Sejarah Awal Mula Manusia Takut dengan Jin

Sejarah Awal Mula Manusia Takut dengan Jin

Mendengar istilah jin, barangkali yang terlintas di benak kita adalah sosok gaib (tak kasat mata) yang kemunculannya bisa mengganggu manusia. Membuat orang kesurupan, mendatangkan penyakit, menjadikan bisnis bangkrut, dan sejumlah kerugian lainnya. Wajar saja jika orang menilai jin sebagai makhluk menyeramkan, sebab hal itu dibentuk secara kuat dari kepercayaan yang diyakini.

Konsep tentang makhluk gaib seperti jin telah mengilhami cerita, kepercayaan, dan mitos selama berabad abad. Meskipun pandangan dan interpretasi tentang jin bervariasi, mereka secara umum dianggap sebagai entitas gaib yang mendiami dunia paralel dan memiliki kekuatan yang kuat. 

Konsep tentang jin memiliki akar kuat dalam tradisi dan kebudayaan kuno. Pada tradisi Arab, jin dikaitkan dengan mitologi pra-Islam dan cerita rakyat Arab. Dalam budaya Persia, mereka dikenal sebagai div (دیو) sedangkan dalam mitologi Yunani, makhluk-makhluk serupa dikenal sebagai daimon atau demon. Konsep serupa juga ada dalam kepercayaan Mesir kuno dan India.

Dalam agama-agama besar seperti Islam, Kristen, dan Yahudi, makhluk gaib seperti jin atau setan juga memiliki peran penting dalam kepercayaan dan ajaran. Kisah-kisah tentang jin atau setan yang mencoba menggoda atau menggagalkan manusia muncul dalam teks-teks suci agama-agama tersebut.

Selain pengaruh agama, konsep tentang jin juga terlihat dalam berbagai cerita dan karya seni populer. Kisah-kisah tentang jin sering menjadi elemen cerita dalam literatur klasik dan modern, serta industri perfilman dan televisi. Tokoh-tokoh jin sering digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kekuatan supranatural, mampu mengabulkan permintaan, atau memberikan ujian kepada manusia.

Dalam ajaran Islam, ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist Rasulullah saw cukup banyak bercerita tentang jin, termasuk sifat-sifat mereka, aktivitas, dan keadaan mereka. Di dalam nash-nash itu juga diterangkan tentang kaitan mereka dengan Sang Pencipta (Allah swt), hubungan jin dengan alam semesta, termasuk interaksi mereka dengan manusia.

Awal Mula Ketakutan Manusia

Ketakutan terhadap makhluk gaib seperti jin dapat dilacak kembali ke zaman kuno, jauh sebelum catatan sejarah tertulis. Manusia telah memiliki kecenderungan untuk merasa takut terhadap hal-hal yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah atau yang terjadi di luar pengalaman mereka sehari-hari. Ketakutan terhadap jin inilah yang pada akhirnya diekspresikan dalam beragam bentuk, termasuk memberikan sesembahan atau sesaji.

Praktik sesajen untuk memohon perlindungan dari gangguan jin atau makhluk gaib dapat ditemukan dalam berbagai budaya yang memiliki keyakinan tentang keberadaan jin atau entitas gaib. Tujuan dari sesajen ini adalah untuk meredakan atau menghindari potensi pengaruh negatif dari jin atau roh-roh jahat.

Tradisi membuat sesajen pada sebagian masyarakat di Indonesia, misalnya, merupakan salah satu wujud rasa takut manusia terhadap makhluk gaib atau jin. Sesajen biasanya berupa aneka makanan dan benda-benda yang dipercayai membuat jin tidak membuat kekacauan atau bahkan membantu manusia mengabulkan keinginan. Meski tentu dalam pandangan Islam praktik demikian sama sekali tidak dibenarkan, bahkan masuk dalam kategori dosa besar karena sifatnya menyekutukan Allah.

