Ketika Gubernur Salman Dikira Kuli Panggul Pasar

Ketika Gubernur Salman Dikira Kuli Panggul Pasar

Salman Al-Farisi adalah sahabat Nabi yang dikenal sebagai penggagas pembuatan parit dalam perang Khandak. Semasa hidupnya, pria berkebangsaan Persia ini pernah menjabat sebagai Gubernur (Amir) Madain yang bijaksana dan zuhud.

Khalid Muhammad Khalid dalam kitab Ar-Rijalu haular Rasul (Beirut, Darul Fikr: 2000) halaman 40 mengisahkan, suatu hari Salman Al-Farisi "blusukan" ke daerah dengan berpakaian sederhana untuk meninjau kehidupan rakyatnya.

Saat berjalan, tiba-tiba datang seorang pria yang terlihat kelelahan karena membawa 2 karung berisi buah tin dan kurma. Tanpa basa-basi, pria ini langsung menarik Salman dengan kasar karena mengira Salman hanya tukang kuli panggul pasar. Ia kemudian meminta Salman memanggul karung itu sampai ke rumahnya.

Pria ini tidak mengetahui bahwa orang yang disuruh mengangkut karung itu adalah seorang pemimpin negeri yang juga sahabat Nabi. Namun, Salman mengangkut karung dengan senang hati karena bisa membantu orang lain yang kelelahan.

Di tengah jalan, Salman bertemu dengan rombongan yang mengenalinya. Tentu saja mereka memberi penghormatan kepada Salman.

"Assalamualaikum, wahai Gubernur," ucap mereka.

Pria Syam ini kebingungan dan dalam benaknya muncul pertanyaan: "Ditujukan kepada siapa salam tersebut?" Kebingungannya semakin bertambah ketika dia menyaksikan rombongan ini begitu menghormati "tukang panggul" yang ada di hadapannya.

Tidak lama kemudian dia baru menyadari bahwa orang yang dikira tukang panggul itu adalah Salman Al-Farisi, seorang pemimpin negeri dan juga sahabat Nabi. Tanpa menunggu lama, pria Syam ini langsung merebut karung yang ada di tangan Salman.

"Maafkan aku tuan, aku tidak tahu bahwa engkau adalah gubernur, aku kira engkau adalah tukang panggul. Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap pria Syam ini.

Sambil tersenyum, Salman kemudian menjawab: “Tidak apa-apa, tuan. Biarkan saya memikul karung ini sampai ke rumah tuan” ucap Salman.

Demikian kisah teladan dari Salman Al-Farisi yang layak ditiru oleh para pemimpin negeri. Idealnya, seorang pemimpin memiliki kasih sayang kepada orang lain, terlebih kepada rakyatnya sendiri. Kasih sayang ini diperlukan agar seorang pemimpin tidak membuat keputusan dan aturan yang bisa membebani rakyat. 

Seorang pemimpin juga diharapkan bisa tetap "low profil", sederhana, rendah hati, dan tidak berjarak dengan masyarakat. Jika sudah demikian, masyarakat pun akan mencintainya dengan tulus hati. Wallahu a‘lam.


Editor: Muhammad Faizin
logo