Arina.id — Pernah melihat sesajen diletakkan di bawah pohon besar, di persimpangan jalan, atau di tempat yang dianggap angker? Bagi sebagian orang, sesajen bukan sekadar makanan atau benda yang ditinggalkan begitu saja. Ada harapan yang menyertainya: agar tidak diganggu makhluk gaib, urusan berjalan lancar, dan hajatan berlangsung tanpa hambatan.
Di balik tradisi itu, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan, mengapa manusia begitu takut kepada jin, sampai-sampai merasa perlu meminta perlindungan kepada mereka?
Dalam Islam, jin memang diakui keberadaannya. Namun, mengakui keberadaan jin tidak berarti harus takut berlebihan, apalagi menggantungkan keselamatan kepada mereka.
Menariknya, dalam penjelasan Ibnu Katsir, ada kisah yang menunjukkan bahwa hubungan manusia dan jin tidak selalu seperti yang dibayangkan sekarang. Dahulu, justru jinlah yang takut kepada manusia.
Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pada masa jahiliah, bangsa jin merasa takut kepada manusia sebagaimana manusia takut kepada jin.
Ketika seseorang atau sekelompok orang memasuki sebuah lembah, jin yang menghuni tempat itu dikisahkan akan menjauh karena takut kepada manusia. Namun, keadaan mulai berubah ketika manusia justru meminta perlindungan kepada jin yang dianggap sebagai penguasa wilayah tersebut.
Ibnu Katsir menukil penjelasan tentang kebiasaan masyarakat kala itu. Ketika hendak bermalam di lembah yang sepi, pemimpin rombongan akan berkata:
“Aku berlindung kepada pemimpin jin yang menghuni lembah ini.”
Maksudnya, mereka meminta perlindungan kepada jin yang diyakini menguasai tempat tersebut agar tidak diganggu oleh jin lainnya.
Sekilas, tindakan itu mungkin terasa masuk akal bagi orang yang sedang ketakutan. Mereka ingin selamat, tidak ingin mengalami gangguan, dan berharap perjalanan berjalan lancar.
Namun, menurut penjelasan Ibnu Katsir, permintaan perlindungan itu justru mengubah keadaan. Jin melihat bahwa manusia ternyata takut kepada mereka. Dari situlah muncul keberanian untuk mendekati, mengganggu, bahkan menyesatkan manusia.
Kisah ini bukan berarti jin secara harfiah selalu takut kepada manusia. Pesan yang hendak ditunjukkan adalah bagaimana rasa takut dan ketergantungan dapat mengubah hubungan manusia dengan makhluk gaib yang diyakininya.
Ketika Rasa Takut Membuat Manusia Bergantung
Al-Qur’an memberikan peringatan tegas tentang kebiasaan meminta perlindungan kepada jin.
Allah SWT berfirman:
وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ
Artinya: Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari (kalangan) manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin sehingga mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS Al-Jinn [72]: 6).
Ayat ini menggambarkan kebiasaan sebagian masyarakat Arab pada masa jahiliah yang meminta perlindungan kepada jin ketika memasuki tempat-tempat sepi atau menyeramkan.
Mereka berharap jin yang dianggap sebagai penguasa tempat dapat melindungi dari gangguan jin lainnya.
Masalahnya, perlindungan itu justru melahirkan ketergantungan. Manusia semakin meyakini bahwa keselamatannya bergantung kepada jin, sementara jin memperoleh posisi yang semakin kuat dalam keyakinan manusia tersebut.
Di sinilah persoalannya. Rasa takut yang semula mendorong seseorang mencari keselamatan justru bisa menyeretnya kepada keyakinan yang keliru.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata rahaqan dalam ayat tersebut berkaitan dengan bertambahnya ketakutan, beban, atau kesesatan yang menimpa manusia. Ketika manusia merasa jin lebih berkuasa dan lebih menentukan nasibnya, ketakutan itu dapat semakin menguasai pikirannya.
Ibarat seseorang yang menyerahkan kunci rumah kepada orang yang ditakutinya, ia mungkin berharap memperoleh keamanan. Namun, jika ketergantungan itu terus dipelihara, ia justru kehilangan kebebasan untuk menentukan sikap.
Begitulah gambaran ketergantungan yang diperingatkan dalam ayat tersebut.
Sesajen dan Keinginan Mengendalikan Hal yang Tak Terlihat
Dalam kehidupan masyarakat, ketakutan terhadap makhluk gaib terkadang muncul melalui tradisi sesajen atau persembahan tertentu. Ada yang melakukannya karena mengikuti kebiasaan turun-temurun, ada pula yang meyakini persembahan itu dapat mencegah gangguan atau mendatangkan keberuntungan.
Tentu, tidak semua tradisi yang melibatkan makanan atau benda tertentu otomatis merupakan bentuk penyembahan. Penilaiannya bergantung pada tujuan, keyakinan, dan tata cara yang dilakukan.
Namun, jika persembahan ditujukan kepada jin untuk memohon perlindungan atau pertolongan gaib, praktik tersebut bertentangan dengan prinsip tauhid dalam Islam. Seorang Muslim diajarkan untuk menggantungkan permohonan perlindungan kepada Allah, bukan kepada makhluk yang tidak terlihat.
Persoalannya bukan semata-mata pada makanan yang diletakkan di suatu tempat. Yang lebih mendasar adalah keyakinan di balik tindakan tersebut: kepada siapa seseorang berharap, kepada siapa ia memohon keselamatan, dan siapa yang diyakininya menentukan nasib.
Allah SWT juga menggambarkan hubungan manusia dan jin yang saling mengambil keuntungan dalam firman-Nya:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًاۚ يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِّنَ الْاِنْسِ ۚوَقَالَ اَوْلِيَاۤؤُهُمْ مِّنَ الْاِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ
Artinya, antara lain: Wahai golongan jin, kamu telah sering kali (menyesatkan) manusia.” Kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, “Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan...” (QS Al-An’am [6]: 128).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa hubungan manusia dan jin dapat berkembang menjadi hubungan yang menyesatkan. Manusia merasa memperoleh manfaat dari jin, sementara jin mendapatkan pengikut yang bersedia tunduk kepada mereka.
Karena itu, ketakutan yang dipelihara tanpa landasan keyakinan yang benar dapat menjadi pintu ketergantungan. Seseorang yang awalnya hanya ingin selamat bisa terdorong melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agamanya.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menantang jin, mencari-cari keberadaannya, atau menghabiskan hidup dalam kecemasan terhadap makhluk gaib. Islam justru mengajarkan agar manusia menjaga akidah, berikhtiar secara wajar, dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk memohon perlindungan adalah doa ketika singgah di suatu tempat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang singgah di suatu tempat, kemudian membaca:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Artinya: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.
Doa ini mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi mendasar. Ketika merasa takut, seorang Muslim tidak perlu mencari perlindungan kepada makhluk gaib. Ia dapat berdoa kepada Allah sambil tetap melakukan ikhtiar yang masuk akal untuk menjaga keselamatan dirinya.
Pada akhirnya, kisah tentang jin yang dahulu takut kepada manusia bukanlah ajakan untuk merasa lebih hebat daripada jin. Pesan yang lebih penting adalah agar manusia tidak membiarkan ketakutan menguasai keyakinannya.
Editor: Muhammad Zunus
