Umar bin Abdul Aziz, Pemimpin Adil yang Wafat di Bulan Rajab

Umar bin Abdul Aziz, Pemimpin Adil yang Wafat di Bulan Rajab

Dalam Islam, Rajab tidak hanya diyakini sebagai momentum spiritual, tetapi juga waktu bersejarah sebab di dalamnya merekam sejumlah peristiwa historis yang sangat penting. Salah satunya adalah wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin Dinasti Umayyah yang meninggal pada Rajab tahun 101 Hijriah. 

Wafatnya Umar meninggalkan kesan mendalam karena ia tidak tidak hanya dikenal sebagai seorang pemimpin yang adil dan bijaksana, tetapi juga karena beberapa fakta menarik yang mengiringi akhir hayatnya. Karena sikap adil dan bijaksananya selama memimpin umat, ia sampai disebut sebagai khalifah kelima terbaik setelah Ali bin Abi Thalib. Jaluddin as-Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa mengutip pernyataan Sufyan ast-Tsauri berikut:

الخلفاء خمسة: أبو بكر وعمر وعثمان وعلي وعمر بن عبد العزيز

Artinya, “Khalifah (Khulafaur Rasyidin) itu ada lima, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Umar bin Abdul Aziz.” (as-Suyuthi: 2017: h. 146)

Ada beberapa keterangan terkait wafatnya Umar bin Abdul Aziz yang bersumber dari sejumlah kitab sejarah, misalnya kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir dalam bab Sababu Wafatihi Rahimahullah (2015: juz 5, h. 222-) dan Al-Kamil fit-Tarikh karya Ibnul Atsir dalam bab Dzikru Wafati Umar bin Abdul Aziz (1987: juz 4, h. 326).

Wafat karena Diracun

Salah satu dugaan yang menyebabkan kematian Umar bin Abdul Aziz adalah kemungkinan diracun. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ketika Umar mulai merasa sakit, ia mengaku bahwa ada orang yang memberi racun kepadanya melalui makanan atau minuman. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah melaporkan, disebutkan ada seorang budak yang memberi racun kepada Umar. 

Budak tersebut diduga mendapat imbalan sebesar seribu dinar atas tindakannya. Ia merupakan suruhan dari oknum keluarga Umar sendiri yang tidak suka dengan gaya kepemimpinannya yang membuat para pejabat korup tersingkir dari pemerintahan, termasuk pejabat dari pihak keluarga.

Setelah racun bereaksi di tubuhnya, Umar menyadari bahwa ia memang telah dibunuh secara perlahan. Namun, ia tidak menunjukkan penyesalan atau kemarahan atas perbuatan tersebut. Bahkan, ia sempat berkata kepada orang yang membawa racun tersebut, "Saya telah tahu sejak hari saya diberi racun,” dan menyuruh budak itu melarikan diri sebelum perbuatannya diketahui oleh yang lain. Hal ini menunjukkan kedewasaan Umar dalam menghadapi takdir yang sudah digariskan Allah SWT. 

Selain karena dugaan diracun, ada juga versi lain yang menyebutkan bahwa sakit yang diderita Umar mungkin saja disebabkan oleh faktor kesehatan yang sudah melemah setelah bekerja keras dalam memerintah. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, tetapi yang jelas Umar tidak kuasa menghindari takdirnya, meskipun ada berbagai kemungkinan terkait penyebab kematiannya.

Wafat di Usia Muda
Umar bin Abdul Aziz wafat dalam usia yang relatif muda, yaitu sekitar 39 tahun atau 40 tahun lebih sedikit. Umurnya yang terbilang pendek menarik perhatian banyak orang, mengingat prestasi dan pengaruh besar yang telah dicapainya selama masa kekhalifahannya. Wafatnya Umar di usia muda juga menjadi titik perenungan mengenai perjalanan hidup yang begitu singkat namun penuh dengan makna. 

Dalam Al-Bidayah wan Nihayah, disebutkan bahwa masa kekhalifahannya berlangsung hanya selama dua tahun lebih lima bulan. Meskipun demikian, dalam waktu singkat tersebut Umar berhasil mereformasi banyak aspek dalam pemerintahan, keuangan, dan kehidupan sosial masyarakat. Ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang sangat peduli dengan kesejahteraan rakyat dan berusaha menerapkan ajaran Islam secara murni.

Berdasarkan laporan Ibnul Atsir dalam Al-Kamil fit-Tarikh, selain fokusnya yang luar biasa dalam menjalankan tugas sebagai khalifah, usia Umar yang masih muda menambah keheranan banyak orang atas keteguhannya dalam menjalankan amanah. Umar tidak hanya meninggalkan jejak sebagai pemimpin yang bijaksana, tetapi juga sebagai seorang individu yang terhormat dalam menjalani kehidupannya yang penuh pengabdian kepada agama dan masyarakat. 

