4 Hadits Shahih tentang Bani Israil dalam Sahih Bukhari

4 Hadits Shahih tentang Bani Israil dalam Sahih Bukhari

Dalam ajaran Islam, Nabi Muhammad saw seringkali menyampaikan kisah dan pelajaran dari Bani Israil. Bangsa ini memiliki sejarah yang panjang dan hubungan yang kompleks dengan Islam. Tidak hanya itu, terdapat sejumlah hadits shahih yang secara khusus berisi penjelasan Nabi Muhammad tentang kehidupan Bani Israil. 

Sejatinya, hadits shahih ini menjadi sumber penting untuk memahami pandangan Islam terhadap bangsa tersebut. Berikut 4 hadits tersebut sebagaimana dijelaskan dalam kitab Shahih Bukhari. 

1. Menjadikan kuburan Nabi untuk disembah

3267 حدثني بشر بن محمد أخبرنا عبد الله أخبرني معمر ويونس عن الزهري قال أخبرني عبيد الله بن عبد الله أن عائشة وابن عباس رضي الله عنهم قالا لما نزل برسول الله صلى الله عليه وسلم طفق يطرح خميصة على وجهه فإذا اغتم كشفها عن وجهه فقال وهو كذلك لعنة الله على اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد يحذر ما صنعوا

Artinya: "Basyar bin Muhammad meriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad bin Abdillah bin Khalid bin Dzubair, dari Ma'mar dan Yunus, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah bin Abdillah bin Umar, dari Aisyah dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum berdua, mereka berkata:: "Ketika sakit Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam semakin parah, Beliau memegang bajunya dan ditutupnya mukanya. Bila sudah sesak, beliau lepaskan dari mukanya. Dalam keadaan selalu seperti itu beliau bersabda: "Celakalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid. Berhati-hatilah terhadap apa yang mereka lakukan!,".

Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari, Jilid VI, halaman 573 mengungkapkan bahwa Rasulullah saw mencela dan memperingatkan umat Islam untuk tidak meniru tindakan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah. Nabi mengingatkan menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk penyimpangan dan pelecehan terhadap ajaran agama yang mereka anut.

والغرض منه ذم اليهود والنصارى في اتخاذهم قبور أنبيائهم مساجد

Artinya: "Maksudnya adalah mencela orang Yahudi dan Nasrani karena menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid,". [Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Jilid VI, [Mekkah; Darul Rayyan lit Turats, 1986], halaman 573].

2. Senantiasa diutus Nabi pada Bani Israil

3268 حدثني محمد بن بشار حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن فرات القزاز قال سمعت أبا حازم قال قاعدت أبا هريرة خمس سنين فسمعته يحدث عن النبي صلى الله عليه وسلم قال كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء كلما هلك نبي خلفه نبي وإنه لا نبي بعدي وسيكون خلفاء فيكثرون قالوا فما تأمرنا قال فوا ببيعة الأول فالأول أعطوهم حقهم فإن الله سائلهم عما استرعاهم

Artinya: "Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, Dia mendengar dari Muhammad bin Ja'far, dari Syu'bah, dari Firaat al-Qazzaz, yang berkata: "Aku mendengar Abu Hazim berkata, 'Aku menemani Abu Hurairah selama lima tahun dan mendengarnya meriwayatkan hadits, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, "Bani Israil selalu dipimpin oleh para nabi. Setiap nabi wafat, nabi berikutnya akan menggantikannya. Tidak ada nabi setelahku, dan akan ada banyak khalifah di masa depan." Mereka bertanya, "Apa yang kau perintahkan untuk kami?" Beliau menjawab, "Penuhilah janji setia kepada khalifah pertama demi satu. Berikan hak mereka kepada mereka. Sungguh, Allah akan bertanya kepada mereka tentang apa yang telah mereka amanatkan."

Ibnu Hajar al-Asqallani dalam kitab Fathul Bari jilid VI, halaman 573 menjelaskan bahwa Bani Israil, di sepanjang sejarah mereka, sering kali terjerumus ke dalam kerusakan dan kemunduran. Di masa-masa sulit ini, Allah tidak membiarkan mereka terlantar. Sebagai bentuk kasih sayang dan rahmat-Nya, Dia mengutus para nabi untuk membimbing mereka kembali ke jalan yang benar.

Para nabi yang diutus Allah swt ini memiliki peran penting dalam menegakkan aturan dan menyingkirkan penyimpangan yang dilakukan Bani Israil terhadap hukum Taurat. Mereka menjadi pembawa pesan dan penegak keadilan, mengingatkan Bani Israil akan kewajiban mereka kepada Allah swt dan sesama manusia.

