Dikisahkan, suatu hari seorang pemuda datang menemui Dzunnun Al-Misri seorang tokoh sufi terkemuka di zamannya yang pernah mendapatkan nyinyiran dan pandangan negatif dari masyarakat. Pemuda itu melaporkan pandangan negatif masyarakat pada kalangan sufi yang terkesan acuh terhadap urusan duniawi, termasuk pemuda tersebut yang sedari awal mengingkari paham dan ajaran tasawuf.
Untuk memberikan pemahaman pada pemuda tersebut, Dzunnun Al-Misri tidak banyak bicara, ia hanya memberikan sebuah cincin.
"Coba kamu bawa cincin ini ke pasar dan gadaikanlah dengan harga 1 dirham," ujar Dzunnun.
"Baiklah," jawab pemuda itu sambil bergegas menuju pasar tradisional untuk menggadaikan cincin yang diberikan Dzunnun Al-Misri.
Setelah berkeliling pasar, pemuda tersebut tidak berhasil menggadaikan cincin itu. Tidak ada satu pedagang pun yang mau menerima gadaian cincin dengan harga 1 dirham. Orang-orang di pasar menawarnya dengan harga di bawah 1 dirham.
"Kalau begitu, coba bawa cincin itu ke toko perhiasan dan tanyakan harganya pada mereka," kata Dzunnun pada pemuda itu setelah pulang dari pasar.
Ketika sampai di toko perhiasan, pemuda tersebut dibuat kaget karena cincin yang ia bawa ditaksir dengan harga mencapai seribu dinar. Pemuda tersebut kemudian bergegas pulang dan melaporkan kejadian tersebut pada Dzunnun Al-Mishri.
"Begitulah, pengetahuan kamu tentang kaum sufi seperti pedagang di pasar tadi yang mengetahui harga cincin ini,” jelas Dzunnun pada pemuda itu.
Ucapan Dzunnun Al-Mishri seperti busur panah yang menusuk jantung pemuda itu. Setelah mendapat penjelasan tersebut, akhirnya pemuda ini bertobat dan tidak lagi nyinyir pada orang-orang sufi.
Kisah ini tentu saja mengandung hikmah yang bisa dipetik pelajarannya, di antaranya agar umat Islam lebih hati-hati dalam menilai orang lain. Ketika terlihat sisi negatif pada diri seseorang, mungkin saja itu hanyalah secuil dari nilai sesungguhnya. Bisa jadi, ada sisi positif yang tidak terlihat padahal nilainya jauh lebih besar.
Selain itu, kisah ini juga menggambarkan tentang arti sebuah relativitas nilai seorang hamba Allah di mata orang lain. Seseorang akan dinilai biasa saja bagi orang yang tidak mengenalnya dengan baik. Sebaliknya, seseorang akan dianggap bernilai bagi orang yang mengenal dan mencintainya. Mengingat hal tersebut, umat Islam sebaiknya tetap fokus mengharap ridla Allah agar tidak terombang-ambing oleh pandangan relatif manusia.
Manusia adalah makhluk Allah paling istimewa yang dianugerahi berbagai perangkat lahir maupun batin. Nilai keistimewaan ini kadang tidak terlihat oleh seseorang yang hanya memandang secara kasat mata. Akibatnya, tidak sedikit orang berbuat nyinyir dan menilai orang lain dengan pandangan negatif.
Kisah ini diungkap oleh Fariduddin ‘At-Thar dalam kitab Tadzkiratul Auliya, (Damaskus: Darul Maktabi, 2009), halaman 167. Walllahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin
