Rabiul Akhir dalam Sejarah Nabi: Empat Peristiwa yang Mewarnai Perjalanan Islam

Rabiul Akhir dalam Sejarah Nabi: Empat Peristiwa yang Mewarnai Perjalanan Islam

Arina.id —Rabiul Akhir merupakan bulan keempat dalam kalender Hijriah. Dibandingkan Ramadan, Muharram, Rajab, atau Dzulhijjah, Rabiul Akhir mungkin tidak banyak mendapat perhatian dalam tradisi keislaman populer. Namun, sejumlah catatan sejarah Islam menempatkan bulan ini sebagai bagian dari perjalanan penting Rasulullah SAW dan para sahabat pada periode awal Islam.

Sejumlah peristiwa yang dicatat dalam literatur sirah antara lain ekspedisi Buhran, penyerangan terhadap sejumlah sahabat Nabi, beberapa misi yang dipimpin atau melibatkan Zaid bin Haritsah, serta pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum, putri Rasulullah SAW.

Catatan mengenai peristiwa-peristiwa tersebut terutama dapat ditemukan dalam literatur sejarah dan sirah Nabi. Salah satunya adalah kitab Ar-Rahiqul Makhtum karya Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuri.

Ekspedisi Buhran dan Strategi Nabi Menghadapi Ancaman

Salah satu peristiwa yang dikaitkan dengan Rabiul Akhir adalah ekspedisi Buhran pada tahun ketiga Hijriah. Rasulullah SAW memimpin langsung perjalanan tersebut setelah memperoleh informasi mengenai konsentrasi pasukan dari kabilah Sulaim di kawasan Buhran, wilayah Hijaz.

Ekspedisi tersebut tidak berkembang menjadi pertempuran terbuka. Rombongan Nabi SAW dan pasukan Muslim tiba di wilayah tersebut, sementara pihak yang dianggap menjadi ancaman memilih meninggalkan lokasi.

Menurut catatan Ar-Rahiqul Makhtum, Rasulullah SAW kemudian tetap berada di Buhran selama beberapa waktu untuk memastikan keadaan benar-benar aman sebelum kembali ke Madinah pada bulan Jumadal Ula.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa ekspedisi militer pada masa Nabi tidak selalu berakhir dengan pertempuran. Kehadiran pasukan juga berkaitan dengan upaya memastikan keamanan komunitas Muslim di Madinah dari ancaman yang telah terdeteksi.

Sepuluh Sahabat Diserang

Tiga tahun kemudian, catatan sejarah kembali merekam sebuah peristiwa berdarah yang berkaitan dengan aktivitas pengintaian.

Pada Rabiul Akhir tahun keenam Hijriah, Rasulullah SAW mengutus Muhammad bin Maslamah bersama sejumlah sahabat menuju Dzul Qishah. Misi tersebut dilakukan untuk memantau aktivitas Bani Tsa'labah yang dicurigai memiliki rencana terhadap umat Islam.

Namun, keberadaan rombongan itu diketahui oleh pihak yang mereka pantau. Dalam serangan yang berlangsung pada malam hari, sejumlah sahabat Nabi gugur. Muhammad bin Maslamah menjadi satu-satunya yang selamat dalam peristiwa tersebut.

Peristiwa itu menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah awal Islam mengenai risiko yang dihadapi para sahabat ketika menjalankan misi di luar Madinah.

Zaid bin Haritsah dan Misi Pengintaian

Nama Zaid bin Haritsah juga muncul dalam sejumlah catatan ekspedisi yang dikaitkan dengan Rabiul Akhir.

Pada tahun ketiga Hijriah, Rasulullah SAW mengutus Zaid bin Haritsah untuk melakukan pengintaian terhadap pihak yang dianggap berpotensi menjadi ancaman. Misi tersebut merupakan bagian dari rangkaian patroli sebelum terjadinya Perang Uhud.

Beberapa tahun kemudian, pada Rabiul Akhir tahun keenam Hijriah, Zaid bin Haritsah kembali mendapat tugas serupa. Kali ini ia memimpin rombongan menuju kawasan Jamum di Najd untuk memantau kabilah Bani Sulaim.

Ketika rombongan tiba, mereka tidak menemukan pasukan musuh di lokasi. Dalam ekspedisi tersebut, seorang perempuan bernama Halimah ditawan. Dalam perkembangan berikutnya, ia disebut dikembalikan kepada suaminya.

Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan bahwa pengumpulan informasi dan pemantauan situasi menjadi bagian dari strategi Rasulullah SAW dalam menghadapi dinamika keamanan di sekitar Madinah.

Utsman bin Affan Menikahi Ummu Kultsum

Rabiul Akhir juga tercatat dalam sejarah keluarga Rasulullah SAW melalui pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum binti Muhammad SAW.

Utsman sebelumnya menikah dengan Ruqayyah, putri Rasulullah SAW. Setelah Ruqayyah wafat, Utsman kemudian menikahi saudara perempuannya, Ummu Kultsum.

Al-Mawardi dalam Al-Hawi Al-Kabir, mencatat bahwa akad pernikahan tersebut berlangsung pada Rabiul Awwal, sedangkan resepsinya digelar pada Rabiul Akhir.

Pernikahan tersebut memiliki tempat khusus dalam sejarah Islam karena Utsman bin Affan menjadi satu-satunya sahabat yang menikahi dua putri Rasulullah SAW secara berturut-turut. Karena itu, ia kemudian dikenal dengan gelar Dzun Nurain, yang berarti “pemilik dua cahaya”.

Keempat peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Rabiul Akhir bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah. Dalam catatan sirah, bulan ini bersinggungan dengan berbagai episode perjalanan masyarakat Muslim pada masa Rasulullah SAW.

Ada ekspedisi yang berakhir tanpa pertempuran, ada sahabat yang gugur dalam menjalankan tugas, ada misi pengintaian yang menjadi bagian dari strategi keamanan, dan ada pula peristiwa keluarga Nabi yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah generasi awal Islam.

Bulan Rabiul Akhir juga dapat menjadi pintu untuk memahami bagaimana Rasulullah SAW menghadapi ancaman, mengelola keamanan komunitas, mengutus para sahabat menjalankan tugas, serta menjalani kehidupan keluarga di tengah dinamika masyarakat Madinah.


Editor: Muhammad Zunus
logo