Secara psikologis, sesajen dibuat karena manusia takut dengan makhluk gaib yang sewaktu-waktu bisa mengganggu. Orang yang sedang melakukan hajatan dalam tradisi Jawa contohnya, ia akan menyajikan sesajen berupa macam ragam makanan yang diletakkan di tempat-tempat tertentu dengan harapan prosesi hajatan berlangsung lancar. Mereka meyakini jika tidak ada persembahan, jin bisa membuat prosesi hajatan tidak berjalan baik.

Namun tahukah Anda, sebenarnya dulu jin-lah yang takut kepada manusia. Bahkan diriwayatkan jika jin melihat manusia maka meraka akan lari tunggang langgang. Kok bisa?

Sebelum manusia takut dengan jin, sebenarnya dulu bangsa jin-lah yang takut dengan manusia. Saat melihat kedatangan manusia para jin akan lari tunggang-langgang saking khawatirnya. Berikut penulis kutipkan penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya,

‎كان الجن يفرقون من الإنس كما يفرق الإنس منهم أو أشد ، وكان الإنس إذا نزلوا واديا هرب الجن ، فيقول سيد القوم : نعوذ بسيد أهل هذا الوادي. فقال الجن: نراهم يفرقون منا كما نفرق منهم ، فدنوا من الإنس فأصابوهم بالخبل والجنون

Artinya, “Dulu bangsa jin merasa takut dengan manusia sebagaimana sekarang manusia takut dengan keberadaan jin. Ketika ada manusia menyusuri lembah, maka jin yang mendiami lembah tersebut akan lari ketakutan. Hingga sekali waktu jin mendengar ada seorang pimpinan kaum (manusia) berkata, ‘Aku berlindung kepada jin penunggu lembah ini.’ Jin pun berkata, ‘Kami melihat mereka (manusia) takut kepada bangsa kami sebagaimana kami takut dengan kalian.’ Kondisi pun berbalik sehingga bangsa jin membuat manusia menjadi gila.”

Memahami kutipan di atas, perubahan sikap manusia takut terhadap jin, bukan sebaliknya, diawali ketika jin tahu bahwa bangsa manusia juga memiliki rasa takut dengan jin. Sejak saat itulah jin memanfaatkan kondisi tersebut bahkan para jin kafir akan menjerumuskan manusia ke dalam kekufuran.

Apa yang dipaparkan Ibnu Katsir di atas jelas bahwa berlindung kepada jin tidak diperbolehkan dalam Islam. Sebab, hal itu akan menimbulkan ketergantungan dan membuat manusia berada di bawah perdaya makhluk gaib yang satu ini. Jika jin tersebut berbeda akidah sangat mungkin mempengaruhi manusia agar dijauhkan dari nilai-nilai agama atau kemusyrikan. Berkaitan dengan hal ini Allah swt berfirman,

‎وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ

Artinya, “Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari (kalangan) manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin sehingga mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jinn [72]: 6).

Ayat ini berkaitan dengan tradisi masyarakat jahiliyah yang terbiasa meminta perlindungan kepada jin. Dulu ketika berada di tempat-tempat sepi seperti lembah, daerah tak berpenghuni, dan tempat-tempat yang terkesan menyeramkan, mereka akan meminta perlindungan kepada penguasa gaib (jin) yang ada di lokasi tersebut agar tidak diganggu oleh jin-jin yang mendiami tempat itu.

Mengutip riwayat as-Suddi, Ibnu Katsir memaparkan kalimat permohonan lindungan yang biasa diucapkan masyarakat jahiliyah saat itu. Redaksinya demikian,

‎أَعُوذُ بِسَيِّدِ هَذَا الْوَادِي مِنَ الْجِنِّ أَنْ أضَرّ أَنَا فِيهِ أَوْ مَالِي أَوْ وَلَدِي أَوْ مَاشِيَتِي

Artinya, “Saya berlindung kepada pemilik lembah ini dari jin yang bisa membahayakanku, harta-hartaku, anakku, atau hewan ternakku.”