Meski usianya tergolong muda, pengaruhnya dalam sejarah sangat besar dan masih dihargai hingga kini. Kepergian Umar yang begitu muda menunjukkan bahwa waktu hidup manusia sangatlah terbatas, namun kualitas pengabdian dan kepemimpinan bisa memberikan dampak yang luar biasa meskipun dalam waktu yang singkat.

Wasiat Terakhir yang Bijak
Salah satu momen yang sangat penting sebelum wafatnya Umar bin Abdul Aziz adalah wasiat terakhir yang ia tinggalkan. Dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan Al-Kamil fit-Tarikh, diceritakan bahwa pada saat-saat terakhir hidupnya, Umar memberikan nasihat yang sangat bijak kepada keluarganya. Sebelum wafat, ia sempat mengumpulkan anak-anaknya dan menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga prinsip hidup yang benar dan tidak mengutamakan kekayaan duniawi. 

Umar tidak hanya memberi wasiat tentang bagaimana memimpin, tetapi juga tentang bagaimana menjalani hidup dengan penuh keikhlasan dan keteguhan dalam menjalankan perintah Allah. Dalam wasiatnya, Umar menegaskan bahwa ia tidak ingin keluarganya tergantung pada kekayaan yang diperolehnya semasa hidup. Ia menekankan bahwa kewajiban mereka adalah tetap menjaga agama dan moralitas, serta berpegang pada prinsip hidup yang jujur dan adil. 

Dalam Al-Bidayah wan Nihayah, dijelaskan bahwa meskipun Umar sangat khawatir akan masa depan keluarganya, ia tetap yakin bahwa Allah SWT adalah penjaga terbaik bagi mereka. Wasiat ini mencerminkan kesadaran Umar bahwa kekayaan dan kedudukan dunia hanya bersifat sementara, dan yang lebih penting adalah menjaga hubungan yang baik dengan Tuhan dan menjalankan kehidupan yang penuh dengan kebaikan. 

Tidak Meninggalkan Kekayaan
Salah satu aspek yang sangat mencolok dari kehidupan Umar bin Abdul Aziz adalah kenyataan bahwa ia tidak meninggalkan kekayaan yang melimpah setelah wafatnya. Hal ini menegaskan integritas dan kesederhanaan hidup yang ia anut sepanjang pemerintahannya. Dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan Al-Kamil fit-Tarikh, disebutkan bahwa Umar tidak meninggalkan harta yang banyak untuk keluarganya. 

Bahkan, pada saat-saat terakhir hidupnya, ia lebih memikirkan bagaimana mengatur dan membagikan sumber daya yang ada untuk kepentingan umum, bukan untuk kepentingan pribadi atau keluarganya.

Wajar jika Umar tidak meninggalkan banyak kekayaan harta untuk keluarga setelah wafat, sebab ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memperkaya diri. Dalam beberapa riwayat ia disebutkan hidup sangat sederhana, dari mulai berpakaian, konsumsi makanan, dan segala aspek kehidupan lainnya.

Imam Adz Dzahabi dalam Siyaru A’lamin Nubala memberikan testimoni tentang Umar dengan menyebut sederet gelar panjang yang menunjukkan betapa agung kedudukannya, termasuk pribadinya sebagai sosok yang tidak tergoda dengan kekayaan duniawi atau zuhud:

الإمام الحافظ العلامة المجتهد الزاهد العابد السيد، أمير المؤمنين حقًّا، أبو حفص القرشي الأموي المدني ثم المصري، الخليفة الراشد، أشج بني أمية

Artinya: “Sang imam, sang hafidz, sang ‘allamah, sang mujtahid, sang zahid, sang ahli ibadah, sang sayyid, amirul mukminin sejati, Abu Hafsh al-Qursyi al-Umawi al-Madani al-Mishri, sang kahlifah cerdas, dan Bani Umayyah yang paling dicintai.” (Adz Dzahabi: 1982, juz V, h. 114)

Di bulan Rajab ini, selain mengenang peristiwa Isra Mi’raj, ada beberapa peristiwa penting yang terjadi di dalamnya, di antaranya adalah bulan wafatnya Umar bin Abdul Aziz, sosok pemimpin umat yang adil dan bijaksana, seorang khalifah yang tidak pernah lelah memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya, dan tidak mau hidup mewah selama masih ada rakyatnya yang berkekurangan. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
logo