Seperti yang telah diketahui, Rasulullah merupakan Nabi yang penuh kasih, teduh, dan tidak mudah marah. Jika pun beliau marah atau tidak suka terhadap suatu perbuatan, biasanya beliau sampaikan dengan teguran tegas nan lembut.
Rasulullah menjadi sosok Nabi yang paripurna (insan kamil) dan hadir sebagai oase di tengah hamparan padang pasir. Beliau adalah manusia mulia di berbagai peran; sebagai kepala rumah tangga, suami dari istri-istrinya, ayah dari anak-anaknya, pemimpin umat, dan utusan Allah.
Kesemua tugas itu, Rasulullah tunaikan dengan baik. Meskipun di tengah perjalanan kerap muncul problematika, namun beliau mampu menyelesaikannya dengan baik dan bijak. Sehingga kemudian menjadi acuan oleh umat Islam dalam menyelesaikan beberapa permasalahan kehidupan. Misalnya tentang romantika dalam rumah tangga.
Terdapat sebuah kisah manakala Siti Aisyah cemburu terhadap Shafiyah yang juga merupakan istri Nabi Muhammad. Kala cemburu melanda Siti Aisyah berkata buruk tentang Shafiyah di hadapan Nabi bahwa Shafiyah adalah perempuan yang pendek. Perkataan ini bila dilontarkan langsung kepada yang Shafiyah, maka mirip dengan istilah body shaming. Hanya saja perkataan Aisyah ini lebih tepat dikategorikan menggunjing (ghibah).
Dalam salah satu riwayat disebutkan:
عن عائشة رضي الله عنها قالت: قلت للنبي صلى الله عليه وسلم : حَسْبُك من صفية كذا وكذا. قال بعض الرُوَاة: تَعْني قَصِيرة، فقال: «لقد قُلْتِ كلِمَة لو مُزِجَت بماء البحر لَمَزَجَتْهُ!» قالت: وحَكَيْتُ له إِنْسَانًا فقال: «ما أُحِبُّ أَني حَكَيْتُ إِنْسَانًا وإن لي كذا وكذا
Artinya: "Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, aku menyampaikan pada Nabi: Telah cukup bagi engkau wahai Rasulullah atas kekurangan Shafiyah seperti ini dan itu. Sebagian perawi mengatakan bahwa Aisyah menggunjing fisik Shafiyah yang pendek (dengan tujuan menghina) sebab cemburu, lalu Rasulullah bersabda: Aisyah, engkau telah mengatakan sebuah kalimat yang apabila dicampur dengan air laut, maka kalimat itu akan mengeruhkannya. Aisyah berkata: bahwa hal ini (menggunjing) bertujuan menghina sudah biasa dilakukan oleh manusia secara umum, Nabi bersabda: aku tidak suka menceritakan keadaan manusia bahwa aku seperti ini dan itu (HR. Turmudzi, Abu Dawud)
Teguran Rasulullah ini secara jelas dapat diartikan bahwa menggunjing atau ghibah sangat ditentang oleh agama. Sebab selain dapat mengotori hati seseorang, juga dapat membuat gelap mata, apalagi didasari rasa tidak suka, cemburu.
Pelajaran yang dapat dipetik bahwa kita harus bersungguh-sungguh memerangi kebiasaan buruk berupa ghibah, hasud, yang kerap terselip dalam hati. Bahkan sangat ironis sampai menjadi sebuah kebiasaan yang marak dilakukan masyarakat.
Poin dari kisah di atas adalah: 1. Larangan keras menggunjing (ghibah), 2. Keharaman ghibah, 3. Menyifati satu inci tubuh seseorang termasuk ghibah, 4. Menjelaskan betapa bahayanya seorang yang dilanda cemburu, 5. Rasulullah tegas mencegah kemungkaran.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ
Artinya: "Sesungguhnya kamu telah mengatakan suatu ucapan, yang jika dicampur dengan air laut, niscaya akan menjadikannya keruh". (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Menjaga lisan, tulisan, ujaran buruk seperti ghibah, adu domba, maupun hal-hal buruk lainnya tentu harus dijauhi. Terlebih belakangan ini, era teknologi internet yang memungkinkan terhubung dengan banyak orang dari seluruh penjuru dunia, sehingga interaksi dan komunikasi menjadi hal penting yang dilakukan setiap hari.
Menjaga lisan sama dengan menjaga ketikan jari agar tidak menyampaikan komentar-komentar yang menyakiti atau menyinggung orang lain di media sosial. Sebab banyak orang masuk surga karena lisannya dan banyak pula yang terjerumus ke dalam neraka akibat lisannya.
Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Imam Bukhari dalam sahihnya, no. 6478 dan Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, no. 3970
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللّٰهِ لَا يُلْقِيْ لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللّٰهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللّٰهِ لَا يُلْقِيْ لَهَا بَالًا يَهْوِيْ بِهَا فِيْ جَهَنَّمَ
Artinya: "Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat tentang sesuatu yang diridhai Allah yang tidak ia sadari, sehingga Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat tentang suatu yang dimurkai Allah, yang tidak ia sadari, ternyata menghempaskan dirinya ke dalam Neraka Jahannam."
Senada dengan hal itu, sabda Rasulullah SAW lainnya adalah:
ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ يَكُبَّ النَاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ –أَوْ قَالَ : عَلىَ مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ . [رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح]
Artinya: "Alangkah sedihnya ibumu wahai Mu'adz, bukankah manusia dilemparkan ke dalam neraka dengan keadaan tersungkur mukanya tidak lain karena hasil buah lisannya?" (HR. At-Tirmidzi no.2616)
Dari kisah ini sangat jelas, bahwa wajib menjaga lisan, menjaga tulisan maupun komentar di medsos, dan menjauhi semua aktivitas negatif di dunia nyata dan dunia maya. Dengan mengembalikan semuanya kepada Yang Kuasa, maka segala kerumitan kita akan disederhanakan.
Editor: Muhammad Faizin