Para ulama ahli tafsir mengartikan kata rahaqan sebagai rasa takut dan khawatir. Artinya, ketika seseorang meminta perlindungan kepada jin, maka jin tersebut akan merasa dirinya lebih hebat dengan manusia, sementara di sisi lain manusianya juga merasa jin lebih sakti dibanding dirinya. Mindset demikian lalu membuat jin menjadi ge-er dan memanfaatkannya untuk memengaruhi dan mengendalikan manusia. Jika sudah demikian maka manusia tersebut akan mematuhi apa yang diperintahkan jin (Ibnu Katsir, 1950, vol. 14, h. 92).

Ibnu Katsir juga menjelaskan, orang yang meminta perlindungan kepada jin karena takut terhadap gangguannya justru akan membuat orang tersebut semakin larut dalam ketakutan dan memiliki ketergantungan kepada sosok gaib itu. Sikap yang seharusnya dilakukan adalah meminta perlindungan kepada Allah (Ibnu Katsir, 1950, vol. 14, h. 92). Sementara Fakruddin ar-Razi menjelaskan bahwa ketika manusia meminta perlindungan pada jin, justru jin itu akan mempermainkannya sehingga ia terperangkap dalam dosa dan kezaliman (ar-Razi, 1981: vol. 30, h. 156)

Pola ketergantungan ini akan melahirkan ketundukan. Ibarat jin adalah tuan sementara manusia sebagai pengikut yang siap mematuhi apa saja yang diinstruksikan tuannya, termasuk jika harus melakukan hal-hal yang melanggar ajaran agama. Dampak buruk ini sudah ditegaskan dalam ayat Al-Qur’an berikut,

‎وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًاۚ يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِّنَ الْاِنْسِ ۚوَقَالَ اَوْلِيَاۤؤُهُمْ مِّنَ الْاِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَّبَلَغْنَآ اَجَلَنَا الَّذِيْٓ اَجَّلْتَ لَنَا ۗقَالَ النَّارُ مَثْوٰىكُمْ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ

Artinya, “(Ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman), “Wahai golongan jin, kamu telah sering kali (menyesatkan) manusia.” Kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, “Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan buat kami.” Allah berfirman, “Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain.” Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS Al-An’am [6]: 128.

Kata istamta’a (menikmati), sebagaimana dituturkan Nudzamuddin an-Naisaburi dalam tafsirnya, menunjukkan bahwa ketika manusia meminta perlindungan dan pertolongan kepada jin, maka seolah-olah jin tersebut menjadi tuan baginya sementara ia sendiri menjadi pengikutnya. Seorang pengikut pasti akan mematuhi apa saja yang diperintahkan orang yang diikutinya. Posisi ini yang kemudian membuat jin merasa dimuliakan dan menikmatinya (istimta’) (an-Naisaburi, 2015: vol 3, h. 165).

Sejak Islam datang, Rasulullah telah mengajarkan kepada umatnya agar tidak meminta perlindungan kepada jin, melainkan kepada Allah semata. Salah satu doa yang Rasul ajarkan agar kita terhindar dari gangguan jin adalah sebagai berikut.

Artinya, “Aku berlindung dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang Maha Sempurna, yang tidak melebihi batas antara kebaikan dan keburukan dari kejahatan apa yang telah Dia ciptakan, dari kejahatan apa-apa yang turun dan naik ke langit, dari kejahatan apa-apa yang tumbuh dan keluar dari bumi, dari kejahatan ujian malam dan siang, dan dari kejahatan setiap yang berjalan kecuali dia berjalan membawa kebaikan, wahai Maha Pengasih.”

Walhasil, Islam mengakui keberadaan jin sebagai entitas gaib yang ada di dunia. Cara berlindung dari gangguan jin tersebut bukan dengan memohon dan meminta pertolongan kepada makhluk tak kasat mata ini, melainkan kepada Allah swt. Sebab, semakin kita mempercayai jaminan perlindungan jin, maka makhluk tersebut akan semakin percaya diri bisa mengendalikan dan memperdaya manusia.​​


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Muhammad Zunus
logo