Kehadiran para nabi tidak hanya untuk memperbaiki kerusakan moral dan spiritual Bani Israil, tetapi juga untuk membangun sistem sosial yang adil dan berlandaskan nilai-nilai agama. Mereka menjadi pemimpin yang mengurus urusan rakyat, membimbing mereka ke jalan yang benar, dan memberikan keadilan kepada yang tertindas.

أي أنهم كانوا إذا ظهر فيهم فساد بعث الله لهم نبيا لهم يقيم أمرهم ويزيل ما غيروا من أحكام التوراة ، وفيه إشارة إلى أنه لا بد للرعية من قائم بأمورها يحملها على الطريق الحسنة وينصف المظلوم من الظالم

Artinya: "Artinya, ketika kerusakan muncul di antara mereka, Allah mengutus nabi bagi mereka untuk menegakkan urusan mereka dan menghapus apa yang mereka ubah dari hukum Taurat. Ini menunjukkan bahwa rakyat membutuhkan pemimpin yang mengurus urusan mereka, mengarahkan mereka ke jalan yang benar, dan memberikan keadilan bagi yang tertindas dari yang zalim," [Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Jilid VI, [Mekkah; Darul Rayyan lit Turats, 1986], halaman 573].

3. Menyampaikan informasi secara utuh

3274 حدثنا أبو عاصم الضحاك بن مخلد أخبرنا الأوزاعي حدثنا حسان بن عطية عن أبي كبشة عن عبد الله بن عمرو أن النبي صلى الله عليه وسلم قال بلغوا عني ولو آية وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Artinya: "Abu Asim Al-Dhahak bin Khalid meriwayatkan dari Al-Auza'i, yang meriwayatkan dari Hasan bin Atiyyah, dari Abu Kabsyah, dari Abdullah bin Amr, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah kisah Bani Israil tanpa keraguan. Dan barangsiapa yang berbohong denganku dengan sengaja, maka persiapkanlah tempat duduknya di neraka."

Imam Ibnu Hajar al-Asqallani dalam kitab Fathul Bari, Jilid VI, halaman 575 menjelaskan bahwa hadits ini berisi pesan penting dari Nabi Muhammad saw mengenai penyampaian informasi. Beliau bersabda bahwa menyampaikan walaupun hanya satu ayat dari ajarannya kepada orang lain adalah hal yang baik dan dianjurkan. Hal ini dikarenakan tidak semua sahabat Nabi selalu berada di majelis atau hadir saat beliau menerima wahyu.

Inilah yang menjadi konteks dari hadits "sampaikan dariku meski satu ayat". Para sahabat diminta untuk menyampaikan penjelasan Rasulullah kepada sahabat lain yang tidak hadir atau tidak mendengar langsung penjelasan tersebut, agar mereka juga mengetahui apa yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. 

Lebih lanjut, Rasulullah saw menganjurkan para sahabatnya untuk menyampaikan apa yang mereka dengar, termasuk kisah-kisah dari Bani Israil. Hal ini menunjukkan bahwa informasi tidak boleh disembunyikan, bahkan jika berasal dari sumber yang tidak disukai.

Namun, Rasulullah saw juga mengingatkan agar berhati-hati dalam menyampaikan informasi. Beliau melarang para sahabatnya untuk berdusta dengan sengaja atas nama beliau. Bagi mereka yang melakukan hal tersebut, Rasulullah saw memperingatkan konsekuensi berat di akhirat. [Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, Jilid VI, [Mekkah; Darul Rayyan lit Turats, 1986], halaman 575]

4. Ketidakadilan Hukum di masa Bani Israil

عن عائشة رضي الله عنها أن امرأة من بني مخزوم سرقت فقالوا من يكلم فيها النبي صلى الله عليه وسلم فلم يجترئ أحد أن يكلمه فكلمه أسامة بن زيد فقال إن بني إسرائيل كان إذا سرق فيهم الشريف تركوه وإذا سرق فيهم الضعيف قطعوه لو كانت فاطمة لقطعت يدها

Artinya: "Hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha: Diceritakan bahwa seorang wanita dari Bani Makhzum mencuri. Para sahabat bertanya, "Siapa yang berani berbicara kepada Nabi saw tentang hal ini?" Tidak ada yang berani berbicara kepada beliau. Kemudian Usamah bin Zaid menceritakan kepada Nabi, lantas Nabi bersabda;  "Dahulu di kalangan Bani Israil, jika orang terhormat mencuri, mereka akan dibiarkan. Tapi jika orang lemah yang mencuri, tangannya akan dipotong. Seandainya Fatimah yang mencuri, niscaya tangannya akan dipotong."

Dengan memahami hadits tentang Bani Israil, kita dapat memetik hikmah dan pelajaran penting untuk kehidupan. Kita diingatkan agar selalu bersyukur atas nikmat Allah swt, patuh terhadap perintah-Nya, dan menjauhi perbuatan yang dapat mendatangkan murka-Nya.


Editor: Muhammad Faizin
logo