Selama 1.500 tahun Nabi Nuh berdakwah, tapi kaumnya tak kunjung beriman. Bahkan ia kerap mendapat intimidasi, caci maki, hingga kekerasan fisik. Perlakuan kurang ajar kaumnya itu membuat Nuh kesal dan menyumpahi mereka agar dibinasakan dari muka bumi. Allah pun mengirim banjir bah dahsyat untuk menyapu habis mereka. Sebagai seorang rasul tentu kita bertanya, bagaimana mungkin Nuh bisa berputus asa membimbing kaumnya?
Kisah perjuangan dakwah Nabi Nuh banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, pada surat dan ayat-ayat yang beragam. Kurang lebih terdapat 43 ayat Al-Qur’an berbicara tentangnya, seperti Ali Imran ayat 23, An-Nisa ayat 163, Al-An’am ayat 83, Al-A’raf ayat 59-69, At-Taubah 70, Ibrahim ayat 9, Al-Isra ayat 3-17, Maryam ayat 58, Al-Ambiya ayat 76, Al-Hajj ayat 42, Al-Mu’minun ayat 23, Al-Furqan ayat 37, Asy-Syura ayat 13, An-Najm ayat 52, Al-Qamar ayat 9, dan sebagainya.
Barangkali kisah dakwah Nabi Nuh cukup lengkap dan kronologis disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidāyah wan Nihāyah. Alasan Nuh diutus adalah untuk mengajak umat manusia yang sedang terjerumus dalam kemusyrikan. Ibnu Katsir menyebutkan ada dua pendapat faktor yang menyebabkan mereka terjerumus dalam lembah kesesatan ini.
Pendapat pertama menyebut sebab kemusyrikan itu adalah warisan dari akidah yang diturunkan oleh Qabil (putra Nabi Adam) kepada anak cucunya. Sebab, dulu saat depresi setelah membunuh saudaranya (Habil), Qabil diperdaya oleh iblis hingga menuhankan selain Allah. Ajaran sesatnya diwariskan secara turun temurun hingga mendapat banyak pengikut. Tentu, jika menghitung fase yang cukup lama jarak antara masa hidup Qabil dan Nuh -ribuan tahun-, sudah bisa dipastikan berapa umat manusia yang terpengaruh dengan ajaran menyimpang Qabil.
Sementara pendapat kedua mengatakan sebab kemusyrikan kaum sebelum Nuh bukan warisan dari Qabil, melainkan penyelewengan akidah yang dilakukan iblis kepada kaum ini. Disebutkan, masyarakat saat itu ditinggal oleh sejumlah orang saleh berpengaruh. Makamnya banyak yang menziarahi untuk mendoakan dan mengenang teladannya. Hingga sekali waktu ada iblis menyamar menjadi manusia dan membisiki mereka untuk membuat gambar yang mirip tokoh-tokoh panutan tersebut.
Harapannya, setiap melihat gambar-gambar itu, orang-orang akan selalu mengingat kesalehan para tokoh semasa hidup dan termotivasi untuk lebih giat beribadah. Langkah ini diikuti oleh semua masyarakat hingga di setiap rumah mereka ada gambar sang tokoh. Iblis kemudian membisikkan lagi kepada pereka agar tidak hanya dibuat gambar tetapi juga dalam bentuk patung. (Ibnu Katsir, 2009, vol. 1, h. 134-136)
Waktu berselang lama hingga berganti generasi demi generasi. Iblis pun membisiki generasi yang tidak tahu muasal dibuatnya patung, bahwa tiruan-tiruan itu sengaja dibikin untuk disembah. Sejak saat itu masyarakat mulai menyembah patung (berhala) yang diberi nama Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr, sesuai nama-nama tokoh mereka. Dalam Al-Qur’an disinggung,
وَقَالُوْا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًا ەۙ وَّلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًاۚ
Artinya, “Mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr.” (Nūḥ [71]:23)
Kelak, berhala-berhala itu akan tetap eksis sampai Nabi Muhammad diutus. Dalam hadits diriwayatkan,
عَنِ ابْنِ عَبَّاٍس قَالَ: صَارَتِ الْأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُـوحٍ فِي الْعَرَبِ بَعْدُ، أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ، وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ، وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجُرْفِ عِنْدَ سَبَإٍ، وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ، وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الْكَلَاعِ، أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ. فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمِ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ.
Artinya, “Berhala yang ada di negara Arab adalah warisan umat Nabi Nuh. Wadd menjadi milik Bani Kalb di Daumatul Jandal, Suwa' menjadi berhala Bani Hudzail, Yaghuts menjadi milik Bani Murad kemudian menjadi milik Bani Guthaif di Saba`, Ya'uq milik Bani Hamdan, sedangkan Nasr milik Bani Himyar dari keluarga Dzil Kala'. Semuanya merupakan nama-nama orang saleh dari kalangan Nabi Nuh. Ketika mereka binasa, setan berbisik kepada umat mereka, “Letakkan berhala-berhala itu di tempat perkumpulan mereka, dan panggil mereka dengan nama mereka.' Kemudian mereka melakukannya, dan pada saat itu belum disembah. Sampai mereka mati dan hilang ilmunya, semua berhala itu disembah.” (HR Al-Bukhari)
Nuh Diutus
Sebagaimana umumnya seorang rasul, Nuh pun diutus untuk membawa misi monoteisme dengan mengajak umatnya untuk meninggalkan praktik kemusyrikan. Umat manusia yang sedang tenggelam dalam kesesatan menyembah berhala harus segera diluruskan ke jalan yang benar. Misi Nuh ini ditegaskan dalam Al-Qur’an,
لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ.
