Arina.id - Bacaan istighfar merupakan salah satu zikir yang sangat dianjurkan untuk kita wiridkan setiap saat. Di antara faedah istighfar adalah bisa membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah diperbuat karena sebagaimana diketahui bersama, manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Sya’ban, sebagai salah satu bulan mulia dalam Islam, menjadi momen penting bagi umat Islam untuk memperbanyak zikir pengampun dosa ini. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki dalam Ma Dza fi Sya’ban menjelaskan:
الاستغفار من أعظم وأولى ما ينبغي على المسلم الحريص أن يشتغل به في الأزمنة الفاضلة التي منها: شعبان وليلة النصف، وهو من أسباب تيسير الرزق، ودلت على فضله نصوص الكتاب، وأحاديث سيد الأحباب، وفيه تكفير للذنوب وتفريج للكروب، وإذهاب للهموم ودفع للغموم.
Artinya, “Istighfar adalah amalan yang sangat utama dan sebaiknya menjadi kebiasaan bagi setiap Muslim yang ingin meraih kebaikan, terutama di waktu-waktu istimewa seperti bulan Sya'ban dan malam Nisfu Sya'ban. Istighfar juga menjadi salah satu sebab dimudahkannya rezeki. Keutamaan istighfar telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi. Selain itu, istighfar dapat menghapus dosa, menghilangkan kesulitan, meredakan kegelisahan, dan mengusir kesedihan.” (Sayyid Muhammad, 2003: 57)
Sayyid Muhammad menegaskan bahwa istighfar memiliki kedudukan yang sangat penting, terutama di bulan Sya’ban. Sebagai amalan yang dianjurkan, istighfar bukan sekadar doa pengampunan, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Ma Dza fi Sya’ban, Sayyid Muhammad menjelaskan bahwa istighfar dapat membuka pintu rezeki, menghapus dosa, serta membawa ketenangan hati bagi siapa saja yang mengamalkannya secara konsisten.
Dengan memperbanyak istighfar, seseorang dapat memperoleh keberkahan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, di pertengahan akhir bulan Sya’ban ini hendaknya bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan ibadah, khususnya dengan memperbanyak memohon ampunan kepada Allah, agar kita termasuk dalam golongan yang mendapat rahmat dan ampunan-Nya.
3 Keutamaan Membaca Istighfar
Saat menjelaskan anjuran perbanyak baca istighfar di bulan Sya’ban, Sayyid Muhammad mengutip sejumlah hadits Nabi untuk menjelaskan keutamaan-keutamaan zikir ampunan tersebut. Berikut adalah di antaranya.
1. Mempermudah urusan hidup
Salah satu keutamaan perbanyak membaca istighfar adalah kita akan dianugerahi kemudahan dalam semua urusan kehidupan, dijauhkan dari kesedihan, dan diberi kelancaran rezeki. Dalam satu hadits diriwayatkan:
عنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضِي اللَّه عنْهُما قَال: قالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: منْ لَزِم الاسْتِغْفَار، جَعَلَ اللَّه لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مخْرجًا، ومنْ كُلِّ هَمٍّ فَرجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ رواه أبو داود.
Artinya, “Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud).
2. Pengampunan dosa
Keutamaan perbanyak istighfar selanjutnya adalah menggugurkan dosa-dosa yang telah kita perbuat. Secara bahasa, istighfar sendiri adalah memohon ampun. Ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang menegaskan bahwa perbanyak membaca istighfar mampu menghapus dosa-dosa, sebanyak dan sebesar apapun dosa yang pernah kita perbuat. Tentu, agar dosa benar-benar dihapus, kita harus membacanya dengan sungguh-sungguh disertai tobat yang serius kepada Allah. Dalam satu hadits diriwayatkan:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: قَالَ اللهُ تبارك و تَعَالَى: “يَا ابْنَ آَدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فيك وَلا أُبَالِيْ، يَا ابْنَ آَدَمَ لَو بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ و لا أبالي، يَا ابْنَ آَدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لقِيْتَنِيْ لاَتُشْرِكُ بِيْ شَيْئَاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغفِرَةً” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحَيْحٌ.
Artinya, “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Allah Ta’ala berfirman, "Wahai anak Adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas segala dosa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosamu mencapai langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, lalu engkau menemui-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh itu pula." (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini hasan dan sahih).
3. Kebahagiaan di Hari Akhir
Kita semua pasti menginginkan kebahagiaan di Hari Akhir kelak. Ketika amal perbuatan ditimbang saat di hari pembalasan nanti, kita mengharapkan bobot amal baik lebih banyak dibanding amal buruk yang pernah kita lakukan. Salah satu cara untuk meraih keistimewaan ini adalah dengan memperbanyak baca istighfar. Dalam satu hadits diriwayatkan:
عن الزبير : أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال : " من أحب أن تسره صحيفته ; فليكثر فيها من الاستغفار " . رواه الطبراني.
Artinya, “Dari Az-Zubair, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang ingin catatan amalnya membahagiakannya, maka perbanyaklah istighfar di dalamnya." (HR. Thabrani).
Dalam At-Tanwir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, Ash-Shan’ani menjelaskan bahwa maksud catatan amal dari hadits di atas adalah laporan amal perbuatan kita saat hari kiamat. Kelak, tegas Ash-Shan’ani, istighfar yang kita baca selama di dunia akan menambah bobot amal baik kita di akhirat, sehingga amal buruk yang pernah kita lakukan jauh kalah berat. Dengan demikian, istighfar akan menjadi penolong kita di hari kiamat. (Ash-Shan’ani, tanpa tahun: juz 10, h. 41)
Mengingat hal tersebut, mari manfaatkan sisa-sisa bulan Sya’ban tahun ini sebagai momen untuk membersihkan diri dari segala bentuk dosa yang pernah kita perbuat. Dengan memperbanyak baca istighfar di bulan mulia ini, kita tidak hanya akan mendapat ampunan dosa, tetapi juga lebih siap menyambut bulan suci Ramadhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang suci sehingga bisa menjalankan puasa dan ibadah-ibadah di dalamnya lebih maksimal.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi
