Belajar dari Kisah Hilangnya Harta Jemaah Haji

Belajar dari Kisah Hilangnya Harta Jemaah Haji

Sebagian jemaah, terkadang menemukan kendala saat menunaikan ibadah haji. Kendala itu bisa saja terjadi saat berangkat ke Tanah Suci maupun saat sudah tiba di Tanah Air. Salah satu contohnya sebagaimana dialami oleh seorang saudagar asal Khurasan yang hampir kehilangan hartanya senilai 1.000 dinar.

Dikisahkan, berangkatlah seorang saudagar asal Khurasan ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Selain bekal pokok, dia juga membawa bekal cadangan senilai 1.000 dinar. Setelah dipikir-pikir, ternyata uang tersebut menurutnya tidak terlalu dibutuhkan.

“Jika saya bawa, takut kenapa-kenapa. Jika saya titipkan, takut dikhianati,” gumam saudagar itu, sebagaimana kisahnya diungkap Ibnu Jauzi dalam kitab Al-Adzkiya (Beirut: Daru Ihyail Ulum, 1990) halaman 76.

Saat di perjalanan, ia melihat sebuah pohon jarak yang dianggap cocok untuk menyimpan bekal cadangan itu. Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang lain, ia menggali tanah di bawah pohon itu dan menyimpan uangnya dalam galian tersebut.

Usai menunaikan ibadah haji, ia pun langsung pulang. Di perjalanan, ia terus mengingat posisi pohon itu. Saat sampai, ia pun langsung menghampiri dan mulai menggali tanah. 

Betapa kagetnya, uang yang sebelumnya dikubur di sana ternyata sudah tidak ada. Ia pun bersedih dan menyesali perbuatannya yang mengakibatkan uangnya hilang.

Seseorang yang mengetahui kejadian itu menyarankan, agar saudagar tersebut melaporkan peristiwa yang ia alami kepada pemimpin negeri yang dikenal masyarakat dengan kecerdasannya.

Setelah mengetahui kronologinya, pemimpin negeri ini kemudian mengumpulkan para dokter yang ada di wilayahnya.

“Apakah kalian pernah menangani pasien yang diberi resep obat buah jarak?” tanya pemimpin negeri kepada para dokter. 

Dari sekian dokter yang hadir, salah satunya ada yang mengaku bahwa ia pernah memberi resep obat buah jarak kepada pasien, ternyata pasien itu adalah salah seorang pejabat.

Pejabat ini kemudian dipanggil dan diminta keterangannya terkait asal usul buah jarak yang ia dapatkan. Menurut pengakuannya, buah jarak itu ia dapatkan dari si fulan.
 
Si fulan ini kemudian dipanggil. Singkat cerita, akhirnya ia mengaku telah mengambil uang di dalam tanah yang ada di bawah pohon jarak. Fulan pun mengembalikan uang tersebut kepada pemiliknya.

Dari kisah ini ada hikmah yang bisa dipetik pelajarannya, khususnya bagi jemaah haji. Di antaranya agar calon jemaah haji tidak berlebihan dalam membawa bekal dari Tanah Air maupun oleh-oleh dari Tanah Suci karena hal itu berisiko, seperti yang dialami pada saudagar Khurasan di atas.

Pihak Kemenag RI juga selalu mengingatkan pada jemaah untuk tidak membawa barang yang berlebihan karena mempunyai banyak risiko. Di antaranya akan dibongkar pihak maskapai dan harus ditinggalkan di bandara. Kalaupun lolos pemeriksaan, tentu bisa membahayakan penerbangan.

Kisah ini juga mengingatkan jemaah agar bisa fokus saat beribadah haji. Apapun yang terjadi, diusahakan agar hati bisa khusyu' dalam menjalankan semua rangkaian ibadah haji.

Selanjutnya, bagi siapapun agar bersikap jujur jika menemukan barang berharga. Diusahakan untuk mengembalikan kepada pemiliknya, sebagaimana yang dilakukan si fulan.

Selain itu, kisah ini juga memberi gambaran kepada pihak otoritas negeri untuk memiliki kepekaan, kecerdasan, dan keberanian dalam menghadapi aneka masalah yang dihadapi masyarakat. Dengan begitu, keadilan bisa berdiri dengan tegak di tengah-tengah masyarakat. Wallahu a‘lam.


Editor: Muhammad Faizin
logo