Kisah Imam Abu Hanifah, Ulama yang Tak Makan Ikan Sepanjang Hidup

Kisah Imam Abu Hanifah, Ulama yang Tak Makan Ikan Sepanjang Hidup

Nama Imam Abu Hanifah sangatlah populer di kalangan umat Islam. Beliau merupakan seoarang mujtahid muthlaq yang pendapat fiqihnya menjadi salah satu madzhab besar hingga hari ini dan diikuti oleh jutaan umat di dunia. Beliau dikenal dengan kecerdasan argumen fiqihnya yang disusun dengan kuat dan logis. Hingga beliau dijuluki imam ahlu ar ra’yi (komandan kaum rasionalitas).

Terkait kecerdasan beliau ini, Ali Bin Ashim pernah berkata dalam kitab Tarikh Baghdad karya Syaikh Khatib Al Bahgdadi sebagai berikut:

لو وزن عقل أبي حنيفة بعقل نصف أهل الارض لرجح بهم

Artinya: “Andai akal pengetahuan Abu Hanifah ditimbang dan dibandingkan dengan akal separuh penduduk bumi, niscaya ia mengungguli mereka semua.”

Selain dikenal sebagai seorang ulama dengan kecerdasannya, ada aspek yang jarang diketahui dari sirah Abu Hanifah. Hal itu tentang fakta bahwa Abu Hanifah merupakan ulama yang tidak pernah memakan daging ikan semasa hidupnya. Kisah tersebut terekam jelas dalam kitab Limadza karya Abdurrahman Bawa Bin Muhammad halaman 42:

لم ترك الإمام أحمد بن حنبل أكل الحوت مدة حياته؟

 إن أهل بيت الإمام احتاجوا إلى الخميرة، في حال العجن مرة، فطلبوا من بيت ولده، وكان قد تولى القضاء، ومن صلاحه وتقواه، يرقد عند بابه في الليل قائلا لعله احتاج إليَّ. ولما خبزوا انكشف للإمام أن فيه شبهة، فسألهم فحكوا له بالقضية. فامتنع من أكله وتبعوه ثم قالوا هل نعطيه للفقراء؟ قال نعم، ولكن بشرط إجلاء عيبه. فلم يأخذه الفقراء فرموه فى البحر من غير أمره. فلما اطلع على فعلهم امتنع من أكل الحوت مدةحياته رضي الله عنهم أجمعين

Artinya: ”Mengapa Imam Abu Hanifah tidak memakan daging ikan sepanjang hidupnya?. Kisah ini berawal dari istri Imam Abu Hanifah yang membutuhkan ragi untuk bahan pembuatan roti. Maka pergilah ke rumah keluarga putranya. Penghuni rumah Imam membutuhkan ragi, ketika diuleni sekali, maka mereka meminta dari rumah putranya, yang telah mengambil alih peradilan, dan karena kesalehan dan ketakwaannya, dia berbaring di depan pintunya pada malam hari sambil berkata, “Mungkin ibu membutuhkanku.”

Setelah sampai kembali dan ragi telah diperoleh, proses pembuatan roti pun dimulai. Selesai roti dibuat, dilihatlah oleh sang Imam Abu Hanifah. Dan dengan pandangan kewaliannya, tersingkap betapa roti itu mengandung perkara syubhat. Setelah ditanya mengapa dan apa sebabnya? Si istri bercerita asal muasalnya munculnya syubhat tersebut. Sebab itulah imam Abu hanifah enggan menkonsumsi. Terus dibuat apa roti syubhat ini? Tanya sang istri.

Berikan ke orang orang fakir tapi ceritakan aib yang ada pada roti tersebut jawab sang imam. Atas perintah sang suami si istri pun memberikannya kepada orang orang fakir dan menjelaskan aib roti tersebut. para fuqara enggan pula memakan roti tersebut dan membuangnya ke dasar laut. Perbuatan itu sampai di telinga sang imam. Dan sejak kejadian itulah beliau tidak pernah makan ikan sepanjang hayatnya.”

Demikian kisah Imam Abu Hanifah, ulama yang tidak makan ikan sepanjang hidupnya. Semoga bermanfaat Wallahu a’lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
logo