Memaknai Keistimewaan Hari Asyura secara Filosofis

Memaknai Keistimewaan Hari Asyura secara Filosofis

Arina.id - Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram dikenal luas sebagai hari yang penuh keistimewaan dalam tradisi Islam. Banyak umat Islam berpuasa pada hari yang sarat dengan peristiwa sejarah ini. Namun, makna terdalam dari Asyura tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada filosofi yang mengajarkan kita tentang makna waktu dan anugerah Ilahi.

Menurut sebagian ulama, waktu pada dasarnya bersifat netral. Tidak ada satu hari pun yang secara hakiki lebih mulia dari yang lain. Tetapi Allah memilih untuk memberi nilai lebih pada hari-hari tertentu. Hari Asyura, hari-hari di bulan Ramadan, dan malam Lailatul Qadar, menjadi istimewa karena Allah melimpahkan pahala besar untuk amal yang dilakukan di dalamnya, bukan karena keistimewaan hakiki pada waktu itu sendiri.

Syekh Izzuddin bin Abdus Salam menjelaskan bahwa keutamaan waktu berasal dari limpahan karunia Allah yang diturunkan pada hari tersebut. Hari-hari seperti Asyura, Arafah, atau Jumat bukan mulia karena zat harinya, tetapi karena Allah membuka peluang pahala dan pengampunan lebih luas pada saat-saat itu. Maka, keistimewaan itu sebenarnya kembali pada kemurahan Allah. Berikut pernyataan Syekh Izzuddin:

اِعْلَمْ؛ أَنَّ الْأَمَاكِنَ وَالأَزْمَانَ كُلَّهَا مُتَسَاوِيَةٌ، وَيُفَضَّلَانِ بِمَا يَقَعُ فِيهِمَا لَا بِصِفَاتٍ قَائِمَةٍ بِهِمَا، وَيَرْجِعُ تَفْضِيلُهُمَا إِلَىٰ مَا يُنِيلُ ٱللَّهُ ٱلْعِبَادَ فِيهِمَا مِنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، فَإِنَّ لَهُ أَنْ يُعَاقِبَ بِغَيْرِ كُفْرٍ وَلَا عِصْيَانٍ، وَيُفَضِّلَ بِغَيْرِ طَاعَةٍ وَلَا إِيمَانٍ.

Artinya, "Ketahuilah, bahwa seluruh tempat dan waktu pada dasarnya sama. Keduanya menjadi istimewa karena apa yang terjadi di dalamnya, bukan karena sifat bawaan yang ada pada keduanya. Keistimewaan tempat dan waktu itu kembali pada limpahan anugerah dan kemuliaan yang Allah curahkan kepada hamba-Nya pada saat dan tempat tersebut. Allah berhak menghukum tanpa adanya kekufuran atau maksiat, dan memberi keutamaan tanpa adanya ketaatan atau keimanan." ('Izzuddin, tanpa tahun: juz 1, h. 45)

Jika direnungkan, pemaknaan ini menyampaikan pesan penting. Kita diminta untuk lebih menyadari keberadaan waktu, bukan karena waktu itu sakral, tetapi karena Allah memberi makna khusus padanya. Prinsip ini menyadarkan kita bahwa kehidupan sehari-hari bisa menjadi ruang spiritual jika kita mampu menjemput kesempatan amal dengan kesadaran yang utuh, termasuk saat datangnya Hari Asyura.

Syekh Ismail al-Haqqi dalam tafsir Ruh al-Bayan menyebut bahwa keutamaan itu memiliki banyak bentuk, mulai dari usia, tempat, keadaan, hingga waktu. Seorang yang berusia lanjut dan taat lebih utama dari yang muda. Shalat berjamaah lebih utama dari sendirian. Demikian juga amal pada hari Asyura lebih bernilai dari hari-hari biasa, walaupun pada dasarnya waktu itu tampak sama. Berikut kutipan pernyataan Syekh Ismail:

