3 Keutamaan Istiqamah Sholat Tarawih hingga Akhir Ramadan

3 Keutamaan Istiqamah Sholat Tarawih hingga Akhir Ramadan

Arina.id - Ramadan merupakan bulan panen pahala yang penuh dengan keberkahan. Selain balasan ibadah yang berlipat ganda, bulan ini juga dipenuhi dengan anjuran berbagai amalan sunnah, seperti memperbanyak tadarus Al-Qur'an, bersedekah, serta menunaikan sholat Tarawih. Umat Islam sering kali bersemangat menjalankan ibadah-ibadah tersebut pada awal bulan. Namun, seiring berjalannya waktu, semangat tersebut perlahan menurun, terutama saat memasuki pertengahan Ramadan.

Fenomena ini terlihat jelas dalam pelaksanaan sholat Tarawih di masjid-masjid. Di awal Ramadan, jamaah memadati shaf hingga penuh, mencerminkan antusiasme tinggi dalam beribadah. Namun, ketika Ramadan mencapai pertengahannya, jumlah jamaah biasanya mulai berkurang. Beberapa hanya bertahan di shaf depan, sementara shaf belakang semakin kosong. Hal ini menunjukkan perlunya konsistensi dalam menjaga semangat ibadah agar tetap stabil hingga akhir Ramadan.

Berkaitan dengan fenomena berkurangnya jamaah sholat Tarawih, pada kesempatan kali ini penulis akan membahas keutamaan melaksanakan sholat Tarawih secara istiqamah atau konsisten hingga hari terakhir bulan puasa.

1. Mendapat Ampunan Dosa

Melaksanakan sholat Tarawih secara istiqamah tentunya membuat seseorang memperoleh pahala ibadah ini lebih maksimal. Rasulullah telah menyampaikan bahwa salah satu pahala orang mendirikan sholat Tarawih akan memperoleh ampunan dosa. Nabi pernah bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ   

Artinya, “Barangsiapa ibadah (Tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).  

Para ulama sepakat bahwa frasa qâma Ramadhâna dalam hadits mengacu pada pelaksanaan sholat Tarawih. Hadits ini secara tegas mendorong umat Muslim untuk menjalankan sholat tersebut yang merupakan ibadah eksklusif di bulan Ramadan. Keutamaannya sangat besar, yakni menghapus dosa bagi siapa pun yang melaksanakannya dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Dengan demikian, sholat Tarawih menjadi sarana penyucian diri dari kesalahan yang telah dilakukan sebelumnya. (as-Syirbini, Mughnil Muhtaj, tanpa tahun: juz 1, h. 459).

Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai cakupan dosa yang diampuni melalui sholat Tarawih. Imam Haramain berpendapat bahwa sholat ini hanya dapat menghapus dosa kecil, sebab dosa besar hanya dapat dilebur dengan taubat yang sungguh-sungguh. Menurutnya, ibadah sunnah semata tidak cukup untuk menghapus dosa besar. Pendapat ini menekankan pentingnya proses taubat yang mencakup penyesalan dan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan.

Sebaliknya, Imam Ibnul Mundzir berpendapat bahwa sholat Tarawih dapat menghapus semua dosa, baik kecil maupun besar. Ia mendasarkan pandangannya pada redaksi hadits yang menggunakan diksi ma, yang dalam gramatika Arab memiliki makna umum. Oleh karena itu, menurut Ibnul Mundzir, sholat Tarawih yang dilakukan dengan keikhlasan bisa menjadi sarana penghapusan dosa secara menyeluruh, tanpa membedakan jenisnya. (al-Ramli, Nihayatul Muhtaj, tanpa tahun: juz 3, h. 206).

2. Pahala Ibadah Semalam Penuh

Salah satu pahala yang diperoleh ketika kita melaksanakan sholat Tarawih adalah mendapatkan pahala ibadah satu malam full. Hal ini berdasarkan sabda Nabi berikut: 

إنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Artinya, “Sesungguhnya seorang laki-laki yang melaksanakan sholat bersama Imam (berjamaah) sampai selesai, maka baginya dihitung pahala beribadah satu malam penuh.” (HR Abu Dawud)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa seseorang yang menunaikan sholat berjamaah dan tetap berada di masjid hingga imam menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah, termasuk dzikir dan doa, akan mendapatkan pahala setara dengan ibadah semalam penuh. Pahala tersebut mencakup ibadah wajib maupun sunnah. Hal ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan menjaga kebersamaan dalam ibadah. Imam Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya mencatat hadits ini dalam bab yang membahas keutamaan sholat di bulan Ramadan. (Abu Thayyib Abadi, ‘Aunul Ma’bûd, 2017; juz 2, h. 168).

Jika hadits ini dikaitkan dengan pelaksanaan sholat Tarawih, maka seseorang yang menunaikan sholat Tarawih hingga selesai, termasuk witir serta zikir dan doa bersama imam, akan memperoleh pahala seperti beribadah sepanjang malam. Keutamaan ini menjadi dorongan bagi umat Muslim untuk tidak hanya sekadar menjalankan sholat Tarawih, tetapi juga menyempurnakannya dengan mengikuti imam hingga akhir. Hal ini juga menunjukkan pentingnya menjaga konsistensi dalam ibadah, terutama di bulan suci Ramadan, ketika pahala amal ibadah dilipatgandakan.

Terlebih lagi, malam-malam di bulan Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan malam-malam lainnya sepanjang tahun. Keutamaan sholat berjamaah yang dijelaskan dalam hadits ini semakin bernilai tinggi ketika diterapkan dalam sholat Tarawih di bulan Ramadan. Dengan demikian, berusaha untuk mengikuti sholat Tarawih secara penuh, termasuk witir, zikir, dan doa bersama imam, bukan hanya mendatangkan pahala besar tetapi juga melatih diri untuk lebih istiqamah dalam beribadah. Hal ini menjadi salah satu cara bagi umat Muslim untuk meraih keutamaan bulan Ramadan secara maksimal.

3. Berkesempatan Raih Lailatul Qadar

Melaksanakan sholat Tarawih secara konsisten, terlebih saat memasuki tanggal gajil di 20 ke atas, memberikan kita kesempatan untuk maraih malam Lailatul Qadar. Jika Tarawih yang kita lakukan di hari-hari terakhir Ramadan bertepatan dengan malam yang lebih utama dibanding 1000 bulan ini, tentu kita akan memperoleh pahala yang luar biasa. Sudah dapat ampunan dosa, pahala ibadah semalam penuh, ditambah dapat anugerah Lailatul Qadar. Sempurna sudah.

Berikut adalah hadits yang menyebutkan Lailatul Qadar terjadi pada10 hari terakhir bulan Ramadan:

وعن عائشة رضي الله عنها، قالت: كَانَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - يُجَاوِرُ في العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، ويقول: «تَحَرَّوا لَيْلَةَ القَدْرِ في العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضانَ». متفقٌ عَلَيْهِ

Artinya, “Dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: ‘Carilah lailatul qadar itu dalam malam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadits ini dikerucutkan oleh riwayat berikut:

وعنها رضي الله عنها: أنَّ رسولَ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: «تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ». رواه البخاري.

Artinya, “Dari Aisyah ra pula, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: ‘Carilah lailatul qadar itu dalam malam ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Setelah kita membaca keutamaan dan pahala menjaga konsistensi sholat Tarawih hingga Ramadan selesai, semoga motivasi ibadah kita di bulan suci ini terus terjaga. Jangan sampai di bulan panen pahala yang hanya hadir satu bulan dalam setahun ini, kita justru merugi. Wallahu a'lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
logo