Arina.id – Salah satu ajaran Islam yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim adalah berbakti kepada kedua orang tua, apalagi ketika mereka sudah lanjut usia. Sebaliknya, durhaka kepada orang tua merupakan perbuatan dosa dan pelakunya akan dibalas dengan hukuman setimpal, bahkan balasan tersebut kadang terjadi saat masih di dunia. Oleh sebagian orang, balasan ini disebut dengan karma.
Di antara orang yang mendapat balasan atau karma ini adalah seorang anak yang dikisahkan oleh Yasir Abdurrahman dalam kitab Mawsu‘atul Akhlaq waz Zuhdi war Raqa’iq, (Kairo, Muassasah Iqra: 2011), halaman 32.
Dikisahkan, ada seorang anak, sebut saja namanya Malin, yang diminta bantuan oleh ayahnya. Ketika ayah kandungnya itu meminta bantuan, Malin malah menolak mentah-mentah. Mungkin karena sedang banyak beban pikiran, setiap kata yang diucapkan ayahnya seolah menjadi bara api yang menyulut emosi Malin. Hingga akhirnya, amarah Malin memuncak dan memperlakukan ayahnya dengan kasar, dia tega mencaci maki bahkan sampai memukul ayahnya.
Lebih parahnya lagi, Malin tega menyeret tubuh ayahnya yang sudah mulai renta hingga keluar rumah. Keributan yang terjadi sontak mengundang tetangga keluar rumah. Saat melihat tetangganya keluar dan menyaksikan peristiwa memalukan tersebut, Malin mencoba menahan diri dan menarik ayahnya kembali masuk ke rumah. Tidak lama kemudian, sang ayah keluar dari rumah dengan perasaan kecewa yang diiringi tangisan.
Waktu berjalan dengan normal, umur Malin kian bertambah dan anak-anaknya pun sudah tumbuh dewasa. Suatu hari, Malin menegur salah seorang anaknya karena suatu hal. Tak terima ditegur oleh Malin, si anak ini malah mencaci maki Malin bahkan sampai memukulnya. Tidak hanya itu, si anak juga menyeret Malin hingga keluar rumah.
Ketika diperlakukan anaknya dengan kasar, ingatan Malin melayang ke masa lalu saat dia memperlakukan ayahnya dengan kasar dan hina. Setiap adegan yang dilakukan anaknya ternyata sama persis dengan apa yang dilakukan Malin pada ayahnya. Akhirnya Malin mulai sadar dengan dosa yang dia lakukan di masa lalu.
“Cukup anakku! Cukup! jangan kau lakukan lebih dari ini. Aku telah melakukan perbuatan ini kepada ayahku. Jika kamu melampaui batas ini, berarti murka Allah atas diriku sangat besar,” ucap Malin diiringi tangisan.
***
Dari kisah ini kita bisa memetik hikmah dan pelajaran bahwa perlakuan kepada orang tua akan dirasakan saat kita sendiri telah menjadi orang tua. Ketika memperlakukan orang tua dengan baik maka suatu hari nanti anak kita akan memperlakukan hal yang sama. Sebaliknya, ketika orang tua diperlakukan dengan tidak baik maka suatu hari nanti akan mendapatkan perlakuan serupa sebagaimana dialami oleh sosok Malin dalam kisah di atas.
Untuk itu, bagi seseorang yang masih memiliki orang tua hendaknya bisa berbakti semaksimal mungkin dan berusaha membahagiakan hati mereka. Biasanya, kesedihan terbesar seorang anak dirasakan ketika ingin merawat orang tua namun mereka telah tiada untuk selamanya. Sementara itu, bagi seseorang yang orang tuanya sudah tiada, di antara bentuk bakti yang bisa dilakukan adalah dengan selalu mendoakan mereka agar mendapatkan nikmat kubur. Wallahu a’lam.
Editor: Aiz Luthfi