وَالتَّفَاضُلُ عَلَىٰ مَرَاتِبَ: فَمِنْهَا بِالسِّنِّ، وَلٰكِنْ فِي ٱلطَّاعَةِ وَٱلْإِسْلَامِ، فَيُفَضَّلُ ٱلْكَبِيرُ ٱلسِّنِّ عَلَى ٱلصَّغِيرِ ٱلسِّنِّ إِذَا كَانَا عَلَىٰ مَرْتَبَةٍ وَاحِدَةٍ مِنَ ٱلْعَمَلِ. وَمِنْهَا بِٱلزَّمَانِ، فَإِنَّ ٱلْعَمَلَ فِي رَمَضَانَ وَفِي يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ وَفِي لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ وَفِي عَشْرِ ذِي ٱلْحِجَّةِ وَفِي عَاشُورَاءَ أَعْظَمُ مِنْ سَائِرِ ٱلزَّمَانِ. وَمِنْهَا بِٱلْمَكَانِ: فَٱلصَّلَاةُ فِي ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْهَا فِي مَسْجِدِ ٱلْمَدِينَةِ، وَهِيَ (أَفْضَلُ) مِنَ ٱلصَّلَاةِ فِي ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَىٰ، وَهِيَ (أَفْضَلُ) مِنْهَا فِي سَائِرِ ٱلْمَسَاجِدِ. وَمِنْهَا بِٱلْأَحْوَالِ: فَإِنَّ ٱلصَّلَاةَ بِٱلْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ ٱلشَّخْصِ وَحْدَهُ، وَمِنْهَا بِنَفْسِ ٱلْأَعْمَالِ.

Artinya, "Keutamaan itu memiliki tingkatan-tingkatan. Di antaranya berdasarkan usia, namun dalam konteks ketaatan dan Islam. Maka, orang yang lebih tua usianya lebih utama dari yang muda jika keduanya berada pada tingkat amal yang sama. Keutamaan juga bisa berdasarkan waktu—sebab amal di bulan Ramadan, hari Jumat, malam Lailatul Qadar, sepuluh hari pertama Dzulhijjah, dan hari Asyura lebih besar nilainya dibanding waktu lainnya."

"Keutamaan juga berlaku pada tempat, shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada di Masjid Nabawi, dan itu lebih utama daripada di Masjid al-Aqsha, dan itu juga lebih utama dibanding masjid-masjid lainnya. Selain itu, ada keutamaan dalam kondisi, shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian. Dan juga ada perbedaan keutamaan dalam jenis amal itu sendiri." (Al-Haqqi, 2018: juz 3, h. 173)

Filosofi ini menumbuhkan semangat bahwa waktu bukanlah sekadar hitungan detik yang berlalu, tetapi wadah kemungkinan pahala dan kebaikan. Seseorang yang menyambut hari-hari istimewa dengan amal saleh, sebenarnya sedang menjalin hubungan yang lebih dalam dengan kemurahan Tuhan. Hari Asyura adalah momentum menjemput limpahan kebaikan itu, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Asyura juga memberi pelajaran bahwa waktu bisa memiliki kedalaman spiritual bila diisi dengan amal yang penuh makna. Bukan puasa itu sendiri yang membuat kita mulia, tapi kesadaran untuk menjadikan hari itu momen perenungan, berbagi, dan memperbaiki diri. Maka, setiap orang bisa memiliki pengalaman rohani yang sangat pribadi di dalamnya, tergantung niat dan kesungguhan hati.

Selain itu, memaknai hari Asyura secara filosofis mengajak kita memahami bahwa nilai-nilai spiritual bersifat dinamis. Artinya, keutamaan itu tidak bersifat statis, melainkan tergantung bagaimana kita mengisinya. Seseorang bisa saja mendapatkan pahala besar pada Asyura, sementara yang lain tidak, meski berada dalam waktu yang sama. Maka yang menentukan bukan waktunya, tetapi amaliah dan niatnya.

Dalam tradisi Islam, tidak hanya hari Asyura yang memiliki makna demikian. Hari-hari lain seperti sepuluh hari pertama Dzulhijjah, malam Jumat, dan bulan Ramadan juga membawa pesan yang sama. Allah memberi kesempatan emas dalam waktu-waktu tersebut untuk kita perbanyak ibadah, sedekah, doa, dan perenungan diri. Semua ini menunjukkan bahwa Allah membuka jalan kemuliaan bagi hamba-Nya lewat waktu.

Akhirnya, memaknai keistimewaan hari Asyura secara filosofis adalah tentang menyadari peran waktu dalam perjalanan ruhani kita. Waktu bukan sekadar lintasan, tapi ladang peluang. Dan Asyura menjadi pengingat bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya, terutama yang mau bersungguh-sungguh mengisi waktu dengan amal terbaik. Maka, jangan sia-siakan hari istimewa ini. Jadikan ia momentum untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta. Wallahu a'lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
logo