Kisah Nabi Isa Sakit dan Bukti Kekuasaan Allah

Kisah Nabi Isa Sakit dan Bukti Kekuasaan Allah

Sakit merupakan siklus kehidupan yang tidak hanya dialami oleh manusia biasa, seorang nabi pun bisa mengalami sakit, Nabi Isa misalnya. Dikisahkan, suatu hari Nabi Isa mengalami sakit, saat melintas di suatu tempat ada serumpun tanaman yang terdengar mengeluarkan suara dan memberi tahu Nabi Isa.

"Petiklah aku lalu makanlah, sesungguhnya kamu bisa sembuh dengan memakanku," bunyi suara yang bersumber dari rumput liar itu dan terdengar oleh Nabi Isa.

"Tidak! Sesungguhnya yang menyembuhkan itu adalah Allah, bukan kamu!" jawab Nabi Isa pada rumput yang ada di hadapannya.

Nabi Isa kemudian mengadu kepada Allah perihal rasa sakit yang ia alami. Tidak lama kemudian Allah memerintahkan Nabi Isa agar segera memakan rumput yang sebelumnya bersuara dan menyampaikan informasi. Atas izin Allah, Nabi Isa pun kemudian sembuh setelah mengonsumsi rumput tersebut.

Beberapa waktu kemudian, penyakit yang dialami Nabi Isa kambuh lagi. Merasa sebelumnya bisa sembuh dengan rumput, Nabi Isa pun langsung memetik rumput tersebut dan mengunyahnya. Namun tak disangka ternyata sakit yang didera Nabi Isa malah semakin menjadi.

Nabi Isa pun mengadu kepada Allah tentang rasa sakit yang ia alami. Allah kemudian berfirman:

"Wahai Isa, temuilah seorang tabib dan ikuti petunjuk yang diberikan olehnya,"

Tak menunggu lama, Nabi Isa pun menemui seorang tabib. Uniknya, tabib tersebut membuat resep dengan tanaman atau rumput yang sebelumnya dipakai Nabi Isa untuk berobat. Benar saja, setelah mengonsumsi rumput itu Nabi Isa jadi sembuh.

Peristiwa ini membuat Nabi Isa penasaran dan bertanya-tanya hingga akhirnya ia mengadu kepada Allah.

"Ya Allah, apa maksud semua ini?" ucap Nabi Isa.

Allah kemudian menurunkan wahyu kepada Nabi Isa:

“Wahai Isa, Aku menyembuhkanmu tanpa obat supaya kamu mengetahui tentang kekuasaan-Ku. Aku menyembuhkanmu dengan rumput liar itu supaya kamu mengetahui kebijaksanaan-Ku. Penyakitmu bertambah parah ketika mengonsumsinya supaya kamu bisa melihat kekuasaan-Ku. Setelah itu, Aku sembuhkan kamu melalui tabib supaya kamu mengetahui tingkat kerajaan-Ku. Akulah yang menyembuhkan dari apapun yang Aku mau dan dengan apapun yang Aku kehendaki.”

Dari kisah ini dapat dipetik sejumlah hikmah, di antaranya adalah bahwa kewajiban manusia hanyalah berikhtiar dan berusaha sesuai dengan kemampuannya. Adapun hasil akhirnya mutlak menjadi kekuasaan Allah yang sangat berkuasa untuk melakukan apapun dan kepada siapa pun yang Dia kehendaki.

Selain itu, kisah ini juga memberikan pelajaran bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, misalnya kesehatan, kekayaan, kesejahteraan, dan sebagainya, tidak cukup hanya dilakukan dengan ikhtiar lahir. Semua itu perlu diimbangi dengan ikhtiar batin, yaitu berdoa kepada Allah agar apa yang diinginkan bisa terwujud.

Kisah ini diungkapkan oleh Abu Hafs Umar bin Hasan An-Naisaburi As-Samarqandi, dalam kitab Nailul Hatsits fi Hikayatil Hadits, (Beirut: Darul Kutub al-Alamiyah, 2001) halaman 92. Wallahu a‘lam.


Editor: Muhammad Faizin
logo