Tips Agar Aktivitas Sehari-hari Kita Mendatangkan Pahala

Tips Agar Aktivitas Sehari-hari Kita Mendatangkan Pahala

Setiap hari, kita melakukan berbagai aktivitas yang sifatnya mubah, seperti makan, minum, bekerja, atau bahkan sekadar beristirahat. Aktivitas-aktivitas ini biasanya dianggap sebagai hal lumrah, tidak membawa pahala maupun dosa. Namun, dengan niat yang benar disertai doa, aktivitas sehari-hari yang sederhana ini justru bisa menjadi sumber pahala.

Islam telah mengajarkan bahwa niat merupakan kunci utama yang bisa mengubah setiap ativitas menjadi ibadah yang bernilai pahala. Ketika kita makan dengan niat untuk menjaga kesehatan agar bisa beribadah dengan baik, atau ketika kita bekerja dengan niat untuk mencari rezeki yang halal demi memenuhi kebutuhan keluarga, semua itu bisa bernilai pahala di sisi Allah.

Penjelasan ini disebutkan dalam hadits Rasulullah saw berikut;


إِنَّمَا ٱلْأَعْمَالُ بِٱلنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مَا نَوَىٰ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُۥ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ، فَهِجْرَتُهُۥ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُۥ لِدُنْيَا يُصِيبُهَآ، أَوِ ٱمْرَأَةٍ يَنكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُۥ إِلَىٰ مَا هَاجَرَ إِلَيْهِۦ

"Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dia peroleh atau karena seorang wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia niatkan."

Syaikh Wahbah Az Zuhaili memberi penjelasan terkait hadits di atas. Menurut ulama fiqih asal Suriah ini, aktivitas sehari-hari seorang Muslim yang sifatnya mubah, seperti makan, minum, tidur, bekerja, dan hubungan suami istri, bisa dikonversi menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar dan tujuan yang baik. 

Ketika seseorang makan atau minum misalnya, lalu diniatkan untuk memperkuat diri agar mampu menjalankan ibadah dengan lebih baik, atau bekerja untuk mencari rezeki yang halal demi memenuhi kebutuhan keluarga dan memberikan manfaat kepada orang lain, maka aktivitas tersebut akan bernilai pahala di sisi Allah.

Sebaliknya, kata Syaikh Zuhairi, jika aktivitas ini dilakukan tanpa niat ibadah atau hanya sekadar memenuhi kebutuhan duniawi, maka aktivitas tersebut tidak akan membawa pahala. (Al Fiqh Al Islamy Wa Adillatuhu juz 1 halaman 224).

Imam As-Sya’roni dalam kitabnya Lawaqihul Al-Anwar Al-Qudsiyah juga menegaskan bahwa hal mubah dapat bernilai pahala tergantung niatnya.


ومن القوم من يقلب المباح بالنية الصالحة الى خير, فيثاب عليه ثواب المندوب,كأن ينوي بأكله التقوي على عبادة الله.

"Barang siapa yang mengganti niat melaksanakan perkara mubah menjadi perkara yang sunnah, maka perbuatan mubah itu akan bernilai pahala, seperti contoh orang yang makan berniat agar kuat dalam menjalankan ibadah kepada Alloh Swt."

Dengan demikian agar perkara mubah yang terlihat sepele dapat bernilai ibadah adalah dengan meniatkannya untuk menjalankan perbuatan baik dan ibadah kepada Allah Swt. Namun untuk mencover itu semua agar menjadi lebih ringkas kita bisa membaca doa berikut;


اَللَّهُمَّ مَا أَعْمَلُهُ فِي هَذَا النَّهَارِ ـ أَوْ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ ـ مِنْ خَيْرٍ، فَهُوَ ٱمْتِثَالٌ لِأَمْرِكَ، وَمَا أَتْرُكُهُ مِنْ مَعْصِيَةٍ فَهُوَ ٱمْتِثَالٌ لِنَهْيِكَ

"Ya Allah, apa yang aku kerjakan pada siang hari ini atau pada malam hari ini dari kebaikan, itu adalah sebagai bentuk ketaatan kepada perintah-Mu, dan apa yang aku tinggalkan dari kemaksiatan, itu adalah sebagai bentuk kepatuhan kepada larangan-Mu."

Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bissawab.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Zunus
logo