Umar bin Abdul Aziz, Buah Apel, dan Godaan Jabatan

Umar bin Abdul Aziz, Buah Apel, dan Godaan Jabatan

Arina.id - Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai pemimpin yang sangat menjunjung tinggi kesederhanaan dan menjauhi kemewahan. Ia memilih hidup bersahaja dan menghindari fasilitas mewah istana. Pernah suatu ketika, ia menahan diri untuk menikmati buah apel hanya karena menyadari bahwa dirinya tidak memiliki cukup uang untuk membelinya.

Suatu hari Umar bin Abdul Aziz menginginkan makan buah apel, ia pun meminta beberapa orang untuk membelikannya. Namun, sebelum mereka sempat pergi, ia tiba-tiba membatalkan permintaannya setelah teringat pada keadaannya yang tak memiliki uang untuk membeli buah tersebut.

Tidak lama kemudian, Umar bin Abdul Aziz bersama beberapa ajudannya melakukan perjalanan untuk memantau kondisi rakyatnya. Saat melewati sebuah biara, dua pemuda yang melihat kedatangan Sang Khalifah keluar membawa sepiring makanan yang berisi buah apel.

Umar bin Abdul Aziz pun mendekati piring tersebut, mengambil satu apel, mencium aromanya, lalu mengembalikannya kepada pemuda itu.

“Masuklah ke biaramu. Aku tidak tahu apa yang kalian bawa pada salah satu sahabatku,” ucap Umar bin Abdul Aziz kepada pemuda itu.

“Wahai Amirul Mukminin, sebelumnya engkau menginginkan apel namun tidak mendapatkannya. Saat ini, ketika apel itu sudah di depan mata, kenapa engkau menolaknya?” tanya sang ajudan.

“Aku tidak membutuhkannya,” jawab Umar singkat.

Ajudan itu pun mengingatkan bahwa Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab pernah menerima hadiah dari orang lain. Mendengar hal itu, Umar bin Abdul Aziz menegaskan bahwa pemberian kepada Rasulullah dan sahabat-sahabatnya itu adalah murni hadiah. Sementara baginya dan bagi pejabat-pejabat yang ada di lingkungannya, pemberian itu bukanlah hadiah melainkan suap.

“Bagi Rasulullah dan sahabatnya itu adalah hadiah, tetapi bagi pegawai setelah mereka, ini bisa menjadi suap,” tegas Umar.

Kisah ini diambil dari Kitâbut Thabaqâtil Kabîr (Kairo, Syirkah Dauliyah lit-Tibâ‘ah, 2001: VII/367) karya Muhammad bin Sa‘d Muni' Az-Zuhri. Kisah ini memberikan pelajaran penting, terlebih bagi para pemimpin dan pejabat pemerintahan agar bisa menahan diri dari berbagai keinginan dan dorongan syahwat.

Sebagaimana diketahui, dalam diri manusia terdapat syahwat yang mendorong dan menggoda  manusia untuk menikmati berbagai kenikmatan duniawi. Jika tidak mampu mengendalikan, dorongan syahwat ini akan menjerumuskan seseorang pada perbuatan tercela, misalnya korupsi, mencuri, dan berbagai kejahatan lain demi memuaskan keinginan tersebut.

Selain itu, kisah ini juga bisa menjadi pengingat bagi para pemimpin untuk berhati-hati dalam menerima pemberian dari orang lain. Selain untuk menghindari potensi penyalahgunaan jabatan, pemberian tersebut juga bisa menjadi penghalang untuk bersikap objektif serta bisa memengaruhi terhadap kebijakan atau keputusan yang akan diambil. Wallahu a'lam bis shawab.


Editor: Muhammad Faizin
logo