندَها قلبي رهينٌ ... أتوب إليك منها أو أنيب
Bagaimana mungkin aku bertobat darinya kepada-Mu atau aku kembali kepada-Mu Ya Allah, sedangkan hatiku telah tergadaikan kepadanya.
Cinta Qays kepada Layla memang terlampau besar, bahkan ketika di depan Ka’bah, dia tidak berdoa agar disembuhkan dari ketergantungannya kepada Layla, akan tetapi dia berdoa dengan bergantungan di tirai-tirai Ka’bah untuk semakin dikuatkan cintanya kepada Layla. Dia mengucapkan:
اَللَّهُمَّ زِدْنِي لِلَيْلَى حُبّاً وَبِهَا كَلَفاً وَلَا تَنْسَنِيْ ذِكْرَهَا أَبَداً
Ya Allah tambahkanlah kepadaku cintaku kepada Layla, dan ketergantunganku kepadanya, dan janganlah melalaikanku dari mengingatnya selamanya.
Al-Isfahani [hal. 17] mencatat bahwa kegilaan Qays semakin menjadi-jadi. Dia mengembara bersama hewan buas di padang pasir, dia tidak memakan kecuali apa yang tumbuh di padang pasir dari rerumputan, dia tidak minum kecuali bersama rusa ketika muncul sumber airnya. Dia dipelihara oleh rusa-rusa, dan hewan-hewan buas, dan mereka tidak menghindar darinya.
Editor: Muhammad Faizin