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya". Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)” (QS. Al-A’raf [7]: 59).
Berkaitan dengan ayat ini, Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan, misi teologis yang dibawa Nuh adalah ajaran monoteisme dengan tiga tujuan utama, yaitu mengajak umat manusia untuk mengesakan Allah, menyeru mereka untuk membersihkan diri dari pengaruh kemusyrikan, dan berupaya agar tidak mendapat siksa di hari kiamat kelak. (Ar-Razi, 1981: vol. 14, h. 152)
Ulama berbeda pendapat tentang usia Nuh saat diutus. Ada yang mengatakan 50 tahun, ada pula yang menyebut 480 tahun. Nuh merupakan nabi yang mendapat predikat rasul kedua setelah Adam. Sebagaimana diketahui, status rasul hanya berlaku bagi para nabi yang memiliki umat untuk menerima dakwah mereka. Kecuali Adam, meski tidak memiliki umat tetap mendapat predikat tersebut karena sebagai penghormatan pada sosok manusia sekaligus nabi pertama. Jarak antara diutusnya Nuh dengan Adam sendiri berselang ribuan tahun. (Ibnu Katsir, 2009, vol. 1, h. 134)
Dakwah Nuh berjalan penuh liku. Seribu tahun lebih ia mengajak kaumnya, tapi hanya segelintir orang yang mau beriman. Bahkan, berbagai intimidasi, caci maki, hingga kekerasan fisik, kerap ia terima. Begitu sulit kaumnya diajak beriman, Nuh akhirnya “menyumpahi” kaumnya yang tidak beriman agar dibinasakan dari muka bumi. Hal ini sebagaimana doa Nuh yang disampaikan firman Allah berikut,
وَقَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ دَيَّارًا
Artinya, “Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (Nūḥ [71]:26)
Kelak di akhirat, umat Nuh pun masih tetap membuat kesal nabi mereka sendiri dengan menuduh Nuh tidak becus dalam berdakwah. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah,
يَجِيءُ نُوحٌ وَأُمَّتُهُ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى هَلْ بَلَّغْتَ فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ فَيَقُولُ لِأُمَّتِهِ هَلْ بَلَّغَكُمْ فَيَقُولُونَ لَا مَا جَاءَنَا مِنْ نَبِيٍّ فَيَقُولُ لِنُوحٍ مَنْ يَشْهَدُ لَكَ فَيَقُولُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمَّتُهُ فَنَشْهَدُ أَنَّهُ قَدْ بَلَّغَ.
Artinya, “(Pada hari kiamat) Nuh dan umatnya datang, lalu Allah bertanya, ‘Apakah kamu telah menyampaikan (ajaran)?’ Nuh menjawab, ‘Sudah, wahai Rabb-ku.’ Kemudian Allah bertanya kepada umatnya, ‘Apakah benar dia telah menyampaikan kepada kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tidak. Tidak ada seorang nabi pun yang datang kepada kami.’ Lalu Allah bertanya kepada Nuh, ‘Siapa yang menjadi saksi atasmu?’ Nuh menjawab, ‘Muhammad saw dan ummatnya.’ Maka kami (umat Islam)pun bersaksi bahwa Nabi Nuh telah menyampaikan risalah kepada umatnya". (HR Bukhari)
Pantaskah Nuh Putus Asa?
Mengapa Nuh seolah-olah putus asa? Padahal sebagai seorang rasul sudah semestinya ia memiliki kesabaran yang cukup kuat. Tidak mudah pesimis apalagi sampai menyumpahi kaumnya agar binasa. Kita bisa berkaca dari sikap Rasulullah saat dilempari batu oleh penduduk Thaif. Padahal malaikat sudah menawarkan diri untuk melemparkan gunung ke arah orang-orang Thaif. Tapi Rasulullah justru tak marah sedikitpun, bahkan mendoakan kebaikan untuk mereka. Respons beliau atas tawaran malaikat tadi,
لَا ،اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ، إِنِّي لَأَرْجُوْ أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَقُوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ.
Artinya, “Jangan (kau binasakan penduduk Thaif). Ya Allah, berilah kaumku petunjuk. Mereka hanya hamba-hamba yang tidak tahu. Aku berharap Allah memberikan mereka anak cucu yang mau mengucapkan lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan selain Allah).”
Menurut Muhammad Al-Amin asy-Syinqithi dalam tafsirnya, untuk menjawab kejanggalan ini, perlu kita pahami konteksnya. Antara Nabi Muhammad dengan Nabi Nuh berbeda. Dalam konteks Nabi Muhammad, beliau memang benar-benar tidak bisa memprediksi masa depan kaumnya, apakah kelak akan beriman atau tidak. Sehingga wajar jika beliau masih berprasangka baik dengan anak cucu kaumnya kelak.
Berbeda dengan Nuh. Ia betul-betul sudah yakin bahwa kaumnya tidak bisa diharapkan lagi. Bahkan ia sampai berkesimpulan bahwa kelak anak cucu mereka pun akan mengikuti akidah orang tuanya. Argumen Nuh ini bukan karena ia tidak sabar atau terburu-buru menyimpulkan. Ia sudah berdakwah selama 1.500 tahun. Waktu yang cukup lama untuk memahami watak asli kaumnya. Pendek kata Nuh sudah melakukan eksperimen cukup matang hingga akhirnya ia menilai akan lebih baik jika kaumnya yang tidak mau beriman dibinasakan, sehingga “rantai kekufuran” bisa terputus. (asy-Syinqithi, Adhwā’ul Bayān fī Tafsīril Qur’ān, vol. 8, h. 316)
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Faizin
