Kisah Abu Darda Selamatkan Nyawa Pendosa saat Diamuk Massa

Kisah Abu Darda Selamatkan Nyawa Pendosa saat Diamuk Massa

Arina.id - Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang menjunjung tinggi nilai kasih sayang kepada siapa pun tanpa memandang kelompok, golongan, maupun latar belakang. Hal ini sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah dan dilanjutkan oleh para sahabatnya sehingga tidak sedikit orang yang memeluk Islam dan bertobat dalam dekapan kasih sayang.

Salah satu kisah yang menggambarkan hal ini adalah peristiwa ketika seorang pendosa yang tengah diamuk massa kemudian diselamatkan oleh Abu Darda. Kisah ini diungkap oleh Yasir Abdurrahman dalam kitab Mawsu‘atul Akhlaq waz Zuhdi war Raqa’iq, (Kairo, Muassasah Iqra: 2011), Juz I, halaman 393-394.

Dikisahkan, suatu hari Abu Darda sedang berjalan dan melewati kerumunan yang di dalamnya terdapat sekelompok orang sedang berkumpul memukuli dan mencaci maki seorang lelaki. Melihat adanya kejadian ini Abu Darda pun mendekati mereka seraya berkata:

“Ada apa ini?”

“Orang ini telah melakukan dosa besar,” jawab mereka dengan nada emosi.

“Menurut kalian, jika orang ini jatuh ke dalam sumur, apakah kalian akan berusaha mengeluarkannya?” tanya Abu Darda

“Tentu saja,” jawab mereka.

“Kalau begitu, mengapa kalian tidak menolongnya dari ‘sumur dosa’ sebagaimana kalian hendak mengeluarkannya dari sumur?" balas Abu Darda.

Abu Darda kemudian menyarankan agar semua permasalahan diselesaikan dengan pikiran jernih dan hati yang tenang. Ia pun meminta orang-orang agar berhenti main hakim sendiri dan meminta agar pria tersebut dinasihati, diberikan pemahaman tentang bahaya dosa, serta berdoa agar diberikan hidayah oleh Allah.

“Bersyukurlah kepada Allah karena telah menyelamatkan kalian sehingga tidak melakukan dosa sebagaimana dilakukan orang ini,” terang Abu Darda.

Mereka pun merasa heran dengan sikap Abu Darda yang seolah membenarkan perilaku pria berdosa tersebut.

“Apakah engkau tidak membencinya?” tanya mereka.

“Aku membenci perbuatannya tapi tidak orangnya. Jika dia mau bertobat dan meninggalkan dosa yang telah dilakukan maka dia adalah saudaraku.” jawab Abu Darda.

Ucapan Abu Darda ini membuat hati pria pendosa ini merasa tersentuh dan membuatnya sadar hingga menangis tersedu-sedu. Dalam tangis penuh penyesalan, ia menyatakan tobatnya dengan tulus. Tak hanya itu, ia pun berjanji akan berusaha meninggalkan dosa-dosanya dan berkomitmen untuk memperbaiki diri serta menempuh jalan kebaikan di masa yang akan datang.

***

Kisah Abu Darda ini mempunyai hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik oleh umat Islam. Di antaranya adalah larangan untuk main hakim sendiri ketika mendapati seorang pelaku dosa atau kesalahan. Islam tidak membenarkan tindakan kekerasan atau persekusi massa, meskipun terhadap pelaku maksiat. Sebaliknya, pelaku maksiat dan kejahatan seharusnya diserahkan kepada pihak yang berwenang untuk diproses secara adil dan sesuai hukum yang berlaku. Alih-alih menunjukkan kepedulian, main hakim sendiri justru memperburuk keadaan dan menyalahi ajaran Islam yang mengedepankan keadilan dan kelembutan dalam menyikapi kesalahan.

Selanjutnya, kisah Abu Darda ini mengingatkan umat Islam agar tidak merasa lebih suci dari orang lain karena hal itu akan jatuh pada jurang kesombongan. Padahal, setiap orang memiliki potensi untuk tergelincir dalam dosa dan maksiat. Jika seseorang masih dijaga dari perbuatan maksiat, pada hakikatnya hal itu karena pertolongan dan perlindungan dari Allah. Untuk itu, ketika melihat seseorang melakukan maksiat perlu bersyukur kepada Allah karena telah menyelamatkan diri sehingga tidak melakukan perbuatan dosa tersebut sebagaimana nasihat Abu Darda dalam kisah di atas.

Di sisi lain, terkadang orang yang sering melakukan maksiat merasa sudah lelah dan jenuh dengan perilakunya sendiri. Hati kecilnya tak jarang mengatakan ingin bertobat namun bingung karena tidak ada orang yang membimbingnya. Dalam kondisi seperti ini, Islam hadir sebagai penawar kejenuhan tersebut sekaligus menjadi penuntun menuju kebaikan. Oleh karena itu, dakwah Islam seharusnya bisa menyentuh kelompok-kelompok yang bergelimang maksiat untuk menjadi pelita yang menerangi kegelapan hatinya. Wallahu a’lam.


Editor: Aiz Luthfi
logo