Kisah Kurma Maryam, Jurus Sehat Cegah Baby Blues

Kisah Kurma Maryam, Jurus Sehat Cegah Baby Blues

Akhir-akhir ini kasus ibu pasca-melahirkan yang menganiaya bayinya semakin kerap terjadi. Miris mendengarnya, tetapi fenomena ini terus berulang dan seakan tidak dapat dihilangkan. Fenomena ini dikenal dengan baby blues, yakni keadaan seorang ibu mengalami tekanan jiwa setelah melahirkan bayinya.

Bagaimana upaya pencegahan untuk baby blues? Adakah tuntunan Islam dalam Al-Qur'an agar terhindar dari baby blues? Apakah ada relevansi ilmiah dari bahan alami yang disebutkan oleh ulama Islam dalam mengantisipasi baby blues?

Di dalam Al-Qur'an Surat Maryam, ada kisah menarik ketika menjelang kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai berikut:

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا، فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا، فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا، وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا، فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا. (سورة مريم: ٢٢ - ٢٦)   

Artinya: 
"Maka Maryam mengandung, lalu ia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan, lagi dilupakan.” Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini" (QS Maryam: 22-26)

Bukanlah suatu kebetulan ketika kisah di atas menyebutkan tentang buah kurma masak yang dikonsumsi oleh Sayyidah Maryam. Buah kurma yang baru masak atau dikenal dengan istilah rutab ini memang sangat bermanfaat untuk ibu hamil, ibu yang hendak melahirkan, hingga masa nifas.

Rutab sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas adalah bentuk buah kurma yang sudah masak tetapi belum dikeringkan. Berbeda dengan tamar atau kurma kering yang biasa ditemui untuk buka puasa di Indonesia, rutab adalah benar-benar bentuk buah segar ketika kurma baru masak di pohonnya. Di Indonesia, biasanya rutab dijumpai dalam bentuk cair atau dikenal sebagai sari kurma oleh masyarakat.

Menurut Hakim dan Ismail dalam bukunya, penyebutan rutab untuk wanita di masa nifas ada di dalam Tafsir Ma’alimut Tanzil atau Tafsir Al-Baghawi. Para ulama menjelaskan bahwa kurma adalah makanan pilihan ketika masa nifas atau masa setelah melahirkan (Hakim dan Ismail, 2020, Thibbun Nabawi: Tinjauan Syariat dan Medis, Gema Insani, halaman 147-148). 

Uniknya, dalam buku tersebut ternyata disebutkan juga bahwa kurma yang berbentuk rutab bermanfaat dalam proses persalinan. Rutab mengandung zat yang memiliki efek memperkuat kontraksi rahim sehingga dalam beberapa penelitian dikatakan bisa mengurangi jumlah darah yang keluar setelah masa persalinan.

Berdasarkan penelitian dan pengetahuan tentang farmasi, rutab mengandung zat kima alami yang bernama Pitocin. Pitocin ini sejenis hormon oksitosin yang dapat merangsang proses persalinan dan memberikan manfaat ketika masa nifas. Oleh karena itu, kisah persalinan Sayyidah Maryam yang melahirkan Nabi Isa dan saat itu mengonsumsi rutab sangat relevan dengan bukti ilmiah.

Ketika menjelaskan tafsir kalimat rutab yang dalam konteks pasca persalinan atau masa nifas, Imam Al-Baghawi memberikan petunjuk atas khasiat rutab sebagai berikut:

ما للنفساء عندي خير من الرطب ، ولا للمريض خير من العسل

“Makanan terbaik bagi wanita nifas adalah kurma dan makanan terbaik bagi orang sakit adalah madu.” (Al-Baghawi, Tafsir Al-Baghawi Ma’alimut Tanzil Juz 16, Darut Thayibah, Riyadh: halaman 227).

Ketika baby blues dialami oleh seorang ibu pasca melahirkan, maka periode itu berada pada masa nifas yang disertai dengan perubahan hormonal. Ibu yang baru melahirkan mengalami penurunan hormon estrogen sehingga rentan mengalami baby blues (Tosto dkk, 2023, Maternity Blues: A Narrative Review, J Pers Med, 13(1): 154).

Di sisi lain buah kurma mengandung zat yang mirip estrogen alami (McElroy dan Townsend, Medical Anthropology in Ecological Perspective, Edisi kelima, Westview press University at Bufalo: halaman 247). Sehingga ketika rutab dikonsumsi oleh ibu nifas maka dapat memperkecil terjadinya baby blues akibat kekurangan estrogen.

Idealnya, bayi yang ada di dalam kandungan harus mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ibunya. Ketika anak tidak mendapatkan kasih sayang dari ibunya sejak masa kehamilan, maka rentan mengalami stress. Masa-masa kehamilan ini merupakan periode yang penting untuk menyiapkan ketangguhan mental si anak.

Bila wanita hamil mengalami stress, maka hormon stress masuk ke kandungan dan ditelan oleh bayi. Hormon ini sangat berbahaya bagi otak bayi yang masih ada di dalam kandungan karena bersifat toksik. Pada akhir masa kehamilan inilah, mental ibu hamil perlu dijaga hingga siap menghadapi proses persalinan.

Setelah bayi lahir hingga usia 2 tahun lebih atau 1000 hari pertama, otak anak terus berkembang. Jika ada stress pada periode ini, seperti mendapatkan penganiayaan dari ibunya yang mengalami baby blues, maka otak anak pada rentang usia tersebut rentan mengalami atropi. Akibatnya, kelak ketika dewasa ketangguhan mentalnya berkurang.

Untuk membiasakan konsumsi kurma, kaum wanita yang baru berumah tangga dianjurkan untuk mengonsumsi kurma kering atau tamar. Kurma juga dianjurkan dikonsumsi wanita usia produktif agar mendapatkan manfaat untuk kesehatan reproduksinya. 

Konsumsi kurma kering atau tamar bagi kaum wanita dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena bermanfaat ketika wanita tersebut hamil. Di sisi lain, rutab atau kurma masak yang masih segar adalah makanan Sayyidah Maryam ketika nifas. 

Imam Adz-Dzahabi berkomentar bahwa seandainya berdasarkan ilmu dari Allah ada makanan yang lebih baik di waktu Sayyidah Maryam mengalami masa nifas, niscaya Beliau akan memakannya (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, Thibbun Nabawi, [Beirut, Dar Ihyail Ulum: 1990], halaman 88).

Berdasarkan manfaat yang banyak dari kurma bagi kaum wanita, selayaknya kaum muslimah menerapkannya untuk menunjang kesehatan reproduksi. Selain itu, konsumsi rutab di masa nifas juga dapat menjadi salah satu solusi untuk mengantisipasi baby blues. Wallahu a’lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Yuhansyah Nurfauzi
Apoteker dan Peneliti Farmasi. Alumni Madrasah Diniyah Ali Maksum PP Krapyak Yogyakarta, Program Studi S1 Farmasi-Apoteker UGM, Magister Farmasi ITB, dan Doktor Ilmu Farmasi UGM.


Editor: Kendi Setiawan
logo