Arina.id - Tahun 2025 akan menjadi tantangan baru bagi masyarakat Indonesia, terutama dengan rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Kondisi ini diprediksi dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama dalam pengelolaan keuangan rumah tangga.
Di tengah situasi yang penuh tekanan ini, meneladani gaya hidup Rasulullah SAW yang penuh dengan kesederhanaan bisa menjadi solusi bijak untuk tetap bertahan dan menjalani hidup dengan tenang.
Rasulullah SAW, sebagai figur teladan kebaikan (uswah hasanah) bagi umat Islam, selalu menjalani kehidupannya dengan pola yang sederhana, jauh dari sikap berlebihan. Kesederhanan beliau sangat kontras dengan segala atribusi yang beliau miliki sebagai kekasih dan utusan Allah.
Dengan posisi ini, sangatlah mungkin Rasulullah mendapatkan gemerlap dunia dengan mudah. Beliau bisa saja meminta apapun kepada Allah SWT. Bahkan dalam sebuah hadits, Allah pernah menawari Rasulullah padang pasir kota Makkah akan Allah jadikan emas dan diberikan kepada Rasulullah:
قَالَ: عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا ، قُلْتُ: لا يَا رَبِّ وَلَكِنْ أَصْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا ، أَوْ قَالَ ثَلَاثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا ، فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُكَ. هَذَا حَدِيثُ حَسَنٌ).
Artinya: “Nabi SAW bersabda, “Allah menawariku padang pasir Makkah untuk dijadikan emas. Aku menjawab, "Tidak, wahai Tuhanku. Tetapi aku akan memilih kenyang sehari dan lapar di hari yang lain' (atau beliau bersabda tiga kali semisal ini). Sehingga jika aku lapar, aku dapat merasakan rendah diri di hadapan-Mu dan mengingat karunia-Mu. Jika aku kenyang, aku dapat bersyukur pada-Mu dan memuji-Mu." Ini adalah hadits hasan.” (Sunan At Turmudzi (Mesir; Dar Al Alamiyah, 2020), halaman 512)
Namun Rasulullah Saw tetap tidak cinta dunia, beliau lebih memilih hidup yang amat sederhana. Kesederhanaan belaiu juga bisa kita lihat dalam rumah tangga beliau bersama istri istrinya. Dalam kitab Al Tabaqah Al Kubra juz 1 halaman 388 Ibnu Sa’ad menulis:
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلِ الْمَرْوَزِيُّ قَالَ : أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ قَالَ : أَخْبَرَنَا حُرَيْثُ بْنُ السَّائِبِ قَالَ : سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ: كُنْتُ أَدْخُلُ بُيُوتَ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خِلَافَةِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَأَتَنَاوَلُ سُقُفَهَا بِيَدِي
Artinya: “Muhammad bin Muqatil al-Marwazi menceritakan pada kami dari Abdullah bin al-Mubarak, dari Huraist bin Sa'ib, dari al-Hasan al-Bashri yang berkata, “Aku pernah masuk ke kediaman istri-istri Nabi SAW pada era Khalifah Utsman bin Affan. Aku bisa menjangkau atap rumah mereka dengan tanganku."
Atsar dari Al Hasan Al Bashri ini mengeaskan kesederhanaan hidup Rasulullah SAW dan keluarganya. Rumah istri-istri Rasulullah digambarkan sangat sederhana, bahkan atapnya dapat dijangkau dengan tangan. Hal ini mencerminkan bahwa kehidupan Rasulullah tidak berfokus pada kemewahan duniawi, meskipun beliau memiliki kedudukan tinggi sebagai pemimpin umat Islam.
Pun juga tempat tidur Rasulullah SAW bukan kasur yang memanjakan saat tidur, beliau tidur di alas sederhana:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: إِنَّمَا كَانَ فِرَاشُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَنَامُ عَلَيْهِ أَدَمًا حَشْوُهُ لِيفٌ
Artinya: “Aisyah berkata, "Alas tidur Nabi SAW hanya terbuat dari kulit yang isinya serabut” (Sahih Muslim halaman 641)
Tak berhenti disitu, kesederhanaan Rasulullah SAW juga tercermin dalam soal makanan. Dalam banyak riwayat disebutkan Rasulullah merupakan sosok tipikal manusia sederhana bahkan sering merasakan lapar, dalama riwayat Siti Aisyah, diceritakan:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: مَا شَبِعَ آلَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِنْ خَيْرٍ شَعِيرٍ يَوْمَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ ، حَتَّى قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya: “Dari Aisyah, sesungguhnya ia berkata, “ Keluarga Nabi Muhammad SAW tidak pernah kenyang dari makan roti gandum selama dua hari berturut-turut sehingga beliau wafat.” (Dalail An Nubuwwah Fi Ma’rifah Ahwal Shahib As Syariyyah (Beirut: Dar Al Kutub Al Ilmiah 1998) juz 1 halaman 399)
Berbeda dengan zaman sekarang, di mana banyak orang cenderung memilih-milih makanan, bahkan tidak jarang membuang makanan yang tidak dihabiskan, kebiasaan menyia-nyiakan makanan sering terjadi, terutama di kafe atau restoran. Banyak orang merasa gengsi untuk menghabiskan makanan mereka karena khawatir dianggap rakus atau tidak elegan. Alhasil, makanan yang masih layak sering kali dibiarkan begitu saja hingga terbuang.
Hikmah Hidup Sederhana Ala Rasulullah
Dari teladan kesederhanaan Rasulullah ini kita bisa mempraktikannya di kehidupan sehari hari, salah satunya dalam menghadapi kenaikan PPN tahun 2025. Sehingga kita bisa hidup tanpa berlebihan, fokus pada apa yang benar-benar diperlukan, bukan sekadar memenuhi keinginan atau menjaga gengsi yang tidak hanya membebani keuangan, tetapi juga dapat menjauhkan kita dari keberkahan.
Dengan menjadikan kebutuhan sebagai prioritas utama, kita tidak hanya berhemat, tetapi juga menjalani hidup yang lebih tenang dan penuh makna.
Namun juga perlu diingat bahwa hidup sederhana ala Rasulullah bukan berarti mengajarkan umat Islam hidup sengsara. Hidup sederhana dan hidup sengsara adalah dua hal yang berbeda, dan Rasulullah SAW mengajarkan yang pertama. Wallahu a’lam bissawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin
