Dalam sejarah Islam, ada dua khalifah yang cukup masyhur di kalangan umat Islam, yaitu Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik. Meskipun dua khalifah ini hidup di zaman yang berbeda, namun ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah perjalanan hidup keduanya, terutama tentang perbedaan yang mencolok dalam warisan yang diberikan kepada anak-anaknya.
Hani Al-Hajj dalam kitab Alfu Qishatin (Kairo, Maktabah Taufiqiyah, t.t) halaman 8 mengisahkan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mempunyai 11 anak. Sebelum meninggal dunia, Umar bin Abdul Aziz tidak mewariskan kekayaan yang banyak pada mereka.
"Wahai anak-anakku, aku tidak memiliki banyak harta yang bisa kuwasiatkan kepada kalian," ucap Umar bin Abdul Aziz pada anak-anaknya.
Beberapa saat kemudian, anak-anak Umar bin Abdul Aziz ini diberi bagiannya masing-masing, sebagian ada yang mendapat setengah dinar, sebagian lagi mendapat seperempat dinar.
Tidak berbeda dengan Umar bin Abdul Aziz, Hisyam bin Abdul Malik pun memiliki 11 anak. Hanya saja, nasib mereka berbeda dengan anak-anak Umar bin Abdul Aziz, sebab setiap anak mendapatkan warisan jutaan dinar dari Hisyam bin Abdul Malik.
Namun demikian, sejarah mencatat perbedaan yang mencolok dari keturunan dua khalifah ini. Anak-anak Umar bin Abdul Aziz yang sebelumnya mendapat warisan tidak sampai satu dinar, mereka tumbuh menjadi pribadi yang kaya secara lahir dan batin. Bahkan, salah satu dari mereka mampu membiayai seratus ribu pasukan berkuda untuk berjihad di jalan Allah, anggarannya dari harta pribadi.
Sebaliknya, anak-anak Hisyam bin Abdul Malik yang dapat warisan jutaan dinar itu malah tidak ada satu pun yang meraih kesuksesan dalam hidupnya. Lebih dari itu, mereka justru hidup dalam keadaan fakir seolah-olah harta yang melimpah itu lenyap tak membekas.
***
Kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga, terutama bagi para orang tua, bahwa warisan yang paling berharga bagi anak-anak adalah iman, ilmu, dan akhlak mulia. Warisan harta yang melimpah tidak menjamin masa depan anak-anak bisa cerah dan bahagia, apalagi jika mereka tidak dibekali pendidikan yang kuat.
Kisah ini juga memberikan optimisme bagi orang tua yang hidup dalam keadaan sederhana, bahwa anak-anaknya kelak bisa menjadi orang sukses dan berkarakter jika sejak awal ditanamkan iman, ilmu, dan akhlak mulia. Sebaliknya, para orang tua yang hidup dalam kemewahan perlu waspada agar kekayaannya tidak sampai membuat anak menjadi manusia yang hanya bergantung pada harta. Wallahu a‘lam
Editor: Aiz Luthfi
