Belajar dari Imam Malik dan Harun Al-Rasyid dalam Menyikapi Perbedaan

Belajar dari Imam Malik dan Harun Al-Rasyid dalam Menyikapi Perbedaan

Arina.id - Imam Malik bin Anas yang terkenal dengan julukan Imam Darul Hijrah adalah salah satu imam madzhab dalam fiqih Islam yang hingga kini pendapatnya masih dikaji dan dipraktikkan dalam ibadah umat Islam. Beliau memiliki deretan guru-guru yang sangat istimewa dan memiliki murid yang sukses seperti Imam Syafi’i yang juga merupakan salah satu dari Madzahibul Arba'ah (4 madzhab yang berpengaruh).

Imam Malik juga dikenal dekat dengan kekuasaan. Bukan sebagai bagian dari kekuasaan itu, tetapi sebagai ulama yang menjadi rujukan para penguasa terkait syariat Islam. Beliau juga penasihat para khalifah, seperti Khalifah Harun al-Rasyid yang meminta pertimbangan kepadanya ketika memiliki kehendak untuk membangun Ka’bah sesuai dengan konstruksi Abdullah bin Zubair.

Baha’uddin Abul Baqa’ Ibnu Dhiya mencatat dalam Tarikhu Makkah al-Musyarrafah wal Masjidil Haram wal Madinah al-Syarif wal Qabr al-Syarif [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2004, hlm. 112] sebagai berikut:

وَذكروا أَن ‌هَارُون ‌الرشيد سَأَلَ ‌مَالك بن أنس رضي الله عنه عَن هدمها وردهَا إِلَى بِنَاء ابْن الزبير للأحاديث فِي ذَلِك. فَقَالَ ‌مَالك: نشدتك الله يَا أَمِير الْمُؤمنِينَ أَن لَا تجْعَل هَذَا الْبَيْت ملعبة للملوك، لَا يَشَاء أحد إِلَّا نقضه وبناه، فتذهب هيبته من صُدُور النَّاس. هَكَذَا ذكر النَّوَوِيّ أَن السَّائِل لمَالِك بن أنس هُوَ ‌هَارُون ‌الرشيد

Artinya: "Para ulama menyebutkan bahwa Harun al-Rasyid bertanya kepada Imam Malik terkait merenovasi Ka’bah sesuai dengan kontruksi Ibnu Zubair atas dasar beberapa hadits. Imam Malik berkata aku memintamu atas nama Allah wahai amirul mukminin untuk tidak menjadikan Baitullah ini sebagai mainan penguasa, seseorang tidak menyukainya kecuali merusaknya dan membangun ulang, sehingga kehormatan Baitullah hilang dari hati masyarakat. Demikian yang ditulis oleh Imam Nawawi bahwa yang bertanya kepada Imam Malik adalah Harun al-Rasyid."

Kedekatan lain Imam Malik dengan penguasa era itu, seperti Harun al-Rasyid banyak dicatat oleh para ulama. Di antaranya ketika Harun al-Rasyid mengetahui dan tertarik dengan kemasyhuran kitab al-Muwattha’ karya monumental Imam Malik. Harun al-Rasyid berinisiatif untuk menjadikannya sebagai kitab hukum resmi negara.

Kisah ini penulis dapatkan dari Prof. Ahmed Mamdouh Saad, Mufti Darul Ifta’ al-Mishriyah, ketika mengikuti seminarnya di Universitas KH. Abdul Halim Pacet Mojokerto Ahad (28/12/2025). Penulis juga menemukan kisah ini di berbagai catatan ulama klasik, seperti Abu Na’im Ahmad bin Abdillah al-Ashbihani dalam Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya [Mesir: Mathba’ah al-Sa’adah, 1974, vol. 6, hlm. 332] sebagai berikut:

حدثنا سليمان بن أحمد - إملاء - ثنا المقدام بن داود ثنا عبد الله بن عبد الحكم قال سمعت ‌مالك بن أنس يقول: شاورني ‌هارون ‌الرشيد في ثلاث؛ في أن يعلق الموطأ في الكعبة ويحمل الناس على ما فيه، وفى أن ينقض منبر النبي صلى الله عليه وسلم ويجعله من جوهر وذهب وفضة، وفى أن يقدم نافع بن أبي نعيم إماما يصلي في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Artinya: "Sulaiman bin Ahmad bercerita dengan tulisan, al-Miqdam bin Dawud bercerita, Abdullah bin Abdul Hakam berkata, aku mendengar Malik bin Anas berkata: Harun al-Rasyid meminta pendapat kepadaku terkait tiga hal, yaitu; kitab al-Muwatha’ digantungkan di Ka’bah dan mewajibkan masyarakat untuk melaksanakan sesuai isinya, merenovasi mimbar Rasulullah dan dikontruksi ulang dengan permata emas dan perak, dan terkait Nafi’ bin Abi Na’im sebagai imam shalat di masjid Rasulullah."

فقلت:يا أمير المؤمنين؛ أما تعليق الموطأ في الكعبة فإن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم اختلفوا في الفروع وتفرقوا في الآفاق، وكل عند نفسه مصيب، وأما نقض منبر رسول الله صلى الله عليه وسلم واتخاذك إياه من جوهر وذهب وفضة فلا أرى أن تحرم الناس أثر النبي صلى الله عليه وسلم، وأما تقدمتك نافعا إماما يصلي بالناس في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم فإن نافعا إمام في القراءة، لا يؤمن أن تندر منه نادرة في المحراب فتحفظ عليه، قال وفقك الله يا أبا عبد الله.

Artinya: "Aku berkata: wahai amirul mukmnin, terkait menggantungkan kitab Muwattha’ di Ka’bah, maka sesungguhnya para sahabat Rasulullah berbeda pendapat dalam hal furu’iyah, dan mereka menyebar ke berbagai penjuru dunia, mereka berpendapat benar sesuai dengan pemahamannya. Terkait merenovasi minbar Rasulullah dan menggantikannya dengan perhiasan emas dan perak, maka aku tidak memandangnya sebagai bentuk penghalang kepada masyarakat untuk mendapatkan berkah Rasulullah. Terkait penawaranmu untuk Nafi’ bin Abi Naim menjadi imam sholat masyarakat di masjid Rasulullah, maka sesungguhnya Nafi’ adalah imam dalam studi qiraat, tidak menjamin aman akan bacaan yang asing di tempat pengimaman. Harun al-Rasyid menjawab: semoga Allah memberimu petunjuk wahai Abu Abdillah."

Dua kisah ini memberikan interpretasi bahwa Imam Malik adalah seorang ulama yang sangat menjunjung tinggi kebhinekaan dan perbedaan pendapat dalam satu harmoni persatuan. Beliau tidak bersikap esklusif terhadap fleksibilitas fiqih Islam dan menerima perbedaan pendapat orang lain.

Kedua kisah ini juga menunjukkan bahwa Imam Malik adalah sosok ulama yang visioner dan sangat memahami problematika politik dan kekuasaan, serta mampu mengambil keputusan yang tepat. Hal ini terlihat saat memberi fatwa untuk tidak merenovasi Ka’bah meskipun faktanya kontruksi Ka’bah sudah tidak sama seperti sedia kala. Fatwa itu beliau pertimbangkan untuk menutup pintu mafsadah agar tidak menjadi pencitraan politik para penguasa di kemudian hari. Wallahu a'lam.


Editor: Muhammad Faizin
logo