Umat Islam Tidak Boleh Mencaci Cuaca Ekstrem, Ini Penjelasannya

Umat Islam Tidak Boleh Mencaci Cuaca Ekstrem, Ini Penjelasannya

Arina.id - Cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, atau panas terik sering kali memicu keluhan bahkan makian dari sebagian orang. Padahal dalam Islam, segala fenomena alam adalah bagian dari kehendak Allah yang patut disikapi dengan kesabaran dan penghayatan spiritual. Mencaci cuaca ekstrem bukan hanya bentuk ketidaksopanan terhadap ciptaan Tuhan, tapi juga menunjukkan kurangnya kesadaran akan hikmah di balik setiap perubahan alam.

Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan bahwa kemunculan cuaca ekstrem seharusnya menjadi peringatan bagi umat Islam bahwa alam sedang tidak baik-baik saja. Di baliknya, bisa jadi terdapat kesalahan manusia serta pertanda akan datangnya musibah. Oleh karena itu, daripada mencacinya, lebih baik kita kembali kepada Allah dengan memperbanyak doa dan istighfar, memohon perlindungan dari segala marabahaya. Dalam satu riwayat disebutkan:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ: لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُونَ فَقُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيحِ وَخَيْرِ مَا فِيهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيحِ وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ

Artinya, "Dari Ubay bin Ka‘b ra., ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian mencela angin! Jika kalian melihat sesuatu yang tidak kalian sukai darinya, maka ucapkanlah: ‘Ya Allah, kami mohon kepada-Mu kebaikan dari angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan apa yang diperintahkan padanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan apa yang diperintahkan padanya.’” (HR Tirmidzi)

Menegaskan hadits di atas, Imam An-Nawawi dalam Raudhatuth Thālibīn menyatakan bahwa mencaci cuaca ekstrem hukumnya makruh, maksudnya perbuatan yang tidak disukai Allah SWT meskipun tidak sampai berdosa. Sikap terbaik saat menghadapi cuaca buruk adalah berdoa dan bertawakal, bukan mengeluh atau mencela. Karena itu, menjaga lisan dalam kondisi seperti ini merupakan bentuk adab kepada Sang Pencipta. Berikut penjelasan An-Nawawi:

وَيُكْرَهُ سَبُّ الرِّيحِ، فَإِنْ كَرِهَهَا، سَأَلَ اللهَ تَعَالَى الْخَيْرَ، وَاسْتَعَاذَ مِنَ الشَّرِّ

Artinya, "Makruh hukumnya mencela angin. Jika seseorang merasa tidak suka dengan keadaan angin, hendaknya ia memohon kebaikan kepada Allah Ta‘ala dan berlindung kepada-Nya dari keburukan yang mungkin ada padanya." (An-Nawawi, 1991: juz II, h. 94)

Kemunculan cuaca ekstrem dijadikan oleh Rasulullah ﷺ sebagai momen untuk memperbanyak zikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab, bisa jadi di balik fenomena alam tersebut terdapat peringatan atas ulah manusia yang melampaui batas. Dalam sebuah hadis diceritakan, ketika langit mulai gelap dan mendung pekat, Rasulullah terlihat gelisah dan mondar-mandir karena khawatir akan turunnya azab. Namun ketika yang turun adalah hujan, beliau merasa lega karena yang datang adalah rahmat Allah.

Dalam satu hadits diriwayatkan:

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، أَنَّهُ سَمِعَ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ ﷺ تَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمُ الرِّيحِ وَالْغَيْمِ، عُرِفَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ، وَأَقْبَلَ وَأَدْبَرَ، فَإِذَا مَطَرَتْ، سُرَّ بِهِ، وَذَهَبَ عَنْهُ ذَلِكَ. قَالَتْ عَائِشَةُ: فَسَأَلْتُهُ، فَقَالَ: إِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ عَذَابًا سُلِّطَ عَلَى أُمَّتِي. وَيَقُولُ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ: "رَحْمَةٌ

Artinya, "Dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, ia mendengar ‘Aisyah, istri Nabi ﷺ, berkata: "Rasulullah ﷺ jika datang hari yang berangin dan mendung, terlihat jelas perubahan di wajahnya. Beliau mondar-mandir, berjalan ke sana kemari. Namun ketika hujan turun, beliau merasa senang, dan kegelisahan itu pun hilang darinya." ‘Aisyah berkata: "Lalu aku bertanya kepada beliau, dan beliau bersabda: 'Aku khawatir itu adalah azab yang diturunkan kepada umatku.' Dan jika beliau melihat hujan turun, beliau berkata: 'Ini adalah rahmat.'" (HR Muslim)

Berkaitan dengan hadits di atas, Imam An-Nanwawi dalam Syarah Sahih Muslim menyampaikan:

فِيهِ الاسْتِعْدَادُ بِالمُرَاقَبَةِ لِلهِ، وَالِالْتِجَاءِ إِلَيْهِ عِندَ اخْتِلَافِ الأَحْوَالِ، وَحُدُوثِ مَا يُخَافُ بِسَبَبِهَا، وَكَانَ خَوْفُهُ ﷺ أَنْ يُعَاقَبُوا بِعِصْيَانِ العُصَاةِ، وَسُرُورُهُ لِزَوَالِ سَبَبِ الخَوْفِ

Artinya, "Hadits ini menunjukkan pentingnya kesiapan hati dengan selalu mengawasi (murāqabah) kebesaran Allah dan bersandar kepada-Nya saat terjadi perubahan cuaca atau hal-hal yang menimbulkan kekhawatiran. Ketakutan Nabi ﷺ adalah jika umatnya ditimpa azab karena maksiat para pelakunya, sedangkan rasa gembiranya muncul saat sebab azab itu telah lenyap." (An-Nawawi, 1996: juz 6, h. 499)

Dari paparan An-Nawawi ini dapat dipahami bahwa sikap Rasulullah ﷺ terhadap cuaca ekstrem bukanlah semata-mata ketakutan fisik, melainkan wujud kedalaman spiritual yang disertai kesadaran penuh akan kekuasaan Allah. Beliau menunjukkan teladan murāqabah, yaitu pengawasan hati terhadap kehendak Ilahi, dan mengajarkan agar umat senantiasa berlindung kepada Allah saat terjadi perubahan alam yang dapat menjadi isyarat turunnya azab.

Sebagai penutup, marilah kita belajar dari sikap Rasulullah ﷺ yang penuh kehati-hatian, ketundukan, dan kesadaran spiritual dalam menghadapi cuaca ekstrem. Daripada mencaci atau mengeluh, Islam mengajarkan kita untuk meresponsnya dengan doa, istighfar, dan muhasabah diri. Setiap gejala alam adalah pesan Ilahi yang patut direnungi, bukan dicela. Dengan begitu, kita menunjukkan adab sebagai hamba dan penghayatan sebagai khalifah di bumi.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
